
"Sebaiknya Mas Reno menemui orang tua Alya. Apa yang menjadi keputusan mereka berdua, itu juga yang akan Alya ambil. Tidak apa-apa, 'kan, Mas Reno ke Semarang menemui mereka?" ucap Alya dengan hati-hati takut laki-laki di depannya itu tersinggung.
Tak ada maksud Alya untuk mempermainkan Reno. Hanya saja dia merasa tidak nyaman jika melangkahi orang tuanya. Setiap apa yang terucap dari bibir ayah dan ibunya, menurutnya adalah do'a sehingga dia akan mengikuti ucapan mereka.
Reno pun mengangguk mengerti maksud gadis yang telah memenuhi isi hatinya itu. Gadis itu sangatlah menghormati dan patuh pada orang tuanya. Setiap langkah kakinya selalu meminta restu pada orang tua, jadi wajar jika memutuskan untuk menerima lamaran pun harus berdasar restu dari orang tua juga.
"Baiklah, kalau begitu kamu kabari orang tua kamu. Setelah Mentari boleh pulang dari rumah sakit, aku sekeluarga akan datang," sahut Reno setelah terdiam beberapa saat.
Sabar. Itulah yang harus dilakukan oleh Reno. Laki-laki itu sangat yakin jika dia bisa bersabar maka hasil yang didapatkan pun akan lebih memuaskan, karena sebuah kesabaran bukanlah hal yang sia-sia.
Reno pamit setelah mereka ngobrol tentang hal umum yang saat ini sedang menjadi trending topik. Satu jam cukup bagi keduanya untuk makan dan ngobrol, sehingga Reno mengakhiri pertemuan malam ini. Dia harus segera ke rumah sakit untuk mengabari ibunya, selain itu juga menggantikan sang ibu menjaga anaknya.
"Ma, bagaimana keadaan Mentari?" tanya Reno begitu tiba di ruangan rawat inap sang anak.
"Sudah membaik, tadi makannya juga banyak. Kalau kondisinya seperti ini terus, dua hari lagi boleh pulang, kata dokter yang tadi memeriksa dia," jawab sang mama dengan jelas.
Reno mengangguk. Ada binar bahagia di matanya mendengar kabar baik tentang sang anak. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri mendengar darah dagingnya dalam keadaan yang baik.
Laki-laki itu mendekati ranjang sang anak, lalu mencium keningnya lama. Setelah itu dia membetulkan letak selimut yang sedikit turun.
"Mama tidur saja, biar aku yang jaga Mentari. Mama pasti capek," pinta Reno pada wanita yang telah melahirkannya.
Mama Listyawati pun merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu sambil memasang selimut untuk menutupi kaki dan tubuhnya. Reno sendiri duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pasien. Bersandar lalu mulai memejamkan matanya.
Malam ini mereka bertiga tidur pulas setelah beberapa malam begadang karena Mentari rewel. Malam ini Mentari tidak terbangun sama sekali. Bayi itu terbangun saat menjelang adzan Subuh karena popoknya penuh.
"Bagaimana jawaban Alya tadi malam?" tanya Mama Listyawati pada sang anak setelah mengelap tubuh sang cucu dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Dia minta kita langsung melamar ke orang tuanya. Apapun keputusan mereka itu juga yang akan menjadi keputusan Alya. Katanya, ridho orang tua yang akan menentukan kebahagiaan rumah tangganya nanti," jelas Reno seraya membuang napas berat.
"Lalu, kamu sanggupi?"
"Iya, Ma. Nanti setelah Mentari keluar dari rumah sakit, kita akan ke Semarang untuk menemui orang tua Alya. Mama setuju, 'kan?"
"Mama pasti ikut dan mendukung kamu. Kalau perlu Mama akan memohon pada orang tua Alya agar mau menerima lamaran kamu," sahut Mama Listyawati.
"Jangan terlalu memaksa, Ma! Kita berdo'a saja, semoga mereka dibukakan pintu hatinya sehingga mau menerima lamaran Reno," ucap Reno mengingatkan pada sang ibu.
