Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 35


__ADS_3

Betapa malunya Regina saat mendengar jawaban dari wanita yang dituduhnya sebagai pelakor. Wanita bule itu pun langsung meminta maaf pada gadis pemilik kafe 'Rasha'.


Regina tidak tahu cerita yang sebenarnya, jika Alya bukanlah saudara sedarah. Namun, perempuan itu percaya begitu saja tanpa bertanya atau menyelidiki lebih jauh.


Ibu dari anak Bryan itu pamit undur diri setelah meminta maaf pada Alya. Dia harus segera ke rumah sakit besok pagi karena sudah ada janji dengan dokter langganan.


"Wajah Tante Regina pucat sekali, semoga dia baik-baik saja," ucap Alya begitu wanita bule itu menghilang dari pandangan.


"Sepertinya dia menahan rasa sakitnya tadi. Apa dia sedang sakit ya, Mbak?" tanya Murni menimpali.


"Sudahlah, kita lanjut menyiapkan menu untuk hari ini. Kita do'akan saja semoga Onty Regina baik-baik saja," ucap Alya.


Mama Lis masih saja membujuk anaknya untuk menemui Alya. Wanita paruh baya itu sampai menangis membujuk sang anak agar menemui gadis cantik yang pernah dihinanya itu. Dia sungguh menyesal karena pernah mengatakan sakit pada wanita yang merajai hati anaknya itu.


"Lihatlah Mentari, Reno. Apa sedikit pun kamu tidak kasihan melihat keadaannya yang seperti ini? Kalau kamu tidak mau menemui dia, biar Mama yang menemui dia!"


"Jangan ganggu Alya lagi, Ma! Reno tidak ingin membuatnya menangis lagi. Cukup kejadian beberapa bulan yang lalu, terakhir kalinya dia menangis karena aku." Reno pun tak kalah sedihnya dengan sang ibu.


Melihat kondisi Mentari yang semakin memprihatinkan, kadang membuatnya memilih menyerah. Namun, setiap kali mengingat bagaimana kesakitan yang Alya alami karena dia. Reno akan memilih bertahan tidak menemui wanita pemilik hatinya.


Suhu tubuh Mentari tiba-tiba kembali naik, sebelum terjadi sesuatu pada bayi kurus itu. Reno dan Mama Lis membawa ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan.


Saat Reno sibuk mengurus administrasi dan ruangan untuk Mentari, Mama Lis nekat menemui Alya. Semua ini dilakukan demi kebahagiaan anak dan cucunya. Apapun akan dia lakukan.


Mama Lis langsung berlutut di kaki Alya begitu menemukan keberadaan Alya di dapur kafe.


"Tolong maafkan ibu, Nak Alya! Maafkan juga Reno yang telah banyak membuat kamu sakit jiwa dan raga. Ibu mohon, maafkan kami," pinta Mama Listyawati dengan air mata berderai.

__ADS_1


Alya langsung mengajak wanita paruh baya itu untuk berdiri dan duduk di kursi yang ada di dapur. Gadis itu menuangkan air putih ke dalam gelas lalu memberikannya pada ibu Reno. Mama Lis mengambil gelas berisi air putih itu lalu menyesapnya perlahan.


"Tante, Alya sudah memaafkan Tante dan Reno jauh hari sebelum Tante meminta maaf. Jadi, Tante tidak perlu merendahkan diri hanya untuk meminta maaf pada Alya," ucap Alya dengan suara lemah lembut.


Mama Listyawati langsung menghambur ke pelukan Alya begitu mendengar jika gadis itu sudah memaafkannya. Sungguh dia merasa malu karena pernah meremehkan gadis secantik dan sebaik Alya. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.


"Tante ada perlu apa ke sini? Kalau hanya untuk minta maaf, seharusnya Tante tidak usah meluangkan waktu ke sini," tanya Alya masih dengan suara lembutnya.


"Mentari sakit, Nak Alya. Sejak kami paksa berpisah denganmu dua bulan yang lalu, dia demam. Suhu tubuhnya tidak pernah stabil, selalu saja turun naik tidak tentu. Ini baru saja kembali dilarikan ke rumah sakit sebelum ibu ke sini," ungkap Mama Lis dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya.


