
Alya kembali ke kantor usai belanja karena waktu istirahat telah habis. Tadi Alya sengaja ke mall dekat kantornya untuk sekedar membunuh rasa bosan sekalian membeli baju untuk kerja.
Reno yang sedang dinas di pinggir jalan, tiba-tiba saja merasakan sakit kepala yang hebat karena mendengar suara rem berdecit di dekatnya. Seorang pengendara mengerem mendadak karena lampu tiba-tiba berubah dari kuning ke merah. Suara itu membuat memori Reno kembali lagi walau sedikit.
Reno duduk pos penjagaan sambil memijit pelipisnya pelan. Bayangan seseorang di masa lalu melintas dalam pikiran Reno. Awalnya bayangan itu tidak begitu jelas, tetapi lama-lama wajah ayu seorang gadis begitu jelas hadir dalam ingatannya.
Bayangan Alya yang mengerem tepat di depannya sehingga hampir menabrak Reno, yang saat itu berdiri di bawah tiang lampu traffic light hendak menyeberang jalan. Waktu itu ada seorang nenek yang akan menyebrang jalan. Reno pun berinisiatif untuk menyeberangkan, tetapi saat baru beberapa langkah dia hampir ditabrak oleh seorang mahasiswi cantik.
Empat tahun yang lalu,
Seorang perempuan yang sudah renta berjalan menggunakan tongkat berdiri di bawah tiang lampu rambu-rambu lalu lintas. Dia hendak menyeberang jalan, tetapi takut tertabrak karena jalannya sangat lambat. Setiap kali akan berjalan selalu urung sehingga menarik perhatian seorang polisi yang sedang bertugas tak jauh dari sana.
Polisi itu adalah Reno, dia mendatangi nenek itu dan berniat untuk membantu menyeberang jalan.
"Nenek mau kemana? Kenapa sendirian di pinggir jalan raya?" sapa Reno pada wanita usia senja itu.
"Nenek mau pulang. Rumah nenek di seberang itu. Kamu bisa bantu nenek menyeberang?"
"Ayo, Nek. Saya antar nenek sampai di depan rumah nenek."
Reno memegang tangan nenek itu. Mereka mulai turun ke jalan tetapi masih berada di pinggir. Tiba-tiba saja ada seorang mahasiswi yang mengerem mendadak karena hendak menabrak mereka.
Nenek itu pun gemetaran karena terkejut mendengar suara rem yang sangat keras dan tiba-tiba. Reno langsung mendekati pengemudi itu dan menegurnya.
"Lain kali kalau mengendarai motor itu tidak usah membalap. Apalagi ini persimpangan, seharusnya kamu bisa mengurangi kecepatan jauh sebelum sampai di persimpangan. Tunjukkan SIM kamu, siapa tahu kamu belum memiliki SIM!"
"Enak saja! Saya sudah memiliki SIM, Pak. Saya mengikuti tes sebelum mendapatkan SIM asal Bapak tahu!"
__ADS_1
Mau tidak mau pengendara motor itu mengeluarkan SIM-nya lalu menyerahkan pada Reno. Reno menerimanya lalu membaca identitas yang tertera.
"Kali ini kamu saya lepaskan. Jika kamu mengulangi lagi, maka saya sendiri yang akan menindak kamu!" ucap Reno penuh ancaman.
"Terima kasih, Pak Pol ganteng," ucap Alya dengan nada meledek lalu kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi
Reno langsung menandai motor itu dan pemiliknya. Dia yang memiliki otak cerdas memudahkan mengingat nomor kendaraan itu.
Besoknya, gadis itu kembali bangun kesiangan. Takut terlambat mengikuti kuliah, dia kembali mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, bahkan sampai menerobos lampu merah.
Kebetulan Reno kembali bertugas di persimpangan itu. Reno yang sudah tanda dan masih ingat nomor kendaraan itu langsung mengambil motornya dan mengejar si pengendara.
Terjadi aksi kejar-kejaran antara pengendara dengan polisi. Reno terus mengikuti laju kendaraan itu sampai si pengendara berbelok ke area kampus. Dia pun kehilangan jejak si pengendara.
