
Anisah terkejut mendengar suara orang yang dikenalnya tiba-tiba sudah berada di depan pintu. Rasa bencinya pada Alya semakin menggunung, emosi yang sempat turun kembali naik lagi. Selalu saja wanita yang menjadi saingannya itu lebih beruntung darinya.
"Oh, mau jadi pahlawan kesiangan kamu, Mas? Atau kamu mau melihat bagaimana mereka menikmati wanita murahan ini?" cerca Anisah dengan senyum sinisnya.
"Kamu ini kenapa, Nisah? Kalian sama-sama perempuan kenapa kamu tega menyakitinya?"
"Karena kamu dan Mas Rendra lebih mencintai dia. Lebih memilih dia dari pada kami. Apa bedanya kami? Bukankah kami sama-sama perempuan?" Anisah mengeluarkan kata-kata yang menjadi boomerang bagi Reno.
Ya, laki-laki yang mengikuti itu adalah Reno. Dia selama ini selalu mengikuti Alya secara diam-diam. Hanya ingin memastikan bahwa wanita yang sangat dicintainya itu selamat sampai tujuan. Walaupun tidak bisa melindungi secara langsung, paling tidak melindungi secara diam-diam.
Di saat semua fokus dengan perbincangan sepasang kekasih itu, Alya mulai menggeser tubuhnya perlahan, menjauh dari preman yang siap memangsanya. Namun, baru beberapa meter saja bergeser dari tempat semula, salah satu preman menyadarinya. Tanpa menunggu perintah dari sang majikan, preman itu langsung mendekati Alya.
"Mau mencoba kabur, hah?"
Reno mengalihkan pandangan dari Anisah ke arah Alya. Tatapan mata Reno berubah sendu, dadanya terasa sakit melihat wanita yang dicintai dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seharusnya dia melindungi wanita itu bukan menyakiti karena sejatinya cinta tidak menyakiti.
"Lepaskan Alya, Nisah! Dia tidak bersalah. Aku yang bersalah," pinta Reno sekali lagi.
"Lepaskan dia? Biar kalian bisa hidup bahagia, begitu 'kan?" tanya Nisah sarat akan tuduhan.
"Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan dia. Aku akan membuat dia merasakan seperti apa yang kami rasakan. Tidak pernah dianggap ada oleh orang yang kami cintai!" Anisah menolak untuk melepaskan Alya.
Anisah mengeluarkan pisau kecil yang disembunyikan di balik tubuhnya. Dia berjalan mendekati Alya. Gadis itu mengancam akan membunuh Alya jika Reno mendekat dengan menempelkan pisau itu di leher mantan kekasih Reno.
__ADS_1
"Kamu jangan lakukan itu, Nisah! Kamu bisa dipenjara dengan tuduhan rencana pembunuhan," ucap Reno mengingatkan, berusaha membujuk Nisah agar mau mengurungkan niatnya.
"Dengan senang hati aku masuk penjara setelah perempuan murahan ini mati!" sahut Nisah sambil menekan kuat leher gadis di depannya.
Alya hanya bisa diam menahan napas tanpa berani bersuara. Hanya air mata yang mengalir deras di pipinya sebagai bentuk rasa takutnya. Tidak, dia tidak takut mati, gadis itu hanya takut keluarganya kecewa dengan kejadian yang menimpa dia.
Dicintai oleh laki-laki yang sudah memiliki hubungan dengan wanita lain, baginya adalah aib. Dia tidak pernah ingin menjadi pelakor atau pun orang ketiga dalam hubungan orang lain. Oleh karena itu, dia selalu menghindar dari Reno begitu tahu sudah menikah.
Tidak hanya itu saja, setelah tahu Rendra sudah dijodohkan oleh keluarganya. Alya juga menjauhi Rendra. Semua ini dia lakukan agar tidak ada yang merasa tersakiti olehnya.
