
Sungguh dilema, itu yang Alya rasakan. Di satu dia tidak tega mendengar kabar tentang bayi kecil itu, di lain sisi, dia tidak ingin berhubungan lagi dengan ayah si bayi. Namun, demi rasa kemanusiaan gadis itu harus mengesampingkan rasa sakitnya.
Rasa sakit yang sebenarnya sudah tiada, tetapi bekasnya selalu mengingatkan setiap kejadian yang menyakitkan. Rasa sakit itu kembali hadir kala kejadian-kejadian itu berputar bak kaset rusak dalam otaknya. Entah sampai kapan rasa sakit itu benar-benar pergi dari ingatannya.
Alya menyempatkan diri untuk menjenguk Baby Mentari yang saat ini dirawat di ruang ICU. Bayi mungil itu harus menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui penyakit yang bersarang dalam tubuhnya. Tak tega rasanya melihat bayi sekecil itu harus merasakan berulang kali ditusuk jarum suntik.
Alya sampai meneteskan air matanya saat melihat seorang perawat mengambil sample darah Mentari. Tidak hanya sampai di situ saja, jarum infus pun berulang kali menusuk kulit bayi kecil itu karena selalu gagal. Kini bayi itu tak sadarkan diri setelah menangis karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Tidak jauh berbeda dengan Alya, Reno dan ibunya pun ikut meneteskan air mata. Sungguh malang bayi itu, terlahir dalam keadaan prematur dan ibunya meninggal. Kini dia harus tergolek tak berdaya melawan penyakit yang menggerogotinya.
"Seandainya aku tahu akan seperti ini, sudah pasti aku akan mengemis maaf padamu," ucap Reno lirih.
"Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu dan ibumu meminta, Mas. Hanya saja, memaafkan bukan berarti melupakan. Walau bagaimanapun setiap kejadian yang menyakitkan, akan terekam dengan sendirinya dalam otakku."
Reno mengangguk tanda mengerti maksud ucapan sang pujaan hati. Dia ikut merasakan sakit saat mengingat setiap kejadian yang menimpa sang pujaan hati. Dia yang melihat saja merasa sakit, apalagi Alya yang menjalani semuanya seorang diri.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Reno memberanikan diri.
"Apa itu? Selagi aku ada dan mampu, tak masalah."
Reno mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung dan gugup yang menghinggapinya. Antara malu dan takut untuk mengutarakan isi hatinya, laki-laki yang begitu mencintai Alya itu salah tingkah sendiri. Hal ini membuat sang mantan menaikkan sebelah alisnya sembari menatap penuh tanya.
"Mentari membutuhkan kamu, Al. Aku hanya berharap kamu mau jadi ibu buat anak-anakku. Aku tahu, aku tidak pantas meminta ini padamu," ucap Reno akhirnya dengan tubuh panas dingin dan kepala tertunduk.
__ADS_1
Alya tidak pernah menyangka jika Reno akan kembali melamarnya. Bedanya dengan dulu, Reno bersemangat dan merasa percaya diri saat menjanjikan kebahagiaan padanya. Saat ini, laki-laki itu kembali mengutarakan niat dengan kepala tertunduk dan insecure.
Sebenarnya bukan sifat Reno, hanya saja rasa bersalah yang teramat sangat, membuat laki-laki itu merasa insecure. Ayah Mentari itu merasa tidak pantas mendapatkan Alya yang begitu baik dan menyayangi anaknya, sedangkan dia sudah terlalu sering melukainya.
"Boleh tahu alasan kamu ingin menjadikan aku sebagai ibu dari anak-anakmu?" tanya Alya dengan wajah tenang, padahal jantungnya berdebar-debar.
"A-aku masih mencintai kamu, tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku. Selain itu, aku juga ingin melihat Mentari sembuh. Maaf jika aku terlalu egois karena masih mengharapkan kamu."