Reno memarkir motornya di samping motor si pengendara. Setelah terparkir dengan sempurna, Reno turun mengempeskan ban motor itu. Saat hendak berdiri tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang mendekatinya.
"Oh, tadi kunci motor saya terjatuh. Tetapi saya, tidak sengaja melihat ban motor ini kempes. Jadi, saya ingin melihat kenapa bisa kempes. Apa motor ini sudah lama terparkir di sini?" bohong Reno.
"Itu motor teman sekelas saya, Pak. Mana mungkin motor itu lama diparkir di sini. Teman saya mau naik apa kalau motornya di sini? Saya mengira teman saya menerobos lampu merah, makanya ada polisi di sini," sahut gadis itu.
"Kalau boleh saya tahu, jam berapa biasanya kalian pulang?" tanya Reno tiba-tiba.
"Untuk apa Pak Polisi tanya itu?"
"Untuk memastikan kapan saya harus ke sini membantu mengisi angin atau mengantar ke bengkel, misalnya," alibi Reno.
"Oh, begitu. Pak Polisi nanti datang satu setengah jam lagi aja. Kami kuliah dua SKS kali ini," jawab gadis itu dengan jujur lalu meninggalkan area parkir itu setelah pamit.
__ADS_1
Tepat satu setengah jam, Reno sudah duduk di atas motor Alya. Dia sengaja menunggu di sana untuk memberikan surat tilang pada gadis itu. Jika tidak ditilang sekarang, pasti besok akan terulang kembali. Mengendarai motor secara ugal-ugalan di jalan raya.
Orang yang Reno tunggu akhirnya datang juga. Mata gadis itu membulat saat melihat polisi yang kemarin menegurnya. Gadis itu masih mengingat dengan wajah tampan sang polisi yang saat sedang duduk di atas motornya.
"Ini surat tilang kamu! Satu minggu lagi silakan hadiri sidangnya!"
Mau tidak mau, Alya mengambil surat tilang yang diberikan oleh polisi ganteng itu. Dengan memberanikan diri, Alya melakukan negosiasi agar tidak mengikuti sidang.
"Pak, kita damai saja, ya? Ya?" pinta Alya sambil memasang wajah seimut mungkin dengan mata puppy eyes.
Reno terkesima melihat wajah cantik si pelanggar rambu-rambu lalu lintas itu. Wajah cantik alami tanpa polesan make up. Selain itu, matanya menunjukkan kepolosannya. Reno sampai harus meneguk saliva berulang kali karena tenggorokannya tercekat.
Ghemm...
"Boleh sih, asal kamu bayar dua juta rupiah. Sekarang juga!" jawab Reno dengan tenang.
"Eh, mana bisa begitu! Mahal sekali, ini namanya pemerasan. Saya akan adukan kamu dengan tuduhan pungutan liar (pungli)!"
"Apa ada bukti jika saya melakukan pungli, Nona? Kamu jangan mengarang cerita yang akan menyulitkan diri sendiri. Jadi, hadiri sidang itu atau bayar uang damai sekarang juga?" tanya Reno dengan senyum smirk-nya.
"Tidak bisa kurangkah bayarnya? Itu mahal sekali untuk saya," rengek Alya dengan manja.
Terjadi perdebatan alot antara mereka. Keduanya sama-sama kerja kepala mempertahankan pendapat masing-masing. Keributan mereka memancing orang-orang di kampus datang mendekat.
Gadis itu merasa malu karena menjadi tontonan para mahasiswa yang keluar masuk area parkir. Akhirnya, dia mengajak polisi itu untuk berbicara di kafe tak jauh dari kampus tersebut. Namun, sang polisi tetap kekeuh tidak mau meninggalkan tempat itu sebelum ada kesepakatan.
Terlalu lama membujuk tetapi tidak mempan juga membuat Alya mulai frustasi. Tiba-tiba saja dia mencium pipi polisi ganteng itu agar diam.
__ADS_1
"Baiklah, tidak usah sidang juga tidak usah membayar dua juta. Kamu jadi pacar saya saja!"