
Selama di Surabaya, Alya sangat bahagia, bahkan tidak pernah lagi bermimpi buruk. Perlahan gadis itu sudah bisa melupakan kejadian yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Hal ini dikarenakan Bryan yang selalu berada di sampingnya sehingga pikiran dia bisa teralihkan.
Akan tetapi, kebahagiaan anak Raka Pradipta itu tidak berlangsung lama. Bryan berulang kali mengajaknya tinggal di Melbourne bersama dia dan anaknya. Ajakan itu berubah sedikit memaksa karena selalu mendapat penolakan.
"Bagaimana? Jadi ikut ke Melbourne, 'kan?" tanya Bryan lagi, laki-laki sangat ingin keponakannya itu ikut bersamanya.
"Starla pasti senang bertemu denganmu. Dia sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Kalau kamu ikut ke Melbourne paling tidak Starla akan memiliki teman yang bisa bertindak seperti ibunya," lanjut Bryan sembari menghembuskan asap rokok yang tadi dihisapnya.
Alya terkejut mendengar ucapan pamannya yang ternyata menginginkan dia mengasuh sang anak, entah sebagai pengasuh atau ibu sambung. Namun, menurut pikirannya sang paman secara tersirat memintanya untuk menjadi ibu sambung. Itu adalah hal yang paling dihindarinya.
"Kenapa diam, hmm?" tanya Bryan menghadap ke arah Alya dengan mata menyipit.
"Apalagi yang kamu pikirkan? Kamu single, sebentar lagi aku juga akan menyandang status single. Tidak ada salahnya kita menikah, bukan?" tanya Bryan merasa heran melihat tingkah sang keponakan yang seperti terkena serangan panic attack.
Alya bungkam tidak tahu harus berkata apa. Dulu sewaktu dia masih anak-anak pernah berkata ingin menjadi istri Bryan. Seiring berjalannya waktu keinginan itu hilang dengan sendirinya.
Bryan yang sekarang tidak lagi membuat hatinya bergetar. Melihat Bryan seperti melihat Nathan atau Nicholas. Rasa sayangnya hanya sebagai keluarga tidak lebih.
"Maaf, Om. Alya masih belum ada pikiran atau niat untuk menikah dalam waktu dekat ini. Kalau dulu, sewaktu aku kecil pernah ingin menjadi istri Om Bryan. Itu hanya sebuah ungkapan seorang anak kecil yang kagum pada sosok laki-laki yang selalu bersamanya."
__ADS_1
"Keinginan anak-anak akan berubah seiring berjalannya waktu. Katakanlah labil, memang seperti itu dunia anak-anak. Yang jelas saat ini, perasaan Alya ke Om itu perasaan sayang pada keluarga dan tidak ada yang istimewa. Tidak ada getar atau jantung berdebar seperti perempuan dengan laki-laki yang memiliki hubungan istimewa." Alya menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini.
Bryan tampak kecewa mendengar penjelasan sang keponakan. Sepertinya dia harus lebih sabar untuk bisa move on. Niat hati ingin mencoba move on dengan menjalin hubungan dengan sang keponakan, ternyata mendapat penolakan.
"Cinta 'kan bisa tumbuh seiring kebersamaan kita setiap hari. Tidak harus sudah saling cinta baru menikah. Banyak kok pasangan yang menikah sebelum ada rasa cinta, dan mereka berhasil dalam rumah tangganya," ulas Bryan.
"Ada pepatah mengatakan cinta hadir karena terbiasa. Kenapa kita tidak mencoba membiasakan bersama?" lanjut Bryan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Alya.
"Maaf, Om. Alya ke sini untuk bersenang-senang dan menyelesaikan masalah yang menyangkut jiwa. Jika ke sini hanya untuk menambah beban pikiran, lebih baik Alya pulang saja ke Semarang," sahut Alya dengan emosi yang mulai naik.
