
Baby Mentari, anak Reno sudah dibawa pulang, tetapi Alya belum juga mendapatkan baby sitter untuk baby Mentari. Gadis cantik itu merasa tidak enak hati karena tidak bisa membantu Reno secara maksimal. Dia sudah berusaha, tetapi Tuhan belum mengijinkannya membantu melalui itu.
Untuk menutupi rasa sungkannya itu, Alya menawarkan diri untuk membantu di sela kesibukannya. Dia juga meminta bantuan para karyawan kafe untuk menjaga bayi Reno. Hal ini dikarenakan, di kafe banyak karyawan perempuan yang bisa dimintai tolong menjaga baby Mentari sambil bekerja.
Sebenarnya keputusan itu memberatkan Alya karena dia harus menambah jam kerja para karyawannya. Walaupun sebenarnya para karyawan itu sudah mengatakan tidak usah dibayar. Akan tetapi, cucu Aryanti Wihardja dan Alexander Kusuma Wijaya itu tetap harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang pemilik kafe, yaitu membayar setiap tetes keringat yang dikeluarkan karyawannya.
Alya benar-benar menuruni sifat dari orang tuanya yang juga diwarisi dari sang nenek. Tidak heran jika semua karyawan kafe Restu dan kafe Rasha memiliki loyalitas yang tinggi. Mereka yang bekerja di kafe itu merasa nyaman seperti berada di tengah-tengah keluarga sendiri, sehingga mereka memilih bertahan bekerja di sana walau gaji hanya UMR.
"Wah, udah wangi nih si kecil!" ucap Alya yang baru saja pulang kerja.
"Jelas wangi dong, barusan diantar sama bapaknya ke sini!" sahut salah satu karyawan kafe.
"Oh, pantes. Biasanya jam segini sudah gak ada. Kenapa nggak diantar sebelum Maghrib tadi?"
"Tanya bapaknya Mentari langsung, Bos! Kalau ingin tahu," jawab karyawan lainnya, nyengir memperlihatkan deretan gigi Ritadent.
"Kurang kerjaan, Na! Mending aku mandi terus main sama Mentari," celetuk Alya seraya berlalu meninggalkan mereka, naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Baru kali ini aku lihat wanita berhati seperti mutiara. Padahal dia sudah ditinggal menikah sama bapaknya Mentari tapi dia mau membantu laki-laki yang sudah menyakitinya itu. Ckckck!" ujar salah seorang dari karyawan itu.
"Namanya juga cintaahh, walaupun disakiti berulang kali juga memaafkan. Jeleknya orang yang dicintai nggak akan pernah terlihat oleh mata dan hatinya," ceplos karyawan lain.
"Kalian kenapa malah ghibah di sini? Ayo kerja!" bentak supervisor mereka.
__ADS_1
Para karyawan itu langsung membubarkan diri, tak lupa menarik stroller baby Mentari.
Setiap hari anak Reno berada di kafe 'Rasha'. Bayi itu diasuh bersama-sama oleh para karyawan kafe. Jika para karyawan itu sudah pulang kerena kafe tutup, baby Mentari bersama Alya. Tak jarang pula baby Mentari menginap di sana.
Sebenarnya Reno sungkan selalu merepotkan Alya, tetapi sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pengasuh itu. Selalu saja ada rintangan. Pernah ada seorang pengasuh yang mau, tetapi hanya bertahan beberapa hari saja. Pengasuh itu merasa sungkan hanya tinggal bersama Reno dan baby Mentari.
Pernah juga art yang biasa mengurus rumah itu diminta untuk bermalam, tetapi baby Mentari malah rewel tidak mau tidur dan akhirnya sakit. Hanya Alya dan para karyawan kafe yang bisa menenangkan baby Mentari.
Alya dan Mentari bak ibu dan anaknya, mereka sudah lengket satu sama lain. Perhatian Alya pada bayi itu membuat Rendra cemburu karena merasa diabaikan oleh sang pacar. Padahal, Rendra saat ini sibuk dengan tugas dari kesatuan serta sering pulang ke rumah orang tuanya.
