Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 33


__ADS_3

Sudah satu Minggu Baby Mentari dirawat di rumah sakit, tetapi kesehatannya masih belum stabil. Suhu tubuhnya masih naik turun sehingga dokter belum mengizinkan dibawa pulang karena takut kejang. Suhu tubuh yang belum stabil harus dalam pengawasan ekstra agar tidak terjadi kejang atau step.


Di Melbourne sidang perceraian Bryan berlangsung alot karena Regina, istri Bryan, tidak mau bercerai. Atas nama anak semata wayang mereka, Regina menolak menandatangani surat perceraian walaupun diiming-imingi dengan tunjangan tinggi.


"Paksa dia untuk menandatangani surat itu!" titah Bryan pada sang pengacara.


"Akan saya usahakan, Tuan," jawab sang pengacara sebelum meninggalkan ruangan Bryan.


Kepala Bryan rasanya ingin pecah memikirkan perceraian yang tidak kunjung selesai. Padahal dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk itu. Semua dikarenakan bukti tentang perselingkuhan sang istri yang belum terkumpul.


Bryan menceraikan istrinya setelah sang istri meminta izin menjadi model sebuah perusahaan kosmetik di Eropa. Regina terikat kontrak selama tiga tahun dan harus tinggal di sana. Bryan merasa ada yang ditutupi oleh istrinya itu karena tiba-tiba kembali mengambil pekerjaan yang sudah setahun ini ditinggalkan.


Paman angkat Alya itu curiga sang istri berselingkuh. Oleh karena itu, sebelum terlalu dalam sakit hati dia memutuskan bercerai saja. Namun, sang istri menolak untuk bercerai dengan alasan mereka bisa masih bisa saling mengunjungi jika kangen.


Satu bulan kemudian....


Untuk menghilangkan rasa stress karena masalah yang dihadapi, Bryan memutuskan untuk ke Jogja untuk menemui sang keponakan. Dia berada Jogja hanya dua malam tanpa singgah ke Surabaya. Kedatangannya membuat Alya heran tetapi memilih diam.


"Kamu dari pada bengong gak ada kegiatan bagus ikut aku ke Melbourne aja, Al!"


"Maaf, Om. Alya lebih suka tinggal di sini bersama mereka," tolak Alya dengan halus. Mereka yang dimaksud Alya adalah para karyawan yang sudah setia menemaninya selama beberapa tahun ini.


Tidak bisa membujuk sang keponakan, Bryan lalu menyarankan agar Alya belajar membuat menu kreasi sendiri. Semua ini ditujukan agar keponakannya itu bisa memiliki kegiatan dan akhirnya lupa dengan kejadian yang menyakitkan beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Bryan meninggalkan Jogja dengan kecewa karena lagi-lagi ajakannya ditolak oleh Alya. Akan tetapi, dia tidak patah semangat. Dia akan datang lagi lain kali untuk kembali membujuknya.


Akhirnya gadis itu mengikuti saran sang paman, Alya mengisi waktunya dengan mencoba beberapa resep baru untuk kafenya. Sejak kejadian yang menimpanya hari itu, Alya kembali resign dari firma Andi. Dia takut rasa traumanya tiba-tiba datang saat menemui klien, sehingga mereka akan mengira sudah tidak berkompeten lagi.


"Mbak, ada yang nyari tuh di depan. Katanya teman satu kantor di firma lama," ucap Murni sang karyawan memberitahu pada sang majikan.


"Cowok apa cewek?" tanya Alya sembari menguleni adonan untuk menu barunya.


"Cowok sama cewek, Mbak. Ada tiga orang tadi," jawab Murni.


"Kamu cetak adonan ini pakai cetakan pastel yang warna ijo, isinya jangan terlalu banyak atau sedikit. Pokoknya pas sama kulitnya. Jangan lupa mozarella satu potong saja!" perintah Alya pada karyawannya.


"Ini pastel mercon, Mbak?" tanya Murni penasaran.


"Bukan, ini namanya cireng isi ayam mercon mozarella. Kamu simpan di tuperwer terus simpan di freezer. Kalau pas ada yang pesan baru digoreng." Alya menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh sang karyawan.


