
Alya melakukan sholat istikharah sudah dua malam berturut-turut. Dia ingin memastikan yang terbaik untuknya menurut Allah. Tidak hanya ingin mendapat petunjuk jalan mana yang terbaik, gadis itu juga memohon kesembuhan untuk anak sang mantan.
Di hari kedua setelah melaksanakan sholat istikharah dan tahajjud, keadaan Mentari berangsur membaik. Gadis itu sudah menempati ruang rawat biasa, bahkan bayi itu mau makan dan banyak minum susu. Kabar baik ini juga diketahui oleh Alya karena setiap hari tidak pernah absen menjenguk.
Walaupun Alya menjenguk bayi itu lagi hari ini, dia tetap menomorsatukan kafenya. Menu baru tidak pernah kosong, selalu saja inovasi makanan yang dikreasikan pemilik kafe 'Rasha' itu. Di sela kesibukannya, gadis cantik berhati malaikat itu sengaja meluangkan waktu untuk menjenguk Mentari.
"Ma... ma... ma... maa!" jerit Baby Mentari dengan ceria saat Alya memasuki ruangan inap anak.
Mama Lis tersenyum ramah pada Alya yang baru saja memasuki kamar. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan ingin menggendong sang cucu, tetapi bayi itu menolak. Baby Mentari malah mengulurkan tangannya pada Alya.
"Duhh, Mentari! Maaf ya Nak Alya, anak ini malah jadi merepotkan," ucap Mama Listyawati merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Tante. Namanya masih bayi, yang dia tahu hanya ikut pada seseorang yang dirasa nyaman," sahut Alya setelah menyalami ibu Reno
Alya langsung menggendong Baby Mentari dengan hati-hati karena di tangannya masih tertancap jarum infus. Bayi itu tampak bahagia begitu berada dalam gendongan mantan pacar ayahnya. Alya sampai harus memegang erat bayi itu karena terus tertawa sambil bergerak.
"*Seandainya kamu melihat betapa bahagianya Mentari saat berada dalam gendongan Nak Alya, kamu pasti akan berjuang untuk mendapatkan dia, Reno," batin Mama Listyawati tersenyum getir.
Baby* Mentari terus tertawa selama dalam gendongan Alya, bahkan bayi itu tidak menangis saat disuapi makan dan diberi minum obat. Dia mudah sekali diurus oleh Alya. Setiap kata yang terucap dari mulut mantan pacar Reno itu ditanggapi dengan baik oleh bayi yang menginjak usia sepuluh bulan itu.
Alya berada di rumah sakit sampai sore karena lagi-lagi Baby Mentari tidak mau turun dari gendongan. Anak Reno itu bahkan tertidur dalam pangkuan sang mantan. Setiap akan diletakkan di ranjang bayi itu menangis dan berpegangan apa saja asal tidak turun dari gendongan.
"Mentari sama Eyang, ya. Mama mau ke kamar mandi dulu," bujuk sang nenek pada cucunya. Namun, lagi-lagi cucunya itu menolak uluran tangan sang nenek.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Tante. Dari pada nanti dia demam lagi, malah semakin lama sembuhnya," tukas Alya sembari menenangkan Baby Mentari yang menangis karena tadi sempat ditarik paksa oleh sang nenek.
"Tapi, Nak Alya, 'kan harus pulang mengurus kafe. Tidak mungkin juga Nak Alya di sini terus sedangkan Nak Alya belum menikah dengan ayahnya Mentari," sahut Mama Listyawati.
Alya hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu Reno yang terselubung itu. Dia hanya tidak ingin salah bicara, jadi tersenyum adalah jurus ampuh.
Tak lama kemudian, Reno datang bersama Rendra dan istrinya yang bermaksud menjenguk Mentari. Mereka bertiga terkejut saat melihat betapa lengketnya bayi itu pada Alya. Tak hanya sampai di sana, Alya pun dengan sabar dan penuh kasih menggendong Mentari.
"Sudah pantas, Al. Kapan nih kalian nikah? Aku tunggu undangannya," seloroh Rendra.