"Aku datang, kamu malah sibuk sama bayi itu. Aku ini pacar kamu lho," protes Rendra saat datang mengapel.
"Maaf, tunggu sebentar, Bang!"
"Don, Bang Rendra mana?" tanya Alya pada salah satu karyawannya.
"Sudah pergi, Bos! Baru sa...."
Belum selesai mendengar jawaban dari karyawannya, Alya sudah melesat keluar. Ternyata, Rendra dan kendaraannya sudah tidak terlihat lagi. Pundak Alya luruh seketika, lalu menghela napasnya kasar.
"Kamu aneh, Bang! Aku suruh tunggu sebentar menitipkan bayi itu agar kita bisa berdua tanpa gangguan, kamu malah pergi. Apa aku salah membantu mengasuh bayi piatu itu? Padahal selama ini aku selalu meluangkan waktu untukmu di sela kesibukanku. Apa kamu cemburu?"
Alya kembali masuk ke kafe dan langsung menuju kamarnya. Dia langsung menghubungi Rendra tetapi tidak ada diangkat, pesannya pun tidak dibalas hanya centang biru dua.
__ADS_1
Sementara itu, Rendra merasa kesal sekali karena anak Reno terlihat selalu menempel pada kekasihnya itu. Sudah capek bekerja, bahkan harus masuk ke parit untuk mengambil barang bukti yang dibuang penjahat. Setelah pulang ingin bermesraan dengan pacar pun harus terhalang oleh anak orang.
Awalnya Rendra setuju baby Mentari diasuh oleh Alya. Namun, semakin hari si bayi malah semakin lengket pada pacarnya itu. Dia takut, kedekatan sang pacar dengan bayi akan dimanfaatkan Reno agar bisa kembali bersama wanita sang pujaan hati.
"Siyal! Kenapa malah jadi begini? Anak itu malah semakin lengket saja pada Alya. Kalau seperti ini malah bisa dimanfaatkan sama Reno!" gerutu Rendra kesal.
Masalah yang dihadapinya semakin bertambah. Belum berhasil dia mendapat restu dari orang tua, kini sang pacar terancam diambil sahabat. Ingin rasanya Rendra marah, tetapi pada siapa dia tidak tahu.
Malam itu dihabiskan Rendra untuk menghajar samsak tinju yang ada di balkon kamarnya yang luas. Dia memang sudah menempati rumah sendiri karena uang dari hasil perusahaannya selama ini.
Rendra tidur setelah kelelahan menghajar samsak tinju yang tidak bersalah sama sekali. Eh, ada salahnya, kenapa dia kelihatan oleh Rendra 🤣
Berbeda dengan Rendra yang tertidur pulas, Alya tidak bisa tidur sama sekali. Gadis cantik itu gelisah sepanjang malam. Padahal baby Mentari tidak sedang bersamanya, seharusnya dia bisa tidur pulas tanpa ada gangguan.
Bayang-bayang Rendra yang marah tadi masih terus menghantuinya. Alya takut jika kemarahan Rendra berlanjut dan hubungannya kembali kandas. Orang tuanya sudah menanyakan kapan dia akan menikah.
Jika hubungannya dengan Rendra kandas, bisa jadi orang tuanya akan menjodohkan dia dengan anak rekan bisnisnya. Alya tidak mau itu terjadi. Sebisa mungkin gadis itu akan berusaha memberi pengertian pada sang kekasih.
Hari sudah berganti kala mata Alya mulai terpejam. Jam dua dini hari, advokat muda itu akhirnya terlelap setelah mengirim pesan pada sang kekasih.
"Bang, besok kalau ada waktu luang temani aku ke mall, ya."
Pagi hari, Rendra terbangun sesaat sebelum adzan subuh berkumandang. Dia melihat ponselnya, ada pesan dari sang pacar. Lagi-lagi hanya dibaca tanpa dibalas karena masih kesal.
__ADS_1