Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 21


__ADS_3

Rendra langsung menuju rumah sakit begitu mendengar kabar bahwa wanita yang melahirkannya harus dirawat di rumah sakit. Menurut cerita dari sang kakak, ibunya tiba-tiba jatuh pingsan saat akan makan malam.


Sekarang di sinilah laki-laki berusia dua puluh delapan tahun itu, di depan ruang ICU. Melihat beberapa alat medis menempel pada tubuh ibunya. Ibunya belum sadarkan diri sejak tiga jam yang lalu dan dinyatakan kritis.


Ada penyesalan dalam benak Rendra. Dia akan menjadi anak durhaka jika ibunya pergi belum bisa memaafkan dirinya yang melakukan perlawanan. Selain itu, pemuda itu merasa belum bisa membahagiakan orang tuanya.


"Ibu tadi siang ke Jogja, katanya mau ketemu kamu. Sepulang dari Jogja wajah ibu tampak pucat, saat ditanya hanya menjawab lelah. Pas mau makan malam, ibu tiba-tiba jatuh saat baru keluar dari kamar," cerita Raysa, sang kakak tanpa ditanya.


Pandangan wanita itu lurus ke depan, di mana ibunya sedang terbaring tak berdaya. Sebagai anak pertama, dia tahu betapa sang ibu sangat menyayangi anak-anaknya. Tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup menderita.


Ibu Rendra menjodohkannya dengan Pratiwi karena kepribadian gadis itu yang menyentuh relung hati wanita paruh baya itu. Selama ini, Pratiwi yang selalu menemani dia saat anak-anaknya sibuk dengan pekerjaannya.


Rendra tiga bersaudara, dia anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki keturunan Adi Nugraha. Setiap kemauan Rendra selalu dituruti karena mereka merajakan si anak laki-laki satu-satunya itu. Namun, semakin diikuti kemauannya dia tidak melihat pengorbanan sang ibu.


Ibu Rendra mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Selama melakukan kemoterapi selalu ditemani oleh Pratiwi. Semua sudah tahu penyakitnya kecuali Rendra.


Ibu Rendra sengaja merahasiakan itu karena tidak ingin melihat sang anak menjalani pernikahan atas perjodohan dengan sangat terpaksa. Wanita paruh baya itu hanya ingin anaknya bahagia beristrikan wanita yang lemah lembut dan berkepribadian baik.


Pagi hari, ibu Rendra sadar. Saat membuka matanya, orang yang dicari pertama kali adalah Rendra, sang anak kesayangan.


"Ibu ingin melihat kamu menikah, waktu ibu tidak lama lagi," ucap ibu Rendra dengan terbata.


Mendengar hal itu, ayah Rendra, Adi Nugraha, langsung menghubungi penghulu juga keluarga Pratiwi Suryanegara. Tidak hanya itu saja, beberapa keluarga yang aka. menjadi saksi pernikahan itu pun juga dihubungi agar segera datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Rendra yang masih syok saat dokter mengatakan hanya keajaiban Tuhan yang menolong ibunya. Sebisa mungkin membuat pasien bahagia dan mengabulkan permintaannya. Siapa tahu itu adalah permintaan terakhir dari ibu Rendra.


Satu jam kemudian, Rendra telah sah menjadi suami Pratiwi. Walau hanya pernikahan dadakan dan sederhana, pernikahan itu ternyata sudah didaftarkan di KUA sebelumnya. Kedua pihak keluarga melakukan hal itu karena melihat keadaan Ratih Adi Nugraha yang semakin lemah.


Sore hari selepas Ashar, mesin EKG berbunyi nyaring. Di layar monitor menunjukkan garis lurus. Tak lama kemudian, dokter menyatakan bahwa pasien telah meninggal pada jam tiga sore lebih lima menit.


Sementara itu, Alya tetap bekerja seperti biasa. Hatinya yang sakit dia tutupi dengan banyak bergabung dengan teman-teman sekantornya. Dia sengaja menunda pertemuan dengan para klien hari ini, demi kewarasan hati.


"Al, mana cincin kamu? Perasaan Jum'at kemarin masih kamu pakai deh," tanya salah seorang rekan kerja Alya.


