Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 13


__ADS_3

"Aku juga minta maaf jika ada salahku yang disengaja maupun tidak. Sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Kami baru saling mengenal, itupun tidak begitu dekat. Hanya sebatas kenal saja, mana mungkin saling menyakiti," sahut Alya seraya tersenyum manis.


"Manusia itu tempatnya khilaf, Al. Jadi, meminta maaf sebelum kita menyadari kesalahan itu lebih baik dari pada menunggu ditunjukkan salahnya baru meminta maaf," ujar Reno bijaksana, laki-laki itu belum berubah tetap bijaksana dan dewasa.


Alya tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa tertampar dan malu oleh ucapan mas mantan itu. Sikap bijaksana dan mengayomi itu tidak pernah luntur walau ingatannya menghilang.


Setelah acara kirim do'a selesai, Rendra dan Alya pamit pulang ke Jogja. Sebenarnya mereka berdua diminta menginap, tetapi ditolak karena pekerjaan mereka sudah menunggu untuk dikerjakan.


Sepeninggal Alya dan Rendra, orang tua Reno dan Aluna berkumpul di ruang tamu. Mereka sedang berkumpul membicarakan siapa yang akan mengurus bayi mungil, anak Reno dan Aluna.


"Bayi itu anakku. Jadi, dia akan tetap bersamaku walau aku harus rela memberikan waktuku lebih banyak untuknya. Aku akan mencari baby sitter untuk menjaga anakku selama aku bekerja," ucap Reno teguh pendirian, tidak ingin tinggal terpisah dengan seorang anak.


"Mengurus bayi itu tidak mudah, Reno! Kamu harus memikirkan kebahagiaan dan anakmu. Jangan keras kepalamu saja yang selalu kau agungkan!"


"Lagian, mencari baby sitter yang bisa dipercaya jaman sekarang itu bagaikan membeli kucing dalam karung. Tidak tahu bagaimana sifat aslinya, penyayang atau tidak. Takutnya anakmu malah disiksa!"


Ibu dan mertuanya menasehati Reno agar anaknya diasuh oleh mereka saja. Bayinya ditinggal di Solo bersama mereka, sementara dia bekerja di Jogja. Kedua orang tua itu merasa itu adalah solusi terbaik saat ini, mengingat Reno yang sebagai abdi negara bisa kapan saja meninggalkan bayi itu tanpa direncana.


Reno tetap bersikeras untuk mengasuh dan merawat anaknya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya. Semua ini dilakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada sang istri. Bersalah karena belum bisa mencintai sepenuhnya.


Reno sudah berencana akan meminta bantuan Alya dan Rendra untuk mencari pengasuh anaknya. Reno yakin kedua temannya itu bisa membantu mencarikan seseorang yang bisa dipercaya mengasuh dan merawat sang anak dengan tulus.

__ADS_1


Dengan berat hati kedua orang tua itu merelakan cucunya diasuh oleh orang lain. Padahal mereka sudah menyiapkan kamar dan segala keperluan sang cucu, tetapi harus menelan kekecewaan.


Setelah acara tiga hari sang istri, Reno kembali ke Jogja. Selama pulang ke Solo, bayinya diurus oleh Alya dan Rendra, serta para polisi wanita yang mau meluangkan waktu untuk menjenguk bayi menggemaskan itu.


Awalnya Reno hanya meminta bantuan Rendra untuk mencari pengasuh sang anak. Dia tidak mungkin meninggalkan rumah duka begitu saja. Jadi, menitipkan anak pada sang sahabat dirasa lebih baik dari pada kehilangan.


Rendra dan Alya menghubungi beberapa jasa penyalur tenaga kerja yang ada di Jogja. Mereka melihat dan melakukan wawancara secara langsung pada para pelamar, agar tidak salah pilih nanti. Tidak mudah memang mencari pengasuh bayi yang benar-benar tulus kalau tidak ada interaksi secara langsung.