Alya mencuci tangan di wastafel lalu mengelapnya dengan handuk kecil yang tergantung di dekat kulkas. Setelah itu, dia keluar dari dapur menuju tempat dimana teman-temannya duduk memesan makanan. Ternyata temannya tidak hanya tiga, ada lima orang yang sedang menikmati menu andalan kafe tersebut.


"Hai, Al! Apa kabar? Makin cetar saja nih, lama nggak ketemu," sapa Ricko, satu-satunya teman cowok yang datang bersama rombongan.


"Hai semua, maaf nunggu lama. Ada angin apa nih yang bawa kalian ke sini? Tumben," sahut Alya mengulurkan tangan pada temannya satu persatu. Mereka melakukan salaman ala mereka.


Alya akhirnya ikut duduk bergabung dengan teman satu timnya saat masih kerja di firma. Mereka bercengkrama melepas rindu setelah satu bulan lebih tidak bersua. Saling menanyakan kabar juga saling melempar ledekan.

__ADS_1


"Tadi Lo lama banget di dalam?"


"Buat menu baru buat besok, kalau hari ini laku ya dikeluarkan juga. Hahaha!" jawab Alya dengan wajah berbinar.


"Kamu ya, otak bisnisnya jalan terus. Makanya bolak-balik resign dari firma, padahal sudah jadi anak kesayangan bos. Masih saja memilih resign," ujar Vio.


"Keluarin dong menu barunya! Kita-kita juga pengen tahu rasanya kali," ujar Ricko mewakili teman-teman.


Alya pun beranjak hendak ke dapur untuk memberikan perintah pada karyawannya untuk menggoreng beberapa buah cireng. Gadis itu memberikan contoh bagaimana menggoreng agar tidak terjadi kesalahan.


Usai memberikan contoh menggoreng, Alya kembali ke meja dimana teman-temannya berkumpul. Gadis itu langsung meletakkan satu piring berisi cireng isi ayam mercon. Belum selesai membenarkan duduknya, cireng isi ayam mercon itu sudah bersih tak bersisa.


Alya dibuat melongo dengan aksi teman-temannya yang gercep lihat makanan. Namun, dia bahagia karena masakannya disukai oleh mereka. Walau itu baru pertama kali dia mencoba memasak, ternyata sudah disukai pengunjung kafe.


"Wow, enak sekali kudapan masakan Lo! Gue mau dong dibungkus dua porsi," teriak Vio, lalu diikuti oleh teman-teman yang lainnya.


Teriakan Vio yang terlalu kuat membuat sebagian pengunjung mendengar dan ikut memesan makanan itu. Alhasil, cireng ayam mercon buatan pemilik kafe itu ludes dalam waktu sekejap. Sore harinya, Alya kembali membuat adonan untuk stok malam ini dan besoknya.


Setiap hari yang dilakukan oleh Alya adalah mengeksplorasi bahan-bahan dapur menjadi menu baru di kafe. Dalam kurun waktu satu Minggu kafe itu sudah semakin ramai dan terkenal sampai luar kota. Gadis itu sampai kuwalahan dalam menyediakan stok makanan sehingga menambah karyawan lagi.


Sementara itu, Baby Mentari semakin hari badannya semakin kurus karena keluar masuk rumah sakit untuk menjalani perobatan. Sudah beberapa dokter, bahkan orang pandai pun ikut mengobati bayi mungil itu. Namun, belum juga menunjukkan tanda-tanda berhasil.


Hampir semua yang mengobati Mentari menyarankan agar Reno segera menikah agar bayi itu mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Hanya saja, setiap Mentari dikenalkan pada beberapa wanita yang kebetulan dekat dengan Reno, malah semakin histeris.

__ADS_1


"Ren, kamu kabari Nak Alya. Biar dia menjenguk Mentari. Mama kasihan melihat keadaannya yang semakin memprihatinkan seperti ini," pinta Mama Lis pada anaknya.


"Reno malu, Ma. Selama ini aku selalu merepotkan dia dan menambah bebannya. Aku tidak tahu mau ditaruh dimana wajahku jika bertemu dia. Ditambah lagi Mentari yang tidak bisa pisah dari dia."


__ADS_2