Alya mengangguk mendengar alasan laki-laki yang duduk di sampingnya. Gadis itu tidak bisa memberikan jawaban. Terlalu terkejut membuatnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tidak harus dijawab sekarang. Kamu pikirkan dulu permintaanku ini, tiga hari lagi aku akan datang untuk mendengar jawaban dari kamu," tukas Reno setelah beberapa saat menunggu kata-kata dari Alya, tetapi tidak ada.
Biarlah dikatakan sebagai pengecut karena tidak berani memperjuangkan cintanya pada sang pujaan hati. Memilih melepaskan wanita yang dicintai bersama sahabat bukanlah hal mudah bagi Reno. Pada saat ingin memperjuangkan, ternyata sang pujaan hati mulai menutup hati hingga kejadian yang merenggut nyawa itu terjadi.
Kondisi sang anak yang terus menurun juga desakan dari berbagai pihak untuk segera menikah membuat Reno diliputi kebimbangan. Setelah melakukan shalat istikharah berulang kali, dia mendapat jawaban dengan hadirnya sang pujaan hati di depan mata.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, walau tak berani berharap banyak, Reno nekat melamar Alya. Kini, gadis itu pamit pulang, tetapi keringat dingin masih keluar dan jantungnya masih berdebar kencang. Sepeninggal sang pujaan hati, laki-laki itu memilih ke mushola untuk menenangkan hati.
Sementara itu, Bryan sedang menangis dalam hati karena melihat mantan istrinya dilarikan ke ruang ICU. Kondisi Regina semakin menurun, bahkan perempuan itu saat ini sedang kritis dan tak sadarkan diri.
"Sayang, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tidak tahu kalau kamu sakit. Maafkan aku yang mencari-cari salahmu, padahal tidak sekalipun kamu berbuat salah."
Bryan menangis tergugu merenungi kesalahannya. Regina memang seorang model tetapi dia tahu akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Sesibuk apapun dia, tidak pernah meninggalkan Starla hanya berdua bersama pengasuh, kecuali keadaan mendesak.
__ADS_1
Starla sudah diperbolehkan pulang karena sudah tidak demam lagi. Selain kondisi kesehatannya berangsur membaik sejak bertemu sang ayah. Kemungkinan besar anak itu merindukan ayahnya yang meninggalkan rumah selama tiga bulan terakhir.
Setiap hari, Bryan mengajak Regina berbicara untuk merangsang kesadarannya. Laki-laki itu bahkan mengelap tubuh ibu dari anaknya sendiri. Menggantikan pakaiannya dengan penuh kasih.
Belum ada perubahan yang berarti pada kondisi Regina. Kontrak kerja dengan perusahaan kosmetik itu diundur sampai ibu dari Starla sembuh. Pihak perusahaan tidak meminta ganti rugi karena memang sejak awal perjanjian keadaan sakit dan meninggal bebas ganti rugi.
Sakit dan kematian bukanlah sesuatu yang disengaja dan diinginkan. Apalagi Regina tidak pernah mau menerima uang jika belum bekerja. Jadi, tidak ada yang dirugikan di sini mengingat model mulai bekerja satu minggu lagi.
Perusahaan masih ada kesempatan mencari pengganti karena begitu Regina masuk rumah sakit, Laura Louis langsung mengabari perusahaan itu untuk membatalkan kontrak. Pihak perusahaan pun memahami dan bersedia mencari pengganti Regina.
"Mommy, bangun! Kata Daddy kita jalan-jalan ke danau Toba. Kita ke Indo, Mom!" ucap Starla riang dengan sedikit terbata karena kosa kata yang dikuasai masih sedikit.
"Iya, Sayang. Kita akan mengunjungi Indonesia, berkenalan dengan keluargaku. Cepat sembuh, ya!" ucap Bryan dengan senyum yang dipaksakan walau hatinya pedih.
*
*
*
Mampir ke sini, yuk!
__ADS_1