
Bukan tanpa alasan Raka memberikan restunya pada Alya dan Reno. Sebagai seorang ayah, dia selalu memantau keadaan anak-anaknya. Begitu juga dengan Alya, anak perempuan pertama yang jauh dari rumah.
Raka membayar seseorang untuk selalu melaporkan apa saja yang dilakukan oleh anak sulungnya itu. Tidak hanya kegiatan sang anak, teman perempuan atau teman laki-laki sang anak pun tak luput dari pantauannya. Tak heran jika lelaki yang masih tampan di usia kepala empat itu bisa tahu siapa Reno dan bagaimana sepak terjangnya.
Reno yang ditugaskan untuk menangkap mafia dan berakhir amnesia lalu menikahi wanita yang menolongnya itu pun Raka tahu. Namun, laki-laki itu hanya diam tanpa ikut campur tangan urusan sang anak. Jadi, saat Alya menceritakan apa yang dialami sewaktu kejadian itu, Raka merasa bersalah karena saat itu orang bayarannya sedang izin.
Raka merasa dirinya ikut bersalah karena lengah dalam mengawasi anak. Dia tidak pernah sekali pun menyalahkan Reno karena memang dia tidak bersalah dengan sengaja ingin menyakiti Alya. Salah Reno hanya satu, terlalu mudah iba pada orang walaupun orang itu hanya bersandiwara.
"Aku mengizinkan kamu menikahi anakku, tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi," ucap Raka tegas.
"Apapun syarat Pak Raka akan saya jalani, asalkan tidak untuk meniggalkan Alya."
"Sayangnya syaratku itu, Anak Muda. Tinggalkan dia jika kamu tidak bisa membuat dia menjadi prioritas kamu! Aku tidak ingin melihat air mata menetes dari matanya walau itu hanya setetes, kecuali air mata bahagia."
Reno tercengang mendengar syarat yang diajukan oleh calon mertuanya.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan Alya, jika jiwaku selalu bersamanya?"
"Kamu tahu apa kesalahan kamu selama ini? Kamu terlalu mudah iba, kasihan pada orang lain, tetapi kamu tega pada anak dan pasangan kamu."
"Bukan sep...."
"Bukan apa? Kalau kamu tidak tega pada anakmu, sudah sejak lama kamu mendatangi anakku tidak perlu menunggu sekarat. Atau jangan-jangan kamu hanya menjadikan anakku sebagai pengasuh Mentari?"
Reno hanya menunduk, ternyata tidak mudah jalannya untuk bersatu dengan Alya. Walaupun orang tua sudah merestui, ternyata ini adalah permulaan untuk berjuang. Berjuang untuk meraih hati sang calon mertua.
__ADS_1
"Tujuan saya ingin menjadikan Alya sebagai istri bukan sebagai pengasuh anak saya. Saya begitu mencintai sampai merasa tidak pantas bersanding dengan dirinya yang seperti malaikat. Saya hanya seorang pendosa, apa saya pantas menjadi imamnya. Itu pertimbangan saya selama ini, bukan karena anak saya dengan istri pertama," jelas Reno panjang lebar.
Laki-laki itu akhirnya bisa berbicara sejujurnya pada sang calon mertua. Selama ini dia simpan sendiri kenapa dia tidak bergerak cepat melamar Alya.
"Kalau kamu mencintainya seharusnya kamu berjuang! Kamu itu seorang polisi, jangan mengayomi masyarakat bisa tapi tidak bisa mengayomi keluarga. Terutama anak dan istrimu!"
"Siap, Pak! Saya akan berusaha untuk membuat Alya bahagia di sisi saya. Saya akan berjuang untuk mempertahankan dia di sisi saya sampai maut memisahkan," janji Reno pada Raka.
Setelah acara lamaran selesai, esok harinya Reno mendaftarkan rencana pernikahan di kantor dinasnya. Ada beberapa rangkaian persyaratan yang harus dilakukan oleh calon pengantin. Salah satunya mereka berdua harus menghadap komandan untuk dilakukan sesi sidang atau orang awam menyebut wawancara.
