Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 16


__ADS_3

Setelah Alya memberikan ceramahnya, dengan tenang dia meninggalkan Rendra begitu saja. Dia ingin tetap waras, jadi tidak perlu mengambil hati sifat Rendra yang mudah meledak itu.


Sebenarnya tidak ingin membandingkan antara sang mantan dengan pacar sekarang. Namun, sifat mereka yang bertolak belakanglah yang kadang membuat Alya secara tidak sadar membandingkan keduanya. Yang satu terlalu sabar sehingga mudah dimanfaatkan orang, satunya lagi mudah meledak sehingga semua orang takut untuk mendekat.


"Huffftt, melamar tanpa melalui orang tua apa itu sah? Kenapa juga dia nggak mau bertemu ayah sama bunda? Sudah tiga bulan pacaran tapi ngambang. Ahh, entahlah!"


Ternyata Rendra mengejar Alya yang terlebih dahulu keluar dari restoran sederhana yang ada di mall. Ya, mereka jadi ke mall karena ada barang yang akan dibeli Alya. Berhubung sudah dapat barangnya dan kaki pun lelah berjalan, mereka singgah di restoran terdekat untuk memesan minum dan cemilan.


"Al, tunggu! Kenapa jadi kamu yang marah sih? Seharusnya aku yang marah sama kamu, jalan sama mantan tanpa pemberitahuan," ucap Rendra begitu sudah berada di dekat sang pacar.


"Kamu mau marah? Marah saja, keluarkan semua yang menjadi beban pikiran kamu. Aku siap mendengarnya," tanya Alya dengan alis naik sebelah.


Rendra menghela napasnya kasar melihat sikap Alya yang seperti menantang dia. Rasa marah yang mulai reda pun kembali muncul.


Laki-laki itu pergi begitu saja dengan gigi bergemeletuk dan tangan mengepal kuat. Saat ini dia ingin memukul seseorang. Pergi dari depan sang pacar lebih baik dari pada pacarnya yang menjadi samsak tinju.


Alya menghirup udara sepenuh dada lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, melanjutkan langkah kakinya keluar dari mall. Pulang.


Sepulang Alya dari jalan bareng Rendra, Reno sudah berada di kafe dengan pakaian kasual. Ketampanan Reno sore ini semakin terlihat berlipat dibanding sebelumnya. Hal ini membuat Alya sedikit pangling. Gadis itu menatap lekat lelaki di hadapannya hingga mengundang tanya para karyawannya.


Reno menggerakkan tangannya di depan wajah Alya yang tampak melamun seraya memanggil namanya.


Alya tersipu malu begitu tersadar dari lamunannya. Pipinya merona bak tomat masak. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan tempat itu karena malu.

__ADS_1


Reno pun mengulum senyum melihat hal itu. Dia merasa yakin jika mantan kekasihnya itu masih memiliki perasaan yang sama dengannya. Duda anak satu itu berharap masih ada kesempatan untuk mengulang kembali kisah lama.


"Kalau aku dekati Alya lagi, bagaimana dengan Rendra? Persahabatanku dengannya sudah terjalin lama. Pasti aku akan kehilangan sahabat sebaik dia."


"Tapi, bukankah dia sudah dijodohkan orang tuanya sejak SMA? Kalau perjodohan yang sempat tertunda itu dilakukan lagi, bagaimana dengan Alya? Duuhh, bingung!"


Reno berjalan mondar-mandir dengan pikiran berkecamuk. Satu sisi dia tidak ingin kehilangan sang sahabat, di sisi lain dia tahu jika sahabatnya itu sudah dijodohkan dengan orang tuanya. Duda anak satu itu menyugar rambut lalu mengacaknya dengan kasar.


Reno benar-benar merasa dilema. Seharusnya dulu dia tidak merepotkan Alya dan mengizinkan anaknya tinggal bersama mertua atau orang tuanya. Semoga saja keinginan untuk menitipkan sang anak pada orang tua di Solo adalah keputusan terbaik.


