Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 23


__ADS_3

"Bukan salahku jika mereka bersikap dingin atau salah sebut nama pada kalian. Aku sudah lama tidak ada komunikasi dengan mereka, baik via ponsel maupun ketemu langsung. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa, jadi tidak ada alasan untuk kami bertemu atau berkomunikasi," ucap Alya dengan tenang, dia tidak terpancing dengan perkataan Anisah.


"Lalu salah siapa? Salah kami, begitu?" cerca Nisa emosi.


"Salah mereka yang tidak bisa menempatkan diri. Satu lagi, yaitu salah kalian yang tidak bisa mengambil hati pasangan. Itu yang saya tahu!" Alya berdiri dari duduknya, dia benar-benar harus istirahat atau emosi yang ditahannya sejak tadi akan meledak.


"Sudah waktunya untuk istirahat. Saya tinggal. Permisi," pamit Alya seraya membuka pintu ruangan itu lebar-lebar, mengusir tamunya secara halus.


Pekerjaannya hari ini sangat banyak karena ada seorang pengusaha properti yang mengurus sertifikat untuk satu komplek perumahan. Oleh karena itu dia harus kerja ekstra beberapa hari ini. Sebenarnya ini bukan jobdesk dia, tetapi sang atasan tiba-tiba menyerahkan tugas itu padanya.


Gadis bernama Anisah itu sudah meninggalkan kafe 'Rasha' sehingga Alya bisa melanjutkan aktivitas selanjutnya. Badan lelah tetapi kantuk tidak kunjung tiba karena terlalu banyak beban pikiran. Pekerjaan yang menumpuk serta kedatangan wanita yang mengaku sebagai pacar Reno, membuat rasa kantuk menghilang begitu saja.


Untuk mengusir rasa jenuh karena tidak kunjung mengantuk, Alya mulai mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh sang atasan. Padahal itu tugas notaris yang kebetulan masih berada satu naungan firma hukum tempatnya bekerja. Biasanya jobdesk mereka dipisahkan, entah kenapa tiba-tiba sang pemilik firma melimpahkan pekerjaan itu padanya.


Berhubung dia kurang begitu mengerti dengan pekerjaan baru itu, Alya memilih untuk merapikan kembali berkas-berkas itu. Lebih baik dia bertanya dulu pada orang yang lebih menguasai dan ahli dalam bidang itu.


Hari pun berganti, seperti biasa Alya akan berangkat lebih setelah tidak memiliki kekasih. Dia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Semenjak tidak memiliki kekasih, gadis itu lebih memilih menggunakan mobil sebagai alat transportasi dibanding dengan motor.


Dengan mengendarai mobil, dia merasa privasinya terjaga. Tidak semua orang bisa melihat wajahnya. Selain itu, dia terbebas dari panas dan hujan. Alasan keamanan lebih tepatnya.

__ADS_1


Alya memang menceritakan masalah hubungannya yang kandas pada sang atasan. Hal ini ditujukan agar dia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan pihak kepolisian. Sengaja ingin menjauh, agar mudah menyembuhkan luka.


Tiga bulan berlalu, selama itu pula Alya tidak pernah sekalipun bertemu dengan Reno atau Rendra. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu kabar kedua orang itu. Hidupnya kini sudah nyaman tanpa adanya seorang kekasih.


Sementara itu, hubungan Rendra dengan istrinya tidak mengalami kemajuan. Laki-laki itu belum menyentuh sang istri dengan alasan, jika mengajukan pernikahan ke kantor si wanita harus tes virginitas. Sebenarnya hanya akal-akalan dia saja, sebenarnya tidak ada keinginan untuk melapor ke kantor jika dirinya sudah menikah.


Pernikahannya dengan Pratiwi hanya diketahui oleh keluarga mereka saja. Selain itu hanya Reno yang tampak acuh karena merasa itu bukan urusannya. Oleh karena itu, Rendra masih merasa aman jika tidak melapor ke kantor, apalagi kartu keluarga dan KTP masih menunjukkan status singlenya.