Reno tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari sahabatnya itu. Dia, bahkan meminta bantuan tetangga kontrakan untuk mencarikan pengasuh. Namun, usaha mereka belum juga memberi hasil.


Sudah satu bulan berlalu, tetapi pengasuh itu juga belum didapatkan. Hari ini bayi cantik itu sudah diperbolehkan pulang karena keadaannya sudah dinyatakan sehat. Bayi mungil Reno sudah terlihat lincah beberapa hari terakhir selain itu sudah bisa merespon jika diajak interaksi.


Alya menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang. Walaupun itulah bukan darah dagingnya, selama sebulan dia ikut mengurus membuat naluri wanitanya keluar begitu saja.


"Sudah cocok, Al. Kapan nih nikah sama Rendra?" tanya Reno ketika mereka sudah sampai di rumah kontrakannya.


"Kapan, Bang?" tanya Alya pada Rendra sambil cengengesan.


"Kapan kamu siap, hayuk aja aku, mah!" sahut Rendra tak mau kalah.


"Kode itu, Al!"

__ADS_1


"Bang Rendra aja belum ketemu sama ayah dan bunda, bagaimana mau halalin? Aku sih mau aja, asal datang dan minta baik-baik pada orang tuaku," ungkap Alya dengan jujur.


Reno terkejut mendengar ucapan Alya. Dulu, sewaktu mereka masih baru sebulan pacaran, Reno sudah sering bertemu dengan kedua orang tua Alya juga adik-adiknya. Rendra yang sudah dua bulan pacaran malah belum pernah ketemu.


"Mereka masih sering ke kunjungan ke kafe, 'kan?" tanya Reno sepontan.


"Masih, tapi ya gitu deh! Mereka tidak pernah bertemu sama sekali," jawab Alya sambil mengedikkan bahunya.


"Kamu kemana aja, Ndra? Masa calon mertua tidak pernah kamu temui. Kalau tidak bisa di jam kerja, pulang kerja juga bisa. Kalau kita tidak mengenal keluarganya itu yang bahaya!" tanya Reno penuh selidik, seolah-olah menghakimi Rendra yang sepertinya tidak serius pada Alya.


"Jadwal kerja aku bentrok sama jam kunjungan mereka, Reno. Tidak mungkin 'kan, aku ninggalin pekerjaan demi calon mertua. Yang ada nanti aku malah dipecat dari kesatuan," jawab Rendra dengan berbagai alasan.


Bukan belum memantapkan hati, Rendra hanya ingin menyelesaikan masalah dengan keluarganya. Banyak yang harus diselesaikan oleh polisi muda itu dalam keluarga besarnya. Dia tidak ingin membuat Alya ikut memikirkan masalahnya itu.


"*Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Kamu harus menikah dengan calon sudah kami persiapkan untukmu sejak dulu. Kamu itu satu-satunya anak laki-laki di keluarga Adi Nugraha. Mau tidak mau kamu harus menjadi penerus Nugraha Grup. Sebagai ahli waris perusahaan besar, kamu harus menikahi wanita yang benar-benar pantas untuk menjadi pendamping kamu."


"Tidak bisa, Bu. Narendra sudah punya pilihan sendiri. Ayah sama Ibu tidak bisa mengaturku terus. Aku sudah besar, tahu mana yang terbaik untukku!"


"Narendra, anakku. Dengerin orang tua ngomong. Tak ada orang tua yang ingin anaknya keblinger. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi, sekarang kamu nurut ya, Le!" ujar sang ayah dengan penuh kesabaran.


"Kami sudah mengikuti kemauanmu untuk jadi polisi, padahal kami sangat menginginkan kamu meneruskan usaha keluarga. Sekarang kami sudah tua, kami hanya ingin ada yang meneruskan usaha yang sudah dirintis sejak jaman kakek kamu. Apa itu salah?" lanjut ayah Narendra, Arya Adi Nugraha*.

__ADS_1


__ADS_2