
"Aku tidak mau dijodohkan, Ibu! Tolong mengertilah. Bukankah sejak dulu sudah aku katakan, jika aku tidak ingin dijodohkan?" Rendra menolak acara perjodohan itu di depan semua keluarga.
"Narendra! Apa susahnya kamu patuh pada orang tua? Pratiwi bukan gadis sembarangan. Dia wanita berpendidikan tinggi, selain itu juga bibit, bobot dan bebetnya. Tapi kamu malah menolaknya demi wanita yang tidak jelas itu. Dimana pikiran kamu?" bentak Ayah Adi Nugraha.
"Aku tidak ingin dipaksa, Ayah! Aku sudah dewasa, tahu mana yang terbaik untuk diriku dan keluargaku nanti," sahut Rendra dengan lantang.
Perdebatan antara orang tua dan anak itu disaksikan oleh dua keluarga, yaitu keluarga Adi Nugraha dan Suryanegara. Mereka hanya menjadi penonton, tidak ada yang berusaha melerai mereka bertiga.
"Jika kamu tetap bersikeras menolak perjodohan ini, tinggalkan rumah ini beserta fasilitas dari kami!" usir Adi Nugraha pada anak laki-laki satu-satunya.
Lelaki tua itu sungguh kecewa dengan sikap sang anak yang melawannya. Selama ini dia terlalu memanjakan anaknya, mengikuti semua kemauan anak itu. Adi Nugraha hanya mengajukan satu permintaan saja ditolak mentah-mentah, yaitu menikah dengan wanita pilihan keluarga.
Istri Adi Nugraha, Karima, menangis melihat anak kesayangannya meninggalkan rumah besar mereka, setelah meletakkan beberapa kartu sakti pemberian sang ayah dan surat-surat kendaraan beserta kuncinya di atas meja. Rendra hanya mengantongi beberapa lembar uang juga kartu tanda pengenal dan satu kartu ATM dimana gajinya diterima.
Rendra berjalan menuju jalan raya untuk menunggu bis malam tujuan Jogja lewat. Tak ada harta dari orang tua yang dibawa, dia hanya membawa hasil keringatnya sendiri.
Tengah malam, Rendra masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang dibelinya setelah bergabung dengan satreskrim. Dia sengaja membeli rumah karena ingin bebas beraktivitas kapan saja.
Alya bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Tidak tahu kenapa malam ini dia begitu gelisah sehingga tidurnya tidak bisa nyenyak. Sering terbangun karena mimpi-mimpi aneh menghiasi tidurnya.
Seperti biasa sebelum pergi ke kantor, Alya mengecek keadaan kafe. Pagi ini serasa ada yang hilang dari hidupnya. Sejak tadi hanya mondar-mandir tanpa tahu harus melakukan apa, akhirnya dia pun terlambat pergi ke kantor.
Anak pasangan Raka Pradipta dan Shafeeyah itu galau karena menemukan mainan Mentari yang masih tertinggal di dapur. Alya langsung memasukkan mainan itu ke dalam tasnya. Dia berencana akan memberikannya pada Reno jika bertemu nanti.
Rendra berangkat ke kantor menggunakan kendaraan umum karena mobil dan motornya merupakan pemberian orang tua, sehingga tidak bisa dipakainya lagi. Hari ini dia ingin izin sebentar untuk membeli motor untuk alat transportasinya.
Rendra menghubungi Alya, dia ingin ditemani sang kekasih saat membeli motor. Alya pun menyanggupinya. Mereka akan pergi ke showroom saat makan siang agar tidak menganggu aktivitas dan tidak perlu meminta izin lagi.
__ADS_1
Berhubung Rendra tidak memiliki kendaraan, Alya yang datang ke kantor sang pacar untuk menjemput. Polisi muda itu sudah menunggu di pintu gerbang sehingga bisa langsung berangkat begitu Alya tiba.
Alya merasa heran karena tiba-tiba sang kekasih ingin membeli motor. Setahu Alya, Rendra memiliki mobil dan motor, bahkan mobil yang dipakai sering berganti-ganti.