Rencana pernikahan yang tinggal tiga Minggu itu akhirnya berjalan lancar. Pernikahan megah itu dilaksanakan di sebuah gedung pertemuan milik Polresta dimana Reno bertugas.
Acara berlangsung khidmat dan meriah. Ada tangis haru mengiringi perjalanan cinta mereka berdua. Begitu banyak halangan dan rintangan yang menerpa tetapi rasa cinta itu tidak pernah pudar. Rasa cinta itu semakin kuat seiring banyaknya cobaan yang dilalui.
Acara resepsi pernikahan itu berlangsung sampai jam empat sore. Setelah acara selesai, Alya diboyong ke rumah Reno yang baru saja dibeli beberapa bulan lalu. Sementara Raka dan Shofie pulang ke rumah orang tua Shofie yang kini ditempati oleh Nathan, kakak Shofie.
Alya dibawa Reno ke kamarnya, semua perabotan di dalam kamar itu masih baru. Reno sengaja melakukan itu sebagai bentuk rasa cintanya pada sang istri. Dia sengaja tidak menggunakan barang yang pernah dipakai oleh istri pertamanya, demi menjaga perasaan sang istri yang baru dinikahi.
Alya langsung memindai ruangan seluas empat kali lima meter itu. Semua masih tampak baru, tidak hanya bangunannya yang baru, semua perabot di rumah itu sepertinya masih baru juga.
"Kamu tidak seharusnya membeli semua perabotan baru untuk rumah ini. Pemborosan namanya," ucap Alya sembari meraba setiap perabot yang ada di dalam kamar mereka.
"Aku menyiapkan rumah dan perabot ini hanya untuk kamu. Aku membeli rumah dan semua perabotan ini, setelah aku mendapatkan jawaban dari setiap do'a yang aku langitkan. Apalagi jawaban itu adalah dirimu," jujur Reno sambil memeluk sang istri dari belakang.
__ADS_1
"Sudah sore, sebaiknya kamu segera mandi. Bukankah kamu capek hari ini?" lanjut Reno seraya mengendus leher jenjang sang istri.
Alya memiringkan tubuhnya menghindari serangan sang suami yang tiba-tiba. Jantungnya serasa melompat keluar dari tempatnya. Darahnya berdesir karena selama ini tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis.
"A-aku mandi dulu. Lepaskan, Mas!" ucap Alya mencoba meloloskan diri dari belitan tangan sang suami.
Reno sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Alya. Darahnya berdesir begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut sang istri. Walaupun mereka berpacaran selama setahun sebelum berpisah, mereka tidak pernah bersentuhan kulit kecuali bergandengan tangan, itu pun jarang mereka lakukan.
Reno melepaskan belitannya karena merasa tidak tega melihat wajah sang istri yang sudah seperti kepiting rebus, tetapi dia suka melihatnya. Alya pun bergegas menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan bebersih diri menjelang Maghrib. Tak lupa membawa pakaian ganti untuk dipakai di kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Alya sudah keluar menggunakan baju piyama tangan pendek dengan setelan celana panjang. Reno bergegas masuk kamar mandi karena waktu Maghrib sebentar lagi.
Pasangan pengantin baru itu menunaikan ibadah berjamaah. Alya pernah mendengar suara itu sewaktu masih pacaran, Reno seringan menjadi imam sholatnya. Mereka beribadah dengan khusyuk.
Rumah itu begitu sepi karena semua keluarga Reno sudah pulang ke Solo untuk mempersiapkan acara ngunduh mantu dua hari lagi. Alya tampak canggung menyiapkan makan malam untuk suaminya. Kepala gadis itu terus menunduk tidak berani menatap wajah sang suami.
"Kamu kenapa, hmm? Kita sudah sah jadi suami istri. Kenapa masih malu-malu begitu?" tanya Reno yang melihat wajah malu-malu sang istri.
*
*
*
Mampir guys, jangan lupa!
__ADS_1