
Sudah empat hari Alya dan bayinya dirawat di rumah sakit milik sang nenek yang diwariskan pada pamannya Nathan. Cucu Ary dari anak perempuan satu-satunya itu sudah dinyatakan sehat. Namun, tidak untuk bayinya.
Bayi yang diberi nama Abimana itu masih harus berada di inkubator karena terlahir prematur, hanya berusia 28 Minggu dalam kandungan. Paru-parunya belum berfungsi dengan sempurna sehingga harus tetap berada di rumah sakit. Berhubung rumah sakit itu milik keluarga, Alya bebas tinggal sampai kapan dia mau.
"Sayang, pompa dulu ASI-nya. Nanti saat Bima butuh tinggal panasin," bujuk Reno yang melihat sang istri tampak melamun.
Reno berusaha menghibur sang istri yang kehilangan salah satu anak mereka. Sebenarnya dia juga sedih harus kehilangan darah dagingnya. Namun, dia harus kuat di hadapan Alya agar sang istri tidak semakin bersedih.
Agar tidak banyak melamun, Reno sering mengajak istrinya berbicara atau melakukan kegiatan ringan. Seperti kali ini, dia meminta sang istri untuk memompa ASI karena sudah tiga jam wanita itu belum menyusui ataupun memompa ASI-nya. Laki-laki itu takut terjadi abses karena ASI yang tertahan dan menggumpal.
Reno menyerahkan pompa ASI pada Alya dan diterima oleh sang istri dengan wajah terpaksa dan kesal. Wanita yang baru saja menyandang gelar ibu itu tidak suka jika diganggu saat melamun. Kerinduannya pada sang anak sedikit terobati dengan melamun, padahal dia tahu itu tidak baik untuk kejiwaannya.
Menantu Raka dan Shofie itu dengan telaten mengurus segala keperluan sang istri. Dia selalu memijat punggung Alya setiap kali menyusui ataupun memompa ASI agar sang istri merasa rileks sehingga ASI yang keluar lancar dan banyak. Hal ini dilakukan sebagai anjuran dari dokter yang menangani Alya.
Shofie dan Listyawati pun tak kurang-kurang dalam menasehati Alya, agar ikhlas dengan meninggalnya Abimanyu di dalam kandungan. Keduanya juga menasehati agar ibu muda itu fokus pada bayi yang masih berjuang untuk hidup saat ini.
Hari pun berlalu, berkat kesabaran Reno dalam mengurus sang istri. Akhirnya, kini Alya sudah mulai membaik dan tidak pernah lagi melamun sambil meneteskan air mata. Keadaan Baby Abimana pun sudah sangat sehat dan berat badannya pun sudah naik drastis menjadi 2600 gram.
Bayi yang mulai gembul itu sudah diizinkan pulang dari rumah sakit sejak berusia tiga minggu. Satu minggu lagi, usianya menginjak lima minggu. Rencananya, Reno akan mengadakan acara aqiqah dan tasyakuran atas rejeki yang berlimpah ruah dari Allah hari ini.
"Mama, um dek," ucap Mentari mendekati sang mama.
Bocah umur dua tahun itu ingin mencium adiknya. Pipinya yang gembul dia dekatkan pada sang adik yang terlelap dalam pangkuan sang mama. Mentari selalu ingin berada di dekat adiknya dan memegang tangan atau kaki, bahkan perut Abimana pernah dia tekan saking gemasnya melihat sang adik.
"Boleh, tapi pelan-pelan ya ciumnya," sahut Alya seraya mendekatkan Baby Abimana ke Mentari.
__ADS_1
Batita cewek itu mencium pipi adik bayinya dengan ditekan, sehingga sang bayi pin menggeliat dan merengek karena terkejut. Abimana pun menangis dan membuat sang kakak yang masih batita itu ikut menangis karena takut. Sang ibu mencoba menenangkan si bayi dengan mengayunkan lengan kirinya pelan, sambil mengucapkan kata-kata bujukan agar si kakak diam.
