Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 27


__ADS_3

Sudah dua minggu Alya berada di Semarang, di kediaman orang tuanya. Sang bunda sengaja membawanya pulang ke rumah untuk memulihkan kondisi psikis anak gadisnya itu. Walau tampak baik-baik saja, jiwa sang anak sangat terguncang.


Diculik dan sempat dilecehkan, serta akan dibunuh meninggalkan trauma pada si korban. Alya memang tidak pernah mengeluhkan apapun, tetapi saat dia tidur mimpi buruk itu selalu datang menghantui.


"Bunda, kok aku pengen main ke rumah Oma Gita. Apa kabar mereka sekarang?" ujar Alya bertanya-tanya.


"Kalau kangen tinggal telepon terus datangi beliau. Nggak usah bingung, Nduk," jawab Shofie sambil tersenyum.


Tanpa menunggu lama, Alya langsung menghubungi adik angkat sang nenek. Walaupun kakek dan neneknya telah tiada, Alya dan adik-adiknya, beserta sepupu masih menjalin hubungan kekeluargaan dengan baik. Mereka sudah seperti keluarga sendiri walaupun tidak tinggal berdekatan.


Setengah jam kemudian, setelah menghubungi sang nenek angkat, Alya mencari keberadaan ibunya. Gadis itu ingin meminta izin untuk berkunjung ke rumah nenek angkatnya. Tadi, sewaktu telepon sang nenek memintanya untuk datang.


"Bun, kata Nek Gita kita suruh main ke Surabaya. Kita ke sana yuk, Bun! Sekalian ke rumah pakde," ujar Alya begitu menemukan keberadaan sang ibu di dapur.


"Bunda tidak bisa keluar kota untuk minggu-minggu ini. Anak-anak kelas dua belas akan ada try out gabungan dengan sekolah rekanan. Setelah ujian kelulusan nanti Bunda baru bisa keluar kota," jelas Shofie dengan wajah penuh penyesalan.


"Yaah, sayang sekali. Kata Nek Gita, Om Bryan kebetulan pulang dari Melbourne, seminggu lagi dia balik ke sana. Kesempatan ketemu cuma kali ini, Bun," sahut Alya kecewa, gadis itu ingin sekali bertemu dengan anak bungsu nenek angkatnya.


Alya dan Bryan dulu sangat dekat, bahkan kedekatan mereka melebihi saudara kandung. Bryan selalu melindungi dan membela Alya kecil. Apapun akan dia lakukan demi gadis kecil itu merasa nyaman.


Mereka berpisah saat Bryan memutuskan untuk kuliah sambil mengurus usaha orang tuanya di Melbourne. Belasan tahun tidak bertemu membuat Alya begitu merindukan laki-laki yang berwajah bule itu. Oleh karena itu, dia ingin sekali pergi ke Surabaya untuk sekedar bertemu dengan om gantengnya.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Alya akhirnya berangkat ke Surabaya menggunakan jasa travel malam itu juga. Raka dan Shofie melepaskan kepergian sang anak dengan berat hati. Mereka harus mengizinkan anaknya ke Surabaya sendiri agar sang anak bisa melupakan kejadian yang telah dialami.


Sementara itu, di kota Solo tepatnya di rumah orang tua Reno. Laki-laki itu sedang mendengarkan nasehat dari ayah dan ibunya terkait wanita yang selama ini dekat dengan dia.


"Kenapa semua wanita yang dekat sama kamu ndak ada yang beres to, Le? Si Aluna memiliki dua kepribadian yang sering buat Mama was-was tidak tenang. Aluna pergi datang si Anisah yang awalnya Mama kira baik, ternyata psikopat. Hufftt!"


Mama Listyawati menghela napasnya kasar sambil memijit pelipisnya. Kepala wanita paruh baya itu serasa mau pecah memikirkan anak laki-laki kesayangannya. Dia memang membebaskan sang anak untuk memilih pasangannya sendiri, tetapi bukan seperti ini yang diinginkan oleh ibu tiga anak itu.


"Sebenarnya dari semua yang dekat sama kamu, Mama lebih suka sama Nak Alya. Sayangnya dia tidak berjodoh denganmu. Bagaimana mau berjodoh, lha wong dirimu tidak ada inisiatif buat melamar...."