Alya menemui Reno setelah selesai membersihkan diri. Gadis itu menggendong baby Mentari yang baru saja bangun tidur. Bayi mungil itu tampak nyaman berada dalam gendongan Alya.


Reno yang tidak sengaja melihat bagaimana interaksi Alya dengan anaknya merasa takjub. Tadi Alya yang terpesona dengan penampilan Reno, sekarang laki-laki itu yang terpesona dengan sikap keibuan sang mantan dalam mengurus anaknya.


Reno langsung mendekat pada dua wanita yang tidak memiliki ikatan apa-apa itu. Dia mengambil alih si kecil dari gendongan Alya.


"Kita pulang, ya. Besok main lagi sama aunty cantik di sini," ucap Reno pada anaknya saat si kecil merengek karena berpindah tempat dari pelukan hangat seorang wanita pindah ke ayahnya.


"Terima kasih, Al. Sudah mau menjaga Mentari seperti anak sendiri. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu lagi harus bagaimana," ujarnya kini pada sang mantan.


"Santai aja, Mas. Aku nggak apa-apa kok. Lagian yang ngurus Mentari itu mereka bukan aku," jawab Alya sambil menunjuk ke arah karyawannya dengan senyum manisnya.


Reno pun pamit dan meninggalkan kafe itu. Dia berencana membawa sang anak ke Solo saat itu juga. Lelaki itu tidak sengaja melihat perdebatan Alya dengan Rendra karena adanya Mentari di antara mereka.

__ADS_1


Belum terlambat menitipkan Mentari pada orang tuanya di Solo. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk dia dan sahabatnya. Dengan begini dia bisa menjauh dari sang mantan dan hubungan sang mantan dengan sahabatnya bisa berjalan lancar.


Walau sebenarnya sangsi akan berakhir bahagia, tetapi Reno tidak ingin ikut campur masalah Rendra dan Alya. Lelaki itu hanya berharap Rendra mau berterus terang pada Alya, jika dia telah dijodohkan sejak lama.


Sementara itu, Rendra juga dalam perjalanan pulang ke Solo karena titah dari ibu suri. Walaupun dengan berat hati dia pulang juga. Niat hati ingin menyelesaikan masalahnya dengan sang pacar, harus urung karena permintaan orang tua.


Rendra harus menghadiri acara keluarga yang dihadiri oleh keluarga Adi Nugraha dengan Suryanegara. Acara itu bertujuan untuk mendekatkan hubungan dua keluarga. Selain itu juga agar Rendra dan calon istrinya bisa mengenal lebih dekat lagi.


Reno yang baru saja tiba di rumah orang tuanya disambut dengan bahagia. Orang tua Reno dan adiknya sangat antusias menyambut kedatangan bayi mungil yang sangat mirip Aluna itu.


"Anakmu sepertinya terawat dengan baik. Siapa yang merawat Mentari selama ini? Pinter banget dia," ucap Mama Listyawati sambil mendekap sang cucu dalam gendongannya.


"Mama ingat wanita yang ke sini sama Rendra? Sebelum aku kembali dinas," tanya Reno memberi clue.


Mama Lis terdiam sejenak mengingat-ingat kejadian setahun yang lalu. Wajahnya tampak berbinar, sepertinya dia mulai mengingat kejadian itu.


"Pacarnya Rendra? Si Al, Al gitu namanya kalau tidak salah," ujar Mama Lis dengan semangat.


"Alya, Ma. Tapi Reno tidak enak sama mereka. Gara-gara aku nitip Mentari sama dia, Rendra cemburu. Makanya, aku bawa Mentari ke sini saja," jelas Reno dengan wajah sendu.


"Loh, bukannya si Rendra sudah dijodohkan dengan anaknya Suryanegara? Lha wong, kemarin ketemu katanya malam ini acara lamaran tapi acara keluarga saja," tanya Mama Lis heran.


"Kalau beneran Rendra dijodohkan dengan Tiwi anaknya Suryanegara, kamu lamar saja gadis itu. Wanita yang keibuan cocok buat jadi ibu sambung Mentari."

__ADS_1


__ADS_2