Ya, laki-laki itu kini sudah bisa menerima Pratiwi sebagai istrinya, bahkan sudah mulai bucin pada wanita yang dinikahi secara terpaksa itu. Perasaannya terhadap Alya, dia kubur dalam-dalam dan menjadikannya masa lalu.
Lagi-lagi Alya hanya tersenyum jika disinggung tentang pernikahan. Dia tidak mau menjawab karena pernikahan adalah rahasia Tuhan yang tidak dapat diprediksi.
"Al, aku minta maaf ya. Karena adikku kamu jadi trauma untuk membuka hati untuk laki-laki. Padahal, ada seorang laki-laki yang begitu tulus mencintaimu, bahkan laki-laki itu rela melepasmu asal kamu bahagia," ucap Pratiwi begitu ada kesempatan berbicara berdua, walau dengan Baby Mentari dalam gendongan.
Senyum itu tetap tidak bisa menutupi luka yang terlihat jelas di mata gadis itu. Walau harinya selalu diwarnai dengan senyuman, luka itu masih ada dan meninggalkan bekas. Rasa sakitnya pun kadang masih terasa hingga menyesakkan dada.
Rendra dan Pratiwi hanya beberapa menit saja di sana, mereka pulang setelah Mama Listyawati pamit pulang. Kini hanya tinggal Reno dan Alya yang menjaga Mentari. Mereka tampak seperti orang tua yang sedang menunggui anaknya.
Reno memanfaatkan kesempatan itu untuk menceritakan hubungannya dengan Anisah waktu itu. Dia tidak ingin Alya salah paham, mengira Anisah pacarnya betulan.
"Al, boleh aku berbicara sebentar. Aku harap kamu tidak menyela ceritaku nanti," ucap Reno dengan hati-hati takut menyinggung perasaan sang pujaan hati.
__ADS_1
Alya mengangguk mengiyakan karena saat ini bayi dalam gendongannya kembali mengucek mata tanda mengantuk. Bayi itu sepertinya kelelahan bercanda dengan mantan pacar sang ayah. Kini mata mungil itu mulai terpejam.
"Aku dan Anisah bertemu pertama kali saat di mall. Waktu itu aku hendak mencari pakaian dan sepatu untuk Mentari. Kami tidak sengaja bertabrakan karena sama-sama terburu-buru." Reno membuka ceritanya saat bertemu Anisah di sebuah mall.
"Itu pertemuan pertama, pertemuan kedua saat ibu Rendra meninggal. Di pertemuan itu aku tahu kalau dia adik wanita yang dijodohkan dengan Rendra. Sejak saat itu, keluarganya berniat menjodohkan aku dengan gadis itu tetapi aku tolak."
Reno menghirup udara dengan memejamkan mata lalu mengembuskan perlahan dengan mata terbuka.
"Aku menolak karena aku masih berharap bisa berjodoh denganmu. Sampai saat ini pun rasa itu tidak pernah hilang, malah semakin dalam. Walaupun rasa itu masih ada, aku tidak berani berharap banyak waktu itu. Aku yang seperti ini, apa pantas bersanding dengan wanita sebaik kamu?"
Alya menggeleng, menyangkal pujian dari sang mantan. Dia tidak merasa sebaik yang disangka Reno.
"Setiap kali bertemu Anisah, aku selalu memuji kamu agar dia menyerah mendekati aku. Namun, bukannya mundur malah mencelakai kamu. Sungguh menyesal rasanya ketika tahu dia begitu membenci dan bermaksud mencelakai kamu," ucap Reno lirih penuh penyesalan karena senjata makan tuan.
Ucapannya bak boomerang bagi Reno. Maksud hati ingin memukul mundur lawan, malah sang lawan menyerang titik kelemahannya. Sedih dan sakit itu yang dia rasakan saat melihat sang pujaan hati harus menjadi korban wanita yang tergila-gila pada laki-laki berseragam coklat itu.
"Aku sakit Al. Melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana dia bersikap seolah-olah dia yang tersakiti. Padahal kamulah yang tersakiti selama ini, sampai tak sanggup aku melihat itu."
*
*
*
__ADS_1
Mampir guys, kesini!