
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya Alya sampai di kediaman sang nenek angkat sebelum jam dua belas malam. Kedatangannya sudah ditunggu-tunggu oleh sang nenek dan anaknya. Mereka sengaja menunggu setelah mendapat kabar kedatangan Alya.
"Duh, putu ayune sudah nyampe. Ayo masuk!" puji Anggita pada cucu mantan kakak iparnya itu, lalu mengajak masuk ke rumah.
Alya mengikuti langkah sang nenek angkat dengan kedua tangan memegang ranselnya. Matanya celingukan mencari keberadaan sang paman yang sudah lama tidak bertemu. Hal ini dikarenakan, sang paman tadi menghubungi dia jika akan menunggu kedatangan gadis cantik itu.
Begitu sampai di ruang keluarga, Alya melihat laki-laki berwajah bule berjalan di tangga menuju ke bawah. Alya sempat terpesona beberapa saat, tetapi dia langsung tersadar dan bisa menguasai diri. Gadis itu melemparkan senyuman pada sang paman yang tampak dewasa dan matang.
"Hai, Om Bry! Apa kabar?" sapa Alya begitu berhadapan dengan sang paman.
"No Om, call me uncle!" sahut Bryan, sejak dulu dia selalu ingin dipanggil uncle oleh semua keponakannya. Namun, Alya masih saja memanggil dia dengan sebutan om.
"Om ajah! Masak orang Jawa dipanggil uncle, nggak pantes," ejek Alya mengulum senyumnya.
"Kalian ini, masih saja seperti belasan tahun yang lalu. Padahal kalian sudah sama-sama dewasa, kenapa masih seperti anak TK?" tegur Anggita pada anak dan cucunya.
"Dia duluan, Mom. Cucu Mommy yang satu ini memang kepala batu," adu Bryan pada sang ibu.
"Dih cepu! Gitu aja sudah ngadu ke Oma, dasar om om nakal," ejek Alya lagi terkekeh karena melihat sang paman yang masih seperti anak-anak.
"Percuma gelarmu ayah, kalau kamu masih bertingkah seperti anak kecil, Bryan!"
"Alya kamu mau makan dulu atau langsung istirahat di kamar? Sudah malem ini, Oma mau tidur," tanya Anggita pada cucu mantan kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Alya langsung istirahat di kamar saja, Oma. Capek! Besok pagi baru kita ngobrol sepuasnya," jawab Alya, kemudian menuju ke kamar yang biasa dia tempati jika berkunjung ke rumah besar itu.
Alya langsung meletakkan tas ranselnya di dekat ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Gosok gigi, mencuci wajah, cuci tangan dan kaki. Setelah selesai dengan ritual rutinnya, Alya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk tidur.
Malam ini tidur Alya sangat nyenyak, tanpa ada mimpi buruk yang menghantui tidurnya. Pagi hari, gadis itu bangun tidur tampak segar. Tidak ada gurat lelah atau pun sedih di wajahnya, hanya senyum manisnya yang selalu mengembang.
Mereka sarapan bersama pagi ini hanya bertiga karena Brandon, suami Anggita masih berada di Jakarta mengurus bisnisnya. Selama makan Bryan dan Alya sering adu mulut seperti belasan tahun yang lalu, sehingga Gita terpaksa menegur mereka berulang kali.
"Bryan, kamu itu sudah hampir kepala empat kenapa sikapmu seperti anak remaja? Tak malu kamu sama umur?"
Bryan dan Alya seketika terdiam saat wanita paruh baya itu mengeluarkan suara kerasnya. Dua orang yang saling meledek itu akhirnya memilih diam dan melanjutkan sarapan dengan tenang.
Usai menikmati sarapan dengan masakan rumahan, mereka bertiga bercengkrama di teras belakang yang menghadap kolam renang. Mereka ngobrol dan saling bertukar cerita. Selama belasan tahun tidak bertemu membuat paman dan keponakan itu saling melepas rindu dengan obrolan.
"Baru satu, Al."
