
Aluna mulai mencari cara agar sang suami tidak berpaling darinya. Dia takut Reno akan meninggalkan dirinya dan kembali pada Alya, wanita masa lalu sang suami. Sejak mengetahui suaminya sering pergi ke tempat penuh kenangan bersama Alya, istri Reno itu sering diselimuti rasa takut.
Rasa cemas yang begitu tinggi akan sangat membahayakan bagi ibu hamil karena dapat memicu stress. Stress ada ibu hamil dapat memicu terjadinya kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur) serta mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Hari ini tidak ada yang berbeda dengan Aluna ataupun Reno. Laki-laki itu sudah bisa menerima kenyataan bahwa Aluna yang menjadi istrinya bukan Alya. Dia berusaha untuk mencintai sang istri.
Aluna seperti biasa, memasak dan mengurus rumah. Sepeninggal sang suami berangkat kerja, wanita itu segera membereskan meja makan dan mencuci piring dan beberapa peralatan masak. Setelah itu, dia mengambil pakaian kotor di keranjang hendak mencucinya.
Saking banyaknya pakaian kotor di keranjang, Aluna tidak melihat ada sedikit air di depan pintu kamar mandi. Wanita yang sedang hamil delapan bulan itu berjalan cepat menuju mesin cuci, untuk memburu waktu karena akan pergi ke posyandu. Nahas, dia terpeleset saat menginjak lantai basah itu.
Reno tiba-tiba pulang karena ada sesuatu yang ketinggalan. Betapa terkejutnya dia saat mendapati sang istri sudah berlumuran darah di depan kamar mandi.
Reno bergegas membawa Aluna ke rumah sakit, berharap nyawa istri dan anaknya masih bisa diselamatkan. Melihat banyaknya darah yang sampai menggenang, sepertinya sudah terlalu lama sang istri terjatuh.
Sepuluh menit kemudian, Reno dan istrinya sampai di Rumah Sakit Bhayangkara. Aluna segera mendapatkan penanganan di ruang operasi untuk mengeluarkan bayi yang sudah mulai melemah denyut jantungnya.
Terlalu banyak mengeluarkan darah, dokter meminta beberapa kantong darah untuk menyelamatkan nyawa Aluna. Reno menghubungi teman-teman seprofesinya untuk meminta bantuan. Namun, nasib baik sepertinya tidak berpihak pada Aluna dan Reno.
Aluna dinyatakan kritis dan terpaksa dirawat di ruang ICU, sedangkan bayinya selamat dan masuk inkubator karena terlahir prematur dan dalam keadaan kritis. Bayi itu saat lahir badannya sudah mulai membiru karena air ketuban sudah pecah saat badan ibunya terhempas ke lantai.
Rendra yang mendengar kabar itu langsung ke rumah sakit untuk menjenguk serta menemani Reno. Sebagai sahabat lama, dia ingin memberikan kekuatan pada sang sahabat. Walaupun tidak bisa membantu banyak, menemani di saat-saat seperti ini sangat berarti.
"Reno, bagaimana keadaan istri kamu? Maaf baru bisa datang," tanya Rendra begitu bertemu Reno di depan ruang ICU.
"Masuk belum sadarkan diri, dia belum bisa melewati masa kritisnya. Terima kasih sudah mau datang," jawab Reno sendu.
__ADS_1
"Kamu yang sabar, semoga istri kamu segera sadar dan cepat sembuh," ucap Rendra seraya menepuk pundak Reno pelan.
"Aamiin, terima kasih," balas Reno.
Rendra menemani Reno selama dua jam. Dia sudah memiliki janji dengan Alya sehingga mau tidak mau meninggalkan temannya itu di rumah sakit sendiri.
Orang tua Reno dan juga orang tua Aluna baru saja tiba sepeninggal Rendra. Mereka kaget mendengar kabar itu. Sungguh kabar di luar bayangan apalagi kehendak mereka.
Mereka bertanya tentang keadaan Aluna dan bayinya. Setelah diberi tahu bagaimana keadaan Aluna dan bayinya yang sama-sama kritis, mama Reno dan ibu Aluna saling berpelukan dengan air mata berlinang.
"Kalian pulang saja ke kontrakan, biar Reno yang jaga Aluna di sini. Kalian pasti capek," ucap Reno pada orang tua dan mertuanya.
"Tidak, Reno. Kami mau di sini saja. Iya, 'kan besan?" sahut mama Reno, Listyawati.
