
Reno tetap tidak mau menghubungi Alya untuk anaknya. Melihat hal itu, Mama Lis terus memaksa ayah satu anak itu. Namun, lelaki itu tetap menolak dengan alasan tidak ingin melukai perasaan Alya lagi.
Bagi Reno, menghubungi gadis itu sama saja membuka luka lama yang telah dia torehkan. Walaupun melukai tanpa sengaja, tetap saja luka itu karena dirinya. Bukan tidak ada rasa cinta lagi, tetapi karena rasa cinta yang besar dia harus melepaskan Alya demi kebahagiaan sang pujaan hati itu.
"Mencintai yang sesungguhnya adalah rela melepaskan untuk kebahagiaan orang yang dicintai. Sudah cukup aku menorehkan luka pada dia, Ma. Aku tidak ingin melihat dia menangis lagi karena aku," ucap Reno lirih.
"Kamu melepaskan dia untuk kebahagiaannya, tapi kamu dan anakmu kesakitan di sini tanpa dia. Kamu ingin melihat dia bahagia dengan mengorbankan kebahagiaan anakmu, kesehatan anakmu. Kamu boleh saja mengorbankan perasaan kamu, tapi lihat juga anakmu yang juga butuh bahagia!"
Kita tinggalkan sejenak kegundahan Reno dan keluarganya. Di belahan bumi selatan, tepatnya di Melbourne.
Regina memaksa masuk ke ruangan Bryan, walaupun sudah diperingatkan jika saat ini laki-laki itu sedang ada meeting dengan perusahaan rekanan. Wanita itu masuk begitu saja setelah mengetuk pintu, tidak peduli di ruangan itu ada beberapa orang yang sedang membicarakan bisnis.
"Bisa minta waktu kamu sebentar?" tanya Regina tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Kalau itu urusan pribadi, sebaiknya kamu tunggu saya selesai rapat," sahut Bran dengan wajah dinginnya seraya menunjuk pintu.
"Aku tunggu di ruang pribadi saja," ujar Regina sembari melenggang menuju pintu arah ke kamar mandi. Ruangan pribadi Bryan berada di sebelah kamar mandi dengan pintu yang saling terhubung.
Regina sengaja datang ke kantor itu untuk menanyakan kepergian Bryan yang selalu mendadak dan tanpa ada yang mengetahuinya. Saat Bryan pergi beberapa hari yang lalu, Starla selalu menanyakan sang ayah bahkan sampai demam.
Setelah selesai, Bryan langsung masuk ke ruangan pribadinya menyusul Regina.
"Sudah berapa kali saya katakan, kita sudah berakhir karena talakku telah jatuh padamu. Itu artinya kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, saya harap kamu tidak perlu ke sini jika itu tidak berhubungan dengan Starla," bentak Bryan begitu masuk ke ruangan yang penuh kenangan saat keduanya masih bersatu.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menganggap kamu mantan. Aku kesini hanya ingin bertanya kamu kemana saja dua hari yang lalu? Starla demam sampai harus menjalani rawat inap, apa kamu tahu?"
Bryan terkejut mendengar darah dagingnya sakit dan harus menjalani rawat inap.
"Aku yakin kamu tidak tahu. Karena kamu sedang sibuk membujuk selingkuhan kamu untuk menikah!" sindir Regina
"Kalau kamu merasa sebagai seorang ayah, jenguklah Starla di rumah sakit!" ujar Regina lagi sambil membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu.
Regina langsung menuju rumah sakit setelah keluar dari gedung pencakar langit dimana kantor Bryan berada. Dengan tubuh lemas lunglai dia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dimana Starla, sang anak dirawat.
"Maafkan Mommy, little poni," ucap Regina lirih begitu sampai di ruangan sang anak dan mendapati anaknya tidur dengan pulas.
Tak lama setelah Regina masuk ke ruangan itu, nanny pengasuh Starla keluar dari kamar mandi.
"Nyonya...."
"Malam ini aku akan berangkat ke Indonesia. Kamu jaga little poni dengan baik," ucap Regina pada sang nanny.