Tak berapa lama tangisan si bayi reda, berbeda dengan sang kakak yang masih sesenggukan. Sang ayah yang mendengar suara tangisan di kamarnya, bergegas masuk untuk menenangkan sang anak.
"Anak papa kenapa, hmm? Cantiknya ilang loh kalau nangis terus," tanya Reno seraya mendekati anak perempuannya itu.
"Li um dek, dek angis," sahut Mentari terbata di sela isak tangisnya.
"Papa ndak alah Li?" tanya bocah itu kemudian dengan raut wajah ketakutan.
"Papa sama mama nggak marah sama Mentari. Lain kali kalau mau cium adek, pelan saja jangan ditekan biar adek nggak sakit," jawab Reno dengan suara lembut.
"Ma?" Mata Mentari menatap sang ibu sambung dengan mata berkaca-kaca, seolah bertanya apakah ucapan ayahnya benar atau tidak.
"Iya, Sayang. Mama sama papa nggak marah kok. Tadi adek kaget aja karena baru saja tidur. Jangan nangis lagi, ya?"
Acara aqiqah berlangsung sore hari, dengan dihadiri oleh beberapa tetangga terdekat juga sanak keluarga, serta beberapa teman kantor di mana Reno bertugas. Selain mengundang tamu ke rumah mereka, Reno juga mengirimkan dua ekor kambing aqiqah dan sembako ke panti asuhan. Laki-laki itu sengaja melakukan hal itu agar Alya tidak kelelahan.
Acara diawali dengan doa bersama dipimpin oleh seorang ustadz kenamaan, Gus Mistah. Kemudian, acara dilanjutkan dengan potong rambut si bayi. Acara diakhiri dengan makan bersama.
Tampak wajah ceria Reno dan Alya dalam menyambut para tamu undangan. Mereka menggunakan baju dengan warna senada, begitu juga dengan kedua anak mereka. Senyum tak pernah luntur dari bibir pasangan muda itu sepanjang acara sampai tamu pamit pulang.
"Alhamdulillah, akhirnya kelar juga. Semoga membawa keberkahan untuk semuanya," ucap Alya dengan penuh rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah padanya sekeluarga.
"Capek, hmm?" tanya Reno dari belakang tubuh Alya, kemudian tangannya melingkar indah di pinggang sang istri.
__ADS_1
"Sedikit, tapi aku senang. Acara berjalan lancar dan semua tamu undangan hadir. Di mana bagian yang tidak membuat senang dan bahagia?"
"Alhamdulillah ya, Sayang."
Tiba-tiba Reno berjongkok di depan sang istri setelah mengucap hamdallah, sehingga membuat wanita dua anak itu langsung menarik sang suami agar berdiri.
"Terima kasih, Sayang. Sudah mau memaafkan dan menerimaku yang penuh dengan salah dan dosa ini. Terima kasih telah melengkapi hidupku sehingga menjadi sesempurna ini. Aku akan selalu mencintaimu dulu, kini dan di masa yang akan datang," ucap Reno tatapan dalam penuh cinta.
"Kamu ngomong apa sih, Mas? Aku yang seharusnya terima kasih karena dicintai oleh lelaki seperti kamu. Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini. Walau banyak halangan yang harus kita tempuh untuk bersatu. Aku yakin itu yang akan semakin menguatkan cinta kita."
"I love you ...." Kedua insan itu berucap secara bersamaan kemudian saling memeluk.
Mentari dan Abimana menjadi rebutan para kakek dan nenek itu. Walaupun bukan cucu pertama dari keluarga Harya Kusuma, mereka sangat menyayangi kedua anak Reno. Mentari yang gemoy dan lucu, sedangkan Abimana menggemaskan karena matanya selalu terpejam jika berada dalam gendongan siapapun.
Alya dan Reno melihat mereka sambil berpelukan dengan senyum mengembang.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai langkah perjalanan rumah tangga kita."
*
*
*
End
__ADS_1