"Satu saja tidak terurus apalagi banyak. Itulah kalau tidak menurut nasehat orang tua. Rumah tangga mudah goyah karena tidak ada ridho orang tua di dalamnya," ucap Anggita menimpali sembari ikut duduk.
"Mom...," ucap Bryan penuh permohonan.
Pernikahan Bryan dengan istrinya tanpa dihadiri oleh orang tua atau pun kakak-kakaknya. Laki-laki itu menikahi wanita asli Melbourne tanpa persetujuan dari pihak keluarga. Brandon dan Anggita menginginkan anak-anaknya menikah dengan wanita yang seiman.
Brandon dan Anggita belajar dari pernikahan Ary dengan Alex yang banyak batu sandungan. Walau bagaimanapun juga jika seiman urusannya tidak seribet kalau berbeda keyakinan. Akan tetapi, Bryan tetap menikah dengan penduduk asli di mana anak bungsunya itu menetap saat ini.
__ADS_1
Setelah dua tahun pernikahan, terjadi gonjang-ganjing prahara pernikahan Bryan dan istrinya. Sang istri tetap pada keputusannya untuk berkarir sebagai model, karena menjadi model go internasional dan terkenal adalah cita-cita dia dan itu didukung sepenuhnya oleh kedua orang tua.
Bryan pulang ke Surabaya untuk menenangkan hati dan pikirannya sebelum sidang perceraiannya dilaksanakan. Laki-laki yang begitu memuja kecantikan sang istri, hanya bisa pasrah saat istrinya itu memilih menjadi seorang model dari pada seorang ibu rumah tangga.
"Alya tidak ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi? Sayang banget kalau tidak sekolah lagi. Kamu kuliah di Melbourne aja, nanti aku yang akan urus semua. Mau?" tanya Bryan sengaja ingin membawa gadis kecilnya itu ikut ke Melbourne, menemani dirinya.
"Nggak deh, Om. Alya mau lanjutin usaha ayah saja. Jadi, tidak perlu kuliah lagi, apalagi sampai ke luar negeri," jawab Alya dengan sangat yakin.
Bryan mencerca banyak pertanyaan yang berhubungan dengan pendidikan sang keponakan. Dia sangat ingin membawa Alya ke Melbourne agar bisa menjadi advokat yang terkenal. Selain bisa membantunya agar mereka bisa cepat move on dari sang mantan.
Laki-laki yang mewarisi gen dominan dari sang nenek yang merupakan orang asli Belanda itu menghela napasnya berat. Dia hanya ingin membantu sang keponakan, apalagi setelah mendengar cerita kejadian yang dialami oleh Alya. Bryan ikut merasakan sakitnya walaupun tidak melihat kejadian yang menimpa gadis kecil kesayangannya itu.
Dulu anak bungsu pasangan Brandon dan Anggita itu menaruh hati pada sang keponakan. Selisih umur mereka yang cukup jauh, membuat Bryan memilih untuk menjauh dan mengubur perasaan itu. Kini setelah mendengar kabar buruk menimpa wanita yang pernah mengisi hatinya, dia ingin menjadi penawar luka.
"Kalau tidak mau jangan dipaksa, Bryan. Dia itu sejak kecil tidak pernah pisah jauh dari keluarganya. Walaupun dia tinggal di Jogja, Shofie dan Raka tak pernah absen mengunjungi dia. Jadi, jangan paksa Alya ikut kamu ke Melbourne!"
"Mommy juga takut kalau dia ikut kamu. Takut terbawa arus pergaulan seperti kamu. Bebas tidur dengan siapa saja yang tidak halal," ucap Anggita menasehati sang anak.
Bryan sudah akan protes begitu mendengar tuduhan sang ibu, tetapi bibirnya terkatup rapat saat Alya membuka mulutnya untuk berbicara.
"Alya bukan tidak mau, Oma. Masih ingin jadi pengacara saja saat ini," ujar Alya tersenyum.
"Pengacara? Bukann...."
__ADS_1
"Pengangguran banyak acara, Oma! Hihihi!"