Alya tercengang mendengar cerita dari Mama Listyawati. Gadis itu tidak menyangka jika pertemuannya dengan Baby Mentari akan menambah masalah. Bayi itu tidak bersalah sama sekali, dia hanya korban di sini.


Regina dilarikan ke rumah sakit begitu mendarat di bandara. Wajahnya pucat seperti kapas, bahkan wanita itu tidak bisa berjalan karena tubuhnya sangat lemas.


Sementara itu Starla terus menangis memanggil ayah dan ibunya. Gadis kecil itu di rumah sakit hanya ditunggu oleh nanny yang selama ini mengurusnya. Suara tangis darah daging Bryan itu sungguh menyayat hati.


Satu jam yang lalu, Bryan baru sampai di rumah sakit dimana anaknya sedang dirawat. Saat akan memasuki lift, laki-laki itu melihat asisten merangkap manajer Regina sedang berjalan cepat mengikuti brankar yang didorong oleh beberapa perawat. Rasa penasaran membuat laki-laki itu mengikuti wanita itu.


Di sinilah laki-laki itu saat ini, menunggu mantan istrinya ditangani oleh dokter. Wanita yang menjadi asisten Regina tidak cerita banyak, dia hanya mengatakan jika umur Regina tidak lama lagi. Mendengar cerita itu, Bryan memilih menunggu dokter selesai memeriksa sang mantan.


Dokter keluar setelah setengah jam memeriksa Regina.


"Keluarga Regina Paul?"


Bryan dan Laura langsung berjalan mendekati sang dokter. Keduanya mengaku sebagai keluarga Regina. Sebenarnya Regina tidak memiliki siapa-siapa, kecuali teman yang menjadi manajer juga Bryan dan anaknya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"

__ADS_1


"Dia sebenarnya tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran. Sepertinya anjuran saya untuk istirahat total tidak didengar dan apalagi dijalankan...."


"Bukan tidak dijalankan, Dok. Dia saat ini sebenarnya dalam keadaan tertekan. Suaminya menuduh dia selingkuh lali menceraikan tanpa mau mendengar penjelasan Regina. Anak mereka saat ini juga sedang dirawat di rumah sakit ini sehingga dia kelelahan," potong Laura menjelaskan keadaan Regina yang sebenarnya.


"Seharusnya dia tidak boleh terlalu tertekan atau pun banyak pikiran. Tapi, sepertinya lingkungan tidak mendukung dia untuk tetap rileks. Sungguh sangat disayangkan sekali!" ucap dokter itu penuh kekecewaan dan prihatin.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Silakan urus dulu administrasinya!" ucap dokter itu sebelum meninggalkan Bryan dan Laura.


Regina ditempatkan di ruangan yang sama dengan anaknya, Starla. Gadis kecil itu terbangun saat suara brankar didorong memasuki ruangannya, padahal baru beberapa menit terlelap. Starla langsung menangis saat melihat ayah dan ibunya.


Regina masih dalam keadaan tidak sadarkan diri saat dipindahkan ke ruangan anaknya. Dokter sengaja memberi dia obat tidur agar banyak beristirahat dan pikirannya tenang. Semua itu demi kesehatannya yang menurun drastis.


Laura mengajak Bryan keluar ruangan begitu Starla kembali tertidur. Dia harus mengatakan yang sebenarnya keadaan sahabatnya itu pada Bryan. Lalu mengalirlah cerita dari mulut sahabat baik Regina itu.


Regina terpaksa mengambil job ke Eropa. Dia harus menjalani pengobatan untuk membunuh sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Demi ingin hidup bersama anak dan suaminya lebih lama, wanita itu harus segera berobat.


Regina sengaja memilih Eropa karena kebetulan ada yang menawarinya pekerjaan. Sambil menyelam minum air, itulah rencana ibu dari Starla. Namun, Bryan malah menuduhnya berselingkuh.


*


*


*


Rekomendasi novel, mampir yuk!


__ADS_1


__ADS_2