
Bagaikan melihat granat meledak di depan mata, itulah yang dirasakan oleh Rendra saat ini. Badannya lemas seketika karena jantung memompa darah dengan kecepatan di atas rata-rata. Rendra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan terkulai.
"Kenapa diam, Bang? Apa yang kamu tutupi dari aku?" cerca Alya dengan keberanian yang dipaksakan.
Gadis itu selama ini hanya diam tanpa meminta apapun pada sang kekasih, dia hanya ingin kesetiaan dan kejujuran. Namun, itu tidak dia dapatkan dari Rendra. Takutnya kemarahan yang selalu ditunjukkan oleh Rendra sebagai pelampiasan emosinya pada orang tua yang telah menjodohkan dirinya dengan wanita pilihan mereka.
Rendra diam, dia tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Hal ini dikarenakan, lelaki itu sudah dijodohkan jauh hari sebelum dia jatuh cinta pada Alya. Kekasih Alya itu menolak perjodohan karena tidak mencintai wanita yang dijodohkan dengannya.
Sebenarnya bisa saja dia jatuh cinta dengan wanita yang dijodohkan dengannya itu. Pratiwi bukanlah gadis berperangai buruk, bahkan dia sangat pendiam dan patuh pada orang tua. Wajah gadis itu juga cantik walaupun dia tidak bisa bersolek.
Sepertinya takdir sedang mempermainkan Rendra. Di saat dia sudah memantapkan hatinya untuk Alya, tetapi masa lalu gadis itu seperti bayangan yang selalu mengikuti. Walau sebenarnya itu hanya pikiran Rendra saja.
Sejak baby Mentari diasuh oleh kakek dan neneknya, Reno jarang bertemu dengan Alya. Hanya sekali dia ke kafe, itupun untuk makan bukan secara sengaja ingin menemui Alya dan kedua orang tuanya. Walau ada keinginan untuk menjadikan Alya sebagai ibu sambung Mentari, Reno cukup tahu diri bahwa dia tidak mungkin menyakiti sahabatnya sendiri.
Setelah lama terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri, akhirnya Rendra berterus terang pada sang kekasih. Menceritakan semua tanpa ada yang ditutupi, termasuk kepergiannya dari rumah orang tua tanpa harta mereka sepeser pun.
"Kenapa kamu memilih durhaka pada orang tua? Aku tidak pantas menggantikan ibumu, sampai kapan pun beliau tidak akan tergantikan. Pulanglah!" ucap Alya dengan hati pilu.
"Aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka dengan memilihku. Sayangi ibumu, muliakan beliau, bahagiakan dia karena setiap baktimu padanya tidak akan bisa membayar pengorbanannya untuk membuatmu hadir dan ada di dunia ini."
Alya melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pemberian Rendra saat melamarnya sebulan yang lalu di puncak. Gadis itu meletakkan cincin itu dalam genggaman sang kekasih yang menemaninya beberapa bulan terakhir ini.
"Jangan karena aku, kamu menjadi durhaka. Aku kembalikan cincin ini bukan karena ada yang menempati, tetapi karena aku tidak ingin melihat seorang ibu kehilangan anaknya. Selain juga aku tidak sanggup melihat seorang anak tidak bisa mencium bau surga karena durhaka pada ibunya."
__ADS_1
Alya meninggalkan Rendra begitu saja setelah menyerahkan cincin serta mengutarakan apa yang ada dalam benaknya. Berbeda dengan sang kekasih, lelaki itu hanya bisa duduk diam. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh sang kekasih.
Walaupun Alya ingin mengakhiri, Rendra masih berat untuk melepaskan. Baginya saat ini, Alya masih kekasihnya. Dia bukanlah laki-laki yang mudah jatuh cinta, tetapi juga bukan lelaki yang mudah melupakan begitu saja.
"Rasa cinta sedang tumbuh mana mungkin bisa dengan mudah dibunuh."
Lelaki berparas tampan itu akhirnya beranjak dan pergi meninggalkan kafe 'Rasha' dengan perasaan berkecamuk. Dalam hatinya bertanya siapa yang telah memberi tahu Alya tentang perjodohan itu.