"Bukan nggak ada inisiatif, Ma!" potong Reno cepat.


"Kamu aja yang lelet! Begitu tahu Rendra sudah menikah, seharusnya kamu lamar dia bukan malah pacaran sama adik ipar Rendra. Sekarang gadis itu sudah seperti orang gila, apa kamu masih mau sama dia?"


"Kalau Mama dan papa merestui, Reno akan melamarnya," sahut Reno dengan semangat membara.


"Tidak semudah itu, Le! Apa dia bisa sembuh? Terus kalau keadaan dia seperti itu, apa bisa dia mengurus kamu dan Mentari?" tanya Mama Lis bertubi-tubi sehingga membuat semangat Reno redup seketika.


Dari pembicaraan itu, Reno mengambil kesimpulan jika orang tuanya berat menerima keadaan Alya yang sekarang. Sering menjerit ketakutan tanpa ada penyebab pasti yang orang lain tahu. Tak jarang juga gadis itu susah diajak berbicara.


Semua yang mama Lis lihat itu adalah kejadian beberapa waktu lalu saat Alya masih dirawat di rumah sakit. Padahal, keadaan Alya yang sekarang jauh lebih baik. Hanya saja masih sering bermimpi buruk tentang kejadian itu.

__ADS_1


Selain sering bermimpi buruk, tidak ada lagi jerit ketakutan itu. Saat ini, gadis cantik itu sudah bisa bekerja seperti biasa. Akan tetapi, orang tuanya belum mengizinkan dia kembali ke Jogja.


Reno hampir setiap hari menyambangi kafe 'Rasha' hanya untuk sekedar mengetahui kabar tentang gadis yang masih memenuhi hati dan pikirannya. Walau tidak pernah bertemu dengan sang pujaan hati, Reno tetap mendatangi kafe itu. Pernah juga dia menanyakan alamat orang tua Alya, tetapi para karyawan itu tidak ada yang berani memberikan.


"Ma, Moreno yakin dia pasti bisa sembuh. Aku sendiri yang akan membuat dia sembuh dari traumanya itu. Karena kejadian itu berawal dari aku," jawab Reno yakin.


"Kalau kamu sudah yakin, kami hanya bisa memberikan restu saja. Tapi, kami butuh bukti bukan janji!" ucap papa Reno yang diangguki oleh istrinya.


Reno langsung meninggalkan orang tuanya begitu mendapat restu dari mereka. Dia akan membuktikan ucapannya itu nanti, setelah bisa menemui sang pujaan hati. Saat ini dia ingin menemui anaknya terlebih dahulu.


Berbeda dengan Reno yang merasa bahagia karena sudah mendapat lampu hijau dari orang tuanya, Rendra saat ini sedang lemas karena seharian harus membersihkan bekas muntahan sang istri. Sejak pagi sampai malam ini, Pratiwi selalu memuntahkan apa saja yang masuk ke dalam perutnya. Tak ada asisten rumah tangga di rumah itu, membuat Rendra kerepotan.


"Kita ke rumah sakit saja, ya? Biar kamu tidak dehidrasi. Sejak tadi kamu muntah terus sampai wajah kamu pucat begitu," bujuk Rendra pada sang istri.


"Aku tidak sakit, mungkin hanya masuk angin saja. Besok juga sembuh, ini minum air jahe sudah mendingan," tolak Pratiwi.


Rendra sangat khawatir dengan keadaan sang istri yang wajahnya tampak mayat hidup karena pucat. Wanita itu hanya meringkuk di atas kasur setelah memuntahkan cairan ke lantai. Dia bahkan tidak sanggup lagi berjalan menuju kamar mandi karena sudah sangat lemas.


Rendra bingung mau bertanya pada siapa tentang sakit sang istri. Setelah tenaganya pulih, laki-laki itu mengambil gawainya dan mulai berselancar di internet tentang penyakit sang istri. Beberapa menit kemudian wajahnya tampak berbinar usai membaca sebuah artikel.


"Yess!"

__ADS_1


__ADS_2