Lama tidak bertemu dengan Alya karena tugasnya yang semakin banyak, Rendra menyempatkan diri untuk berkunjung ke kafe 'Rasha'. Dia sudah tidak bisa menahan rindu yang menggebu. Walau hanya melihat wajah ayu sang mantan tidak mengapa bagi Rendra.


"Eh, ada Bang Pol. Apa kabar, Bang? Sudah lama nggak datang ke sini," sapa Dion sang karyawan kafe.


"Mbak Alya pergi ke rumah pamannya di kota sebelah. Katanya sih sekitar seminggu di sana. Ada pesan yang bisa saya sampaikan, Bang Pol?" Dion sengaja menanyakan tujuan polisi muda itu mencari pemilik kafe tempatnya bekerja.


Alya memang sering berpesan agar mengatakan tidak ada jika Rendra atau Reno datang mencarinya. Gadis itu benar-benar menolak bertemu dengan laki-laki yang telah membuat hidupnya jungkir balik. Lebih baik tidak ada interaksi sama sekali dari pada nantinya menambah luka.


Rendra merasa kesal karena tidak pernah bisa menemui Alya, baik di tempat kerja maupun di tempat tinggalnya. Hati pemuda itu masih dipenuhi oleh Alya Kaneshia. Seorang wanita sederhana walaupun berasal dari keluarga yang kaya raya.


Di mata Rendra, Alya berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dikenalnya. Wanita itu tampak kuat di luar, tetapi lembut di dalam hatinya. Dia adalah wanita yang mudah tersentuh dan peka dengan kesusahan orang lain. Dia juga selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

__ADS_1


Rindu yang begitu menggebu pada Alya yang tidak tersalurkan serta masalah pekerjaan yang menguras otak dan tenaganya, membuat Rendra minum alkohol hingga di ambang batas toleransi yang diterima tubuhnya.


Setelah puas menenggak alkohol, laki-laki penyuka tempe itu pulang ke rumahnya. Dalam angannya, dia membuat janji bertemu dengan Alya. Gadis itu sedang menunggu dirinya di ruang tamu.


Tanpa Rendra sadari jika seorang wanita yang sedang duduk menunggu kepulangannya adalah wanita yang dinikahinya tiga bulan yang lalu. Laki-laki langsung memeluk istri yang dikiranya Alya. Dia meluapkan semua rasa rindu yang begitu menggebu pada sang istri.


Setelah memeluk erat, Rendra melepaskan pelukannya kemudian kedua tangannya membingkai wajah ayu sang istri. Perlahan dia tempelkan keningnya pada kening si wanita, lalu mencium seluruh wajah itu. Setelah puas mencium seluruh wajah, ciuman itu pindah ke bibir ranum yang merah merekah alami milik Pratiwi.


Awalnya hanya kecupan lembut, tetapi semakin lama berubah menjadi lu ma tan yang memabokkan. Mereka saling memberi dan menerima untuk menghilangkan dahaga yang telah lama dirasakan.


Malam itu menjadi malam panjang bagi pasangan pengantin yang masih baru tersebut. Mereka sama-sama melakukan untuk pertama kali. Apa yang keduanya lakukan juga berdasarkan insting saja.


Rendra terdiam sejenak sambil menatap mata pasangannya, seolah meminta izin untuk bertandang ke rumahnya. Pratiwi yang juga terbakar ga i rahnya hanya mengangguk pasrah. Saat ini atau nanti bagi Pratiwi sama saja karena itu adalah hak sang suami.


"Aargh!"


Tangan Pratiwi mencakar punggung sang suami kala inti tubuhnya kedatangan pemiliknya. Sakit dan terasa penuh sehingga terasa sesak. Air matanya menetes menahan rasa sakit yang teramat sangat pada miliknya.


Melihat air mata yang keluar dari mata pasangannya, Rendra pun mencium kedua mata itu secara bergantian. Kemudian, me lu mat bibir merah yang menjadi candunya itu. Tak lupa tangannya ikut menyentuh titik sensitif agar pasangan merasa lebih rileks.

__ADS_1


Setelah dirasa bisa, Rendra mulai bergerak seirama dengan le nguh an sang istri, yang dalam bayangannya adalah Alya. Tanpa disadari, laki-laki itu meneriakkan nama Alya saat pelepasan.


__ADS_2