Rendra mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Dia membelokkan motornya menuju rumah kontrakan Reno. Sengaja menemui sahabatnya itu hanya untuk bertanya tentang Alya yang mengetahui perjodohannya.
Reno terkejut dengan kedatangan Rendra yang tiba-tiba di malam hari. Selama ini, sahabatnya jarang mau mendatanginya , apalagi malam hari seperti ini.
"Tumben malam-malam ke sini? Terus kenapa tuh muka kek kertas yang diremas? Kucel banget lo!" cerca Reno begitu sahabat sejak masa putih abu-abu sampai sekarang itu, datang dengan muka lesu.
"Duduk dulu! Gue ambil minum, baru lo bisa cerita sepuasnya," sahut Reno seraya menepuk pundak sang sahabat, untuk memberi semangat.
Lelaki yang sedang patah hati itu memilih mengikuti sahabatnya dari pada duduk di sofa ruang tamu. Melihat Reno mengisi air dalam panci kecil lalu memasaknya di atas kompor. Setelah itu, sang sahabat mengambil dua cangkir dan kopi hitam, meletakkan tak jauh dari kompor.
"Kopi buat gue kasih gula sama krimer. Hidup gue sudah pahit, tanpa kopi pahit!" teriak Rendra dari kursi meja makan yang tidak jauh dari Reno.
"Nggak usah teriak! Gue belum budeg," sahut Reno sambil menakar kopi, gula dan krimer ke dalam gelas.
"Siapa tahu lo jadi budeg setelah ditinggal mati bini lo," ucap Rendra pura-pura acuh.
__ADS_1
"Dia sudah tenang di surga. Jangan lagi bahas dia, karena itu hanya akan menambah siksaannya," pinta Reno dengan tatapan memohon.
"Dia itu bebas siksaan dalam kubur karena mati syahid...."
"Ndra, tolong!" potong Reno cepat, dia hanya tidak ingin membahas wanita yang meninggalkannya di saat dia belajar mencintai wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Sakit. Itu yang dirasakan oleh Reno. Sudah bertekad untuk melupakan mantan kekasih dan belajar mencintai sang istri. Namun, Tuhan memanggilnya.
"Ren, lo tahu nggak? Kira-kira Alya tahu dari siapa, kalau gue dijodohin?" tanya Rendra tiba-tiba memecah keheningan.
Reno meletakkan secangkir kopi di hadapan Rendra, lalu meletakkan secangkir kopi untuknya di depannya.
"Gue jarang bertemu dengannya akhir-akhir ini. Saat anakku di kafe dia aja, gue jarang ketemu dia. Apalagi sekarang," ucap Reno setelah duduk di depan Rendra.
"Ckk, usah bohong! Jarang ketemu bagaimana? Kemarin aja kita ketemu di sana, lo asik ngobrol sama calon mertua gue," bantah Rendra kesal karena orang tua Alya lebih dekat dengan sahabatnya itu dari pada dengannya.
"Kalau lo nggak percaya, tanya saja sama semua karyawan di kafe itu. Jangan tanya ke Alya, karena lo pasti juga nggak akan percaya!"
"Kalau masalah perjodohan itu, gue nggak pernah bahas itu. Itu masalah pribadi, gue nggak berani ikut campur. Bisa saja dia tahu dari seseorang yang kebetulan mengerti tentang keluarga lo," ucap Reno setelah menyesap kopinya.
Rendra mengangguk tanda mengerti arah pembicaraan sang sahabat. Bisa jadi ada teman atau kenalan Alya yang kebetulan mengenalnya. Atau, bahkan mengenal keluarga Adi Nugraha secara dekat.
Mereka lalu melanjutkan obrolan lainnya mengenai pekerjaan juga kehidupan pribadi yang bisa diceritakan secara umum. Satu jam asik ngobrol, Rendra pamit pulang setelah mendapat telepon dari seseorang.
__ADS_1
"Ren, gue cabut ya! Mau pulang ke Solo," pamit Rendra terburu-buru.