"Mama, Ibu, di sini tidak boleh banyak orang yang menunggu pasien. Ini di ruang ICU bukan ruang rawat inap. Hanya boleh satu orang saja yang menunggu pasien," jelas Reno memberi pengertian pada orang tua dan mertuanya.
"Sudahlah, Ma. Kita pulang saja ke kontrakan Reno. Besok pagi kita ke sini lagi, gantiin Reno," ujar papa Reno membujuk istrinya agar mau mendengarkan ucapan anaknya.
Akhirnya, mereka berempat pulang ke rumah kontrakan Reno. Kini, tinggallah Reno seorang diri duduk di kursi besi yang dingin. Dia tidak diijinkan masuk secara bebas, hanya pada jam-jam tertentu saja dia boleh masuk.
Beberapa menit kemudian, Reno bangkit dan berjalan ke arah ruangan dimana istrinya berada, untuk melihat keadaan sang istri melalui kaca bening sebagai sekat. Berbagai peralatan medis menempel di tubuh Aluna. Tak terasa air mata Reno menetes melihat hal itu.
"Maaf, Aluna. Seandainya aku datang lebih awal, mungkin saat ini kita masih bisa bercengkrama bersama," ucap Reno lirih dengan tangan menempel dinding kaca itu.
Tidak tahan melihat keadaan sang istri, Reno berjalan ke ruangan bayi dimana anaknya berada. Bayi perempuan itu sudah melewati masa kritisnya, denyut jantungnya juga sudah mulai normal.
__ADS_1
"Cepat sehat, Nak! Cepat besar dan kuat menghadapi indahnya dunia ini," ujar Reno pada bayi mungil yang masih berada di inkubator.
Setelah puas memandangi wajah sang anak, Reno berjalan menuju kursi besi yang terletak di depan ruang ICU. Untungnya, letak ruang ICU dengan ruang bayi berdekatan sehingga memudahkan Reno untuk memantau keadaan anak dan istrinya.
Satu jam kemudian, mata Reno pun terpejam karena merasakan lelah seharian mengurus anak dan istrinya. Sebenarnya, dia tidak mengantuk karena mengkhawatirkan keadaan anak dan istrinya, akan tetapi demi kesehatan dia harus segera tidur. Beristirahat.
Kira-kira jam satu dini hari, Reno terbangun karena ada suara derap langkah kaki berdatangan ke ruangan sang istri. Dia melihat dokter dan dua orang perawat masuk ke ruangan Aluna dengan terburu-buru. Lantas, dia pun bangkit dan berjalan menuju ruangan yang tertutup rapat itu
Di dalam ruangan, dokter dan perawat berusaha menolong Aluna. Tadi saat perawat datang hendak mengecek keadaannya, terkejut mendengar detak jantung istri Reno semakin melemah. Usai mencatat keadaan pasien, tiba-tiba mendengar bunyi tanda denyut jantung berhenti.
Monitor jantung menunjukkan garis lurus, tanda tidak ada lagi detak jantung pasien. Si perawat langsung mengecek kondisi Aluna, lalu langsung memencet tombol darurat. Tak lama kemudian, dokter dan dua orang perawat datang
Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruangan itu dan berhenti di depan Reno.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha tetapi Tuhan berkehendak lain. Bapak yang tabah," ucap sang dokter sembari menepuk pundak Reno.
Tanpa menyahuti ucapan sang dokter, Reno langsung berlari ke ruangan dimana istrinya berada. Tampak olehnya, tubuh Aluna sudah tertutup kain putih sepenuhnya. Tangis Reno pun tak tertahan lagi.
Walaupun belum ada cinta di hati Reno, akan tetapi hidup bersama dengan Aluna selama tiga tahun membuat mereka dekat. Apalagi selama itu Aluna dengan sabar mengurus dirinya. Reno banyak berhutang budi pada sang istri.
Kabar meninggalnya istri Reno sampai juga pada Rendra. Rendra dan Alya datang ke kontrakan Reno untuk memberikan penghormatan terakhir pada Aluna. Serta mengucapkan ikut berduka cita pada Reno.
Aluna dimakamkan di kota kelahirannya. Rendra dan Alya ikut serta mengantarkan jenazah sampai di peristirahatan terakhirnya.
"Terima kasih sudah mau datang. Atas nama Aluna, aku minta maaf. Terutama padamu Alya."
__ADS_1