Laki-laki itu tidak ingin memaksa jika lamarannya ditolak. Itu berarti jodohnya masih disembunyikan oleh Allah. Namun, dalam hati kecilnya dia selalu berharap segera dipertemukan dengan jodohnya dan do'anya tidak pernah putus.
Dua hari berlalu. Sesuai perkataan dokter yang menangani Mentari, jika keadaan bayi itu stabil maka dia sudah diperbolehkan pulang. Kini bayi kecil itu sudah dibawa pulang oleh ayah dan neneknya.
Sang kakek yang seorang pejabat pemerintah tidak bisa selalu menemani. Ya, ayah Reno seorang wali kota jadi dia sangat sibuk mengurus pekerjaannya. Kini, setelah mendengar kabar sang cucu sudah sehat, beliau menyempatkan diri menjemput.
"Tidak begitu, masih bisa diwakilkan. Ada apa?"
"Rencananya besok, Reno akan menemui orang tua Alya. Untuk melamar dia, Pa. Apa Papa bisa ikut mendampingi Reno?"
"Boleh. Kamu kabari juga mantan mertua kamu, siapa tahu mereka mau ikut. Kakak ipar kamu juga dikabari. Kita ke sana rame-rame,"" jawab sang ayah.
"Mama persiapkan seserahannya sekalian. Cincin jangan lupa! Pokoknya, begitu diterima hari itu juga mereka tunangan," ucap pak Bramantyo Harya Kusuma pada sang istri.
Reno melarang sang ayah, takut lamarannya ditolak. Namun, ayah dan ibunya tetap pada keputusan mereka. Langsung membawa uba rampe lamaran.
Akhirnya, mereka datang ke kediaman orang tua Alya menggunakan dua mobil. Semua keluarga ikut, ditambah dengan orang tua Aluna. Jangan lupakan bawaan mereka yang cukup banyak karena berharap lamaran Reno diterima.
__ADS_1
Alya langsung pulang begitu mendapat kabar dari Reno, kalau keluarganya akan datang menemui ayah dan bunda. Tak lupa dia menceritakan tentang lamaran itu pada orang tuanya agar mereka bisa memutuskan menerima atau menolak.
Shofie sudah menyiapkan banyak menu hari ini untuk menyambut tamu. Walau bagaimanapun juga, tamu harus dimuliakan. Hal ini sesuai dengan ajaran nabi, seperti dalam riwayat hadits HR. Bukhari, "Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhirnya, hendaknya dia memuliakan tamunya."(Kira-kira seperti ini, mohon maaf bila salah)
Reno beserta rombongannya tiba jam satu siang. Mereka disambut dengan baik dan langsung dipersilakan masuk oleh orang tua Alya. Begitu mereka duduk, beberapa orang muncul dari arah dalam menyajikan aneka hidangan.
Rombongan tamu itu dijamu terlebih dahulu baru kemudian ditanya maksud kedatangan mereka setelah kenyang. Ruangan itu tampak hening menunggu perwakilan tamu mengutarakan maksud kedatangan mereka.
Ayah Reno mewakili anaknya mengutarakan kedatangan mereka. Setelah itu disusul Reno berdiri lalu berjalan mendekati Alya. Dengan perasaan berdebar laki-laki itu mengutarakan maksudnya pada Alya di depan seluruh keluarga.
"Alya Kaneshia Pradipta... will you marry me?" Reno menatap dalam mata Alya, menyalurkan kesungguhan hati dan begitu dalam rasa cintanya. Laki-laki itu berharap, sang pujaan hati merasakan apa yang dia rasakan.
"Please, to be my wife and to be the mother of out children."
Reno tidak mengalihkan tatapan matanya yang tertuju pada sang pujaan hati. Dia menunggu jawaban Alya sambil berjongkok dengan tangan mengulurkan sebuah kotak berisi cincin berlian.
Alya mengalihkan pandangan matanya dari Reno ke arah kedua orang tuanya. Seolah bertanya keputusan apa yang akan diambil demi kebaikan bersama. Gadis itu terus menatap sang ayah sampai sang ayah menganggukkan kepalanya.
*
*
*
Mampir yuk!
__ADS_1