Ya, Regina sengaja ke Indonesia, tepatnya di Jogja untuk menemui wanita yang membuat sang suami berpaling darinya. Dia akan meminta wanita pelakor itu untuk meninggalkan atau paling tidak menjauhi ayah dari anaknya. Semua demi anak yang masih berusia dua tahun itu.
Alya terbangun saat alarm ponselnya berbunyi. Gadis itu bangun, kemudian melihat ke arah jam yang ada di nakas, jam tiga pagi. Dia lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Gadis berusia dua puluh empat tahun itu mengadukan nasibnya pada Sang Kuasa. Memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan selama ini. Tangisnya berderai kala dia meminta diberikan jodoh yang terbaik untuk semua.
__ADS_1
Semua yang dimaksud oleh Alya, baik untuk dirinya baik pula untuk keluarga, keluarga sang suami nanti juga keluarganya. Baik juga untuk agamanya.
Usai berkomunikasi dengan Sang Pemilik hidup, Alya langsung turun ke dapur untuk menyiapkan menu hari ini. Gadis itu sudah terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir setelah resign dari firma.
Gadis itu akan berhenti sejenak untuk kembali beribadah lalu melanjutkan aktivitasnya di dapur. Dia mengeksplorasi bahan sehingga tercipta menu baru yang selalu digandrungi para pengunjung kafe. Setelah beberapa jam berkutat dengan bahan makanan di dapur, Alya akan memilih merawat tanaman yang ada di kafe itu.
"Dasar ja*lang tak tahu malu! Apa tidak ada laki-laki single sampai kamu menganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak?" cerca seorang wanita dengan logat kebarat-baratan sambil menarik rambut Alya.
Alya yang saat itu sedang mencabuti rumput di pot tanaman terkejut, tiba-tiba saja ada yang menarik rambutnya dan mencaci maki dengan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan di tempat umum. Gadis itu tampak kesakitan, tetapi berusaha bersikap tenang menghadapi orang yang tidak dikenal itu.
"Menggoda laki-laki yang sudah memiliki anak dan istri? Apa aku tidak salah dengar?" Alya balik bertanya pada wanita berparas bule itu.
"Asal Anda tahu, Miss or Mistress, saya tidak tahu harus memanggil Anda dengan sebutan apa. Seingat saya, tidak ada laki-laki yang dekat sama saya selama ini. Kalau pun dekat itu paling keluarga."
"Kalau seorang suami berpaling dari sang istri, seharusnya si istri tersebut akan mencari solusi untuk mempertahankan bukan malah melabrak seseorang yang belum tentu mengenal suamimu!"
Dua wanita itu saling adu mulut, mempertahankan pendapatnya. Tidak ada yang merasa bersalah sama sekali. Alya yang tidak merasa dekat dengan laki-laki manapun, begitu juga dengan Regina yang merasa suaminya direbut oleh wanita di depannya itu.
Para karyawan yang melihat kejadian itu langsung melerai. Dion menarik Alya sedang Fauzi menarik tubuh Regina. Fauzi terpaksa memeluk Regina dari belakang agar wanita itu tidak menyerang majikannya.
"Kita bicarakan di dalam baik-baik, malu jadi tontonan orang banyak," ucap Dion sambil menyeret sang majikan.
Alya berulang kali mengibaskan tangan Dion, tetapi cengkeraman itu semakin kuat. Tidak kunjung lepas, akhirnya gadis itu menurut saja. Apalagi, cengkramannya tidak begitu menyakitkan.
__ADS_1
Mereka semua sudah duduk melingkari meja di tengah-tengah kafe. Alya meminta pada wanita bule untuk berbicara terlebih dahulu, sehingga mengalirlah cerita tentang pernikahan Regina dan Bryan. Terakhir, tuduhan pelakor itu kembali dilayangkan pada Alya.
"Hahaha... Anda ternyata tidak mengenal dekat keluarga suami Anda. Kenalkan saya keponakan Om Bryan!"