Sayang seribu sayang, dia sudah berlari sejauh mungkin. Menghindar sebisa mungkin agar tidak terlibat komunikasi dengan dua laki-laki yang pernah mengisi hidupnya. Namun, hati dan pikiran dua laki-laki itu sudah dipenuhi dengan namanya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menyakiti perasaan dua wanita sekaligus. Padahal semua itu bukan maunya, bukan ingin apalagi menjadi rencana dia. Kini sulung dari Raka dan Shofie itu harus merasakan sakitnya menjadi tempat pembalasan dendam yang tidak pada tempatnya.
"Apa salahku padamu? Kenapa kamu ingin sekali melihat aku hancur?" tanya Alya dengan mengumpulkan segenap keberaniannya sampai tubuhnya bergetar.
Alya memejamkan mata melihat apa yang dilakukan gadis gila itu. Menghirup udara sampai sepenuh dada, kemudian mengeluarkan secara perlahan untuk mengumpulkan keberanian yang sudah mulai menipis.
Tangan dan kaki yang terikat kuat membuat ruang gerak Alya untuk melakukan perlawanan semakin kecil. Sejak tadi dia sudah berusaha membuka ikatan di tangannya, tetapi belum juga berhasil. Tangannya kini malah terasa perih seperti terkena sayatan karena gesekan kulit dengan tali nilon.
Sahabat Reno sudah berada di luar jendela ruangan itu. Dia sengaja memilih mencari jalan lain karena melihat bagaimana gadis yang menjadi pacar temannya memperlakukan korban. Dengan sangat hati-hati laki-laki itu membuka jendela yang tanpa teralis.
"Salah kamu adalah..." Anisah sengaja mengulur waktu dengan memainkan pisau ke wajah Alya sehingga meninggalkan luka goresan.
__ADS_1
"Jangan kamu lukai dia, Nisah!" teriak Reno mendekati dua gadis itu.
Melihat pergerakan Reno yang semakin dekat dengannya, Anisah langsung menekan pisau itu ke leher Alya.
"Jangan mendekat atau urat lehernya putus sekarang juga!" teriak Nisah murka.
Reno langsung menghentikan langkahnya. Dia tidak ingin membahayakan nyawa wanita yang masih merajai hatinya. Bagi Reno, waktu berjalan sangat lambat. Bantuan yang dia minta sejak tadi belum juga datang.
"Baiklah, aku tak akan mendekat. Tapi turunkan pisau itu," pinta Reno dengan suara lembut.
Anisah semakin menekan pisau itu ketika Reno memintanya untuk menurunkan pisau. Dia tidak suka laki-laki yang dicintainya lebih memikirkan wanita lain di depan matanya. Permintaan Reno semakin membuatnya murka.
"Kalian berdua kenapa diam saja! Lumpuhkan laki-laki itu agar telingaku tidak sakit mendengar rengekannya!" titah Anisah pada dua preman yang sejak tadi diam melihat apa yang sang majikan lakukan.
Tak menunggu lama, terjadilah baku hantam antara Reno dan dua orang preman bayaran Anisah. Kedua preman itu menyerang Reno secara bersama agar sang lawan cepat tumbang. Salah satu preman bahkan menggunakan kursi yang tadi diduduki Nisah untuk memukul Reno hingga kakinya kursi itu patah.
Mendengar suara baku hantam dari dalam ruangan, teman Reno perlahan membuka jendela. Kebetulan posisi Anisah dan Alya membelakangi jendela tersebut sehingga laki-laki itu memiliki peluang merebut pisau dari tangan Nisah.
Terjadi perebutan pisau antara teman Reno dengan Nisah dan berakhir pisau itu terlempar jauh dari jangkauan keduanya. Tidak disangka, ternyata kekasih baru Reno pandai ilmu bela diri.
Suasana di ruangan itu menjadi panas, mereka saling serang dan saling menghindar. Alya yang tergeletak karena terdorong oleh Anisah saat terjadi perebutan pisau. Mantan kekasih Reno itu hanya bisa menahan rasa perih pada beberapa anggota tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga, Alya berusaha untuk bangun dan duduk bersandar pada dinding. Sambil memulihkan detak jantungnya, gadis itu melihat pertarungan sengit yang mulai terlihat siapa yang akan jadi pemenangnya.
__ADS_1
"Kreekk...."
"Aaargh!"