Tanpa keduanya sadari, Anggita sejak tadi menguping pembicaraan anak dan cucunya itu. Dia tidak menyangka jika Bryan akan memaksa Alya untuk ikut bersamanya. Memang sewaktu Alya kecil, Bryan tampak menyukai Alya tetapi tidak pernah terpikir olehnya jika perasaan itu masih ada.
Belasan tahun berpisah serta memutuskan untuk berhubungan dengan model cantik, membuat Anggita yakin jika cinta Bryan untuk Alya hanya cinta monyet. Namun, setelah Alya dan Bryan ketemu cinta Bryan kembali tumbuh. Berbeda dengan Alya yang sudah menutup rapat pintu hatinya untuk laki-laki.
"Bryan, jangan paksa seseorang untuk menerima kita!" tegur Anggita pada anak bungsunya begitu Alya meninggalkan Bryan sendiri di gazebo.
Bryan terkejut dengan kedatangan sang ibu yang tiba-tiba. Terlebih mendengar tegurannya yang kurang suka dengan sikap yang dia ambil. Laki-laki itu langsung mendekati ibunya setelah mendapat teguran.
"Mom, aku hanya ingin mengajak dia untuk bangkit bersama. Aku tidak ingin melihat dia terus bersedih, bahkan menutup diri. Apa salah jika aku ingin membahagiakan dia? Ingin membuatnya kembali tertawa?"
__ADS_1
"Membuat dia bahagia tidak harus mengikat dia dengan hubungan pernikahan. Kita cukup membantu dan mengawasi dia, karena jika kamu ikat dia maka semua tidak akan lagi sama. Percayalah dengan Kuasa Tuhan, jika kalian berjodoh pasti akan bersatu," nasehat Anggita pada si bungsu.
Alya langsung mengemas pakaian dan barang-barangnya karena sudah merasa tidak nyaman lagi tinggal di rumah besar itu. Selain itu, dia juga sudah terlalu lama tinggal bersama keluarga angkatnya.
Usai membereskan semua barangnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Alya menemui sang nenek angkat untuk pamitan. Walau bagaimanapun juga dia harus pamit pada tuan rumah. Datang tampak muka pergi tampak punggung.
Anggita dan Bryan menahan kepulangan Alya sebisa mungkin. Bryan berulang kali meminta maaf dan berjanji tidak akan memaksa gadis itu lagi. Namun, sifat Alya yang keras dan teguh pendirian tetap memutuskan pulang ke Semarang saat itu juga.
"Oma harap kamu tidak kapok untuk kembali main ke rumah ini. Jangan terlalu dipikirkan apa yang tadi dikatakan oleh pamanmu! Dia saat ini juga daam keadaan tidak baik-baik saja," ucap Anggita melepas kepergian cucu angkatnya itu.
Bryan dengan berat hati mengantarkan Alya ke terminal sesuai permintaan gadis itu. Dia dan ibunya hanya bisa pasrah begitu Alya memutuskan pulang saat itu juga.
Alya memilih menggunakan bus sebagai kendaraannya. Setelah menunggu lama tidak ada bus jurusan Semarang, akhirnya gadis itu memutuskan menaiki bus jurusan Surabaya Jogjakarta.
Sesampainya di terminal Solo, Alya akan turun dan pindah bus. Namun, begitu berdiri dia berubah pikiran. Gadis itu ingin melihat suasana kafe Rasha yang sudah satu bulan tidak dilihatnya.
Gadis itu kembali duduk, urusan pembayaran ongkos bisa dibicarakan lagi nanti. Yang penting saat ini dia ingin menyiapkan hati jika bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.
Setelah lima belas menit berhenti di terminal, bus pun kembali melaju. Ada beberapa penumpang yang baru naik ke dalam bus. Ada seorang ibu-ibu paruh baya menggendong seorang bayi perempuan duduk di samping Alya.
__ADS_1
Tak lama setelah duduk, bayi itu menarik-narik tangan Alya sambil mengoceh. Gadis itu pun langsung menoleh karena terkejut. Ternyata rasa terkejutnya tidak hanya sampai di situ.
"Tan... te?"