"Bang Rendra kenapa beli motor lagi? Bukankah motor Abang yang lama itu masih bagus?" tanya Alya bertubi-tubi karena penasaran.
"Pengen pakai matic," jawab Rendra singkat karena takut ketahuan berbohong.
Selama berdua, Rendra tidak pernah membahas apa yang terjadi dengan dirinya. Lelaki itu sangat tertutup orangnya, tidak mudah berbagi cerita pribadi pada orang lain, bahkan pada pacar sekalipun. Dia belum bisa bercerita terus terang pada kekasihnya itu.
Rendra berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memperjuangkan cintanya walau nyawa taruhannya. Cukup sekali dia kehilangan wanita yang menguasai hati dan pikirannya. Kini dia ingin mempertahankan wanita yang mampu menggetarkan hatinya, menggantikan wanita itu.
Rendra pernah memiliki kekasih saat masih memakai seragam abu-abu. Gadis itu harus meninggalkannya setelah diancam oleh keluarganya. Setelah sekian tahun berpisah, mereka dipertemukan dalam keadaan yang tidak mungkin bersatu.
Wanita itu telah menikah dengan seorang pengusaha yang memiliki selisih usia terpaut jauh. Menikah karena dipaksa orang tua Rendra. Namun, mantan kekasih Rendra itu kini telah hidup bahagia.
Usai makan, keduanya berpisah di mall itu karena pekerjaan. Rendra kembali ke kantornya menggunakan jasa taksi online sedangkan Alya mengendarai motornya menuju kantor. Namun, di tengah perjalanan Alya harus pulang karena orang tuanya datang.
Saat tiba di kafe, ayah dan bunda Alya tampak sedang ngobrol dengan seorang laki-laki. Gadis itu langsung mendekati mereka dengan wajah berseri karena bahagia sudah lama tidak bertemu.
"Mas Reno?" Alya merasa heran dengan keberadaan Reno di antara ayah dan bundanya.
"Katamu Reno hilang gak ada kabar, terus kalian putus. Ini siapa?" sindir Bunda Shofie.
Alya nyengir menampakkan deretan gigi putihnya mendengar sindiran sang bunda.
"Sudah ketemu, Bun. Lagian dia sudah ada yang punya. Jadi, sekarang ini kami hanya pure berteman," jawab Alya menjelaskan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bunda Shofie pun langsung menatap ke arah Reno, seolah-olah menanyakan kebeneran cerita anaknya. Merasa dirinya ditatap tajam, Reno pun tergeragap. Lelaki itu langsung mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Saya duda beranak satu, Tante," aku Reno akhirnya. Sebenarnya dia malu, tetapi jujur lebih baik agar nanti mudah dalam menentukan sikap.
"Oh, sudah punya anak to? Kirain belum," celetuk Bunda Shofie.
"Bun...."
"Iya, Tante. Anak saya yang asuh Alya dan para karyawan di sini, sejak anak saya lahir," cerita Reno malu.
"Hahaha!" Terdengar tawa renyah dari wanita usia kepala empat itu.
"Memang dia bisa gendong bayi? Setahuku anak itu manja lho," sahut Bunda Shofie sambil terkekeh.
Sementara Bunda Shofie dan Reno berbincang, Alya memilih menggelendoti lengan sang ayah. Sikap manjanya itu secara alami keluar saat bersama cinta pertamanya itu.
"Ayah kenapa lama baru ke sini? Yaya kangen, tahu!"
"Ayah juga kangen kamu tapi sibuk. Baru ini sempat ke sini. Kamu baik-baik saja, 'kan?"
"Seperti yang Ayah lihat," ucap Alya dengan wajah berbinar.
Merasa diterima oleh orang tua Alya, Reno pun menjadi sangat yakin untuk menjadikan Alya sebagai istrinya. Namun, begitu mengingat sahabatnya dia kembali ragu-ragu untuk melangkah.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Reno mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Alya sebagai ibu sambung anaknya.
"Apa?" Alya terkejut dan seakan tidak percaya ketika sang mantan melamarnya di depan orang tuanya.
__ADS_1