"Hah?" Alya memasang wajah terkejut juga panik agar mereka tahunya cincin itu hilang tanpa Alya sadari. Walau sebenarnya hatinya menangis mengingat cincin itu.


"Masak cincin segitu besarnya tidak terasa kalau hilang?"


"Diingat-ingat dulu, dimana terakhir kali kamu lepas cincin itu?"


Alya melencos, hatinya semakin berdenyut nyeri. Pura-pura bahagia ternyata begitu sakit. Apakah dia sanggup hidup selalu pura-pura bahagia padahal hatinya hancur berkeping-keping?


Sore harinya, Alya memilih pulang lebih awal untuk menjaga kewarasan otaknya. Dia tidak tahan harus berpura-pura bahagia sepanjang hari. Gadis itu tidak langsung pulang ke kafe, melainkan menyusuri jalan Malioboro.


Sendiri berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan wisawatan, baik dari dalam maupun luar negeri. Alya bisa melupakan sejenak rasa sedihnya. Gadis itu tersenyum tipis kala melihat tingkah pengamen saat menyanyikan lagu yang terdengar lucu menurutnya.


Kala langit telah menunjukkan senja, Alya kembali ke tempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Waktunya dia pulang, kembali merasakan kesakitan melepas sang kekasih hati. Walaupun begitu, gadis itu berusaha tetap bahagia karena sudah tahu kunci mencintai seseorang.

__ADS_1


Seperti ucapan Rendra saat sebelum menjadi kekasihnya, jangan terlalu dalam mencintai seseorang, nanti kamu kecewa. Kata-kata itu yang dia tanamkan dalam hatinya sehingga sakitnya perpisahan tidak lagi mempengaruhi aktivitas yang dia lakukan.


Alya kembali mengulas senyum saat memasuki kafenya. Kafe yang menjadi saksi bisu, jatuh bangunnya seorang Alya Khaneshia dalam menjalin asmara.


"Mbak, tadi mas polisi datang ke sini. Katanya, ibu bang Rendra meninggal," ucap Murni, salah satu karyawannya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Kapan meninggalnya?" sahut Alya terkejut mendengar kabar itu, padahal kemarin siang mereka baru saja bertemu.


Terkejut itu pasti karena mereka tidak pernah bersinggungan, tiba-tiba bertemu dan mengeluarkan ancaman yang menusuk hati. Baru kemarin ibu itu memintanya menjauhi sang anak karena sudah dijodohkan dengan sahabat sang ibum


"Kata mas pol, jam tigaan gitu. Besok pagi kebuminya, nunggu anak kedua yang kuliah di luar negeri. Begitu kata mas pol tadi sebelum pergi," jelas Murni tanpa mengurangi atau melebihkan cerita.


Alya langsung menghubungi Reno karena dia tahu, karyawan mereka sejak dulu manggil Reno dengan sebutan mas pol. Memanggil Rendra bang pol, mereka mengikuti panggilan Alya pada dua orang itu.


Ternyata Reno belum berangkat ke kediaman Adi Nugraha. Duda anak satu itu akan berangkat ke rumah duka bersama teman-teman di kesatuan, sebagai wujud jiwa korsa mereka. Dia juga menawari Alya untuk ikut serta, tetapi ditolak gadis itu.


"Sampaikan salamku saja, maaf tidak bisa datang melayat. Aku sudah terlanjur membuat janji dengan para klienku. Aku tidak mungkin mengundur lagi jadwal pertemuan kali ini karena ini sudah kali kedua aku melewatkan jadwal pertemuan," jelas Alya jujur apa adanya.


Nanti malam dia harus kembali menemui kliennya. Sang klien tidak mau masalahnya terlalu lama ngangkrak tanpa adanya kepastian. Sudah tiga bulan, kliennya itu harus kembali menelan kekecewaan kalau dia undur lagi waktu pertemuan itu.


Alya bergegas ke kamarnya untuk mandi karena merasa gerah. Gadis itu masuk dalam bathtub lalu berendam selama tiga puluh menit untuk menetralkan degup jantungnya.


"Maafkan Alya, tante. Tidak ada niatan Alya untuk memisahkan tante dengan anak kesayangan tante. Mungkinkah jalan hidupku harus begini?" gumam Alya lirih.

__ADS_1


__ADS_2