
Mendengar Monika memanggil Alena dengan sebutan wanita ja**ng, membuat Akbi turut tersulut emosi, dia tidak terima istrinya yang begitu baik dan sempurna itu di katakan ja**ng oleh Monika. Bahkan kalau di bandingkan istrinya Alena jauh lebih baik dari pada Monika.
"Jaga kata kata kamu Monika, jangan pernah kamu memanggil Alena dengan sebutan ja**ng" kata Akbi dengan marah dia menatap Monika dengan tatapan mata yang tajam.
"Lalu aku harus memanggil nya dengan sebutan apa? jelas jelas dia yang sudah merebut kamu dari aku Akbi" jawab Monika tak kalah marah. Dia juga balas menatap mata Akbi dengan tajam.
"Monika, Alena tidak pernah merebut aku dari kamu, kamu tau sendiri kan aku dan dia itu di jodohkan dan anggap saja kalau aku dan kamu itu tidak berjodoh Monika, jadi mengerti lah Monika" ucap Akbi, kini dia sedikit menurunkan intonasi suara nya, dia berharap Monika mau mengerti dirinya.
"Aku nggak terima kamu bilang kita nggak jodoh, kamu itu hanya perlu ceraikan dia dan nikahin aku, udah itu aja," kata Monika tetep kekeuh dengan kata katanya.
"Monika, apa yang kita lakukan itu tidak benar, hubungan kita ini salah tidak seharusnya kita masih mempertahankan hubungan kita. Lagian juga Monika, lihat dirimu kamu itu model terkenal cantik dan sexy aku yakin di luar sana ada banyak laki laki yang ingin menjadi kakasih kamu, bahkan aku juga yakin banyak dari mereka yang bersedia menikahi mu Monika, kamu tidak perlu menggarap kan hubungan dengan pria telah beristri seperti aku lagi" kata Akbi panjang lebar mencoba meyakinkan Monika agar mau menuruti keinginan nya untuk berpisah.
"Aku nggak mau laki laki lain Akbi, aku cuma mau kamu, aku nggak mau yang lain, aku cuma cinta sama kamu Akbi" kata Monika menjeda kata katanya dulu.
"Apa kamu nggak cinta lagi sama aku sampai kamu tega ngomong kayak gini ke aku? Apa kamu sudah mulai jatuh cinta sama wanita itu?" tanya Monika dengan menetes kan air mata.
Dia mulai lagi drama sebagai pihak yang tersakiti sekarang.
"Monika aku akan jujur sama kamu, a...aku aku memang sudah mencintai Alena. Aku minta maaf sama kamu kalau aku tidak bisa memenuhi janji ku pada mu. Aku tau kalau aku ini pria br*ngs*k pria yang jahat aku bukan pria baik atau kamu mau ngasih julukan apa lagi sama aku, aku terima karena aku akui aku memang sudah jahat padamu. Tapi aku selalu dihantui rasa bersalah setiap aku melihat Alena, aku benar benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku mohon mengertilah Monika" kata Akbi lirih.
__ADS_1
Dia mengakui kesalahannya dia sadar kalau selama ini dia sudah menjadi pria br*ngs*k yang telah menyakiti dua wanita yang di cintai nya, tapi Akbi benar benar ingin memperbaiki diri nya dengan mengakhiri hubungannya dengan Monika, hubungan yang memang sudah tidak ada lagi setelah Akbi mengucapkan ijab Kabul di depan orang tuanya dan juga di depan mendiang ayah Alena. Dan juga ini adalah janjinya pada Allah.
"Akbi apa yang kamu katakan! Apa wanita ja**ng itu sudah mencuci otak mu sampai sampai kamu berubah seperti ini! Akbi aku tidak terima aku tidak akan melepaskan mu untuk perempuan ja**ng itu!" Kata Monika dengan berapi-api dia tidak terima dengan ucapan Akbi.
Lebih tak terima karena Monika tidak mau kalah dari Alena. Perempuan yang menurut dirinya sendiri jauh di bawahnya.
"Monika! Sudah ku bilang jangan sebut Alena dengan sebutan itu lagi! Atau aku akan merobek mulutmu itu!" kata Akbi dengan berang dia benar benar tidak suka dengan sebutan Monika untuk Alena tadi.
Emosi Monika semakin terasa di ubun ubun, baru kali ini Akbi m mbentaknya dan bahkan apa tadi Akbi ingin merobek mulut ku hanya demi membela si Ja**ng itu. Tidak Monika tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Dia harus menyingkirkan Alena bagaimana pun caranya.
"Kamu bahkan bicara seperti itu dengan ku hanya untuk membela wanita itu! Memangnya apa yang sudah di berikan ja**ng itu Akbi" Monika sudah merasa amarahnya sudah tak bisa di tahan lagi. Akbi kekasihnya membentak dirinya dan mengancamnya hanya karena dia mengatakan Alena ja**ng.
Setelah mengatakan semua itu Akbi berjalan menuju pintu dan memegang hendel pintu hendak keluar tapi tiba tiba Monika berteriak sambil mengacungkan pisau yang di gunakan untuk memotong steak Akbi tadi.
"AKBI KALAU KAMU KELUAR DARI SINI AKU AKAN MEMUTUSKAN URAT NADIKU SENDIRI" kata Monika sambil mengacungkan pisau di tangan nya.
Akbi kaget dengan apa yang Monika lakukan, dia tak menyangka kalau Monika akan berbuat nekat lagi seperti dulu.
"Monika apa kamu lakukan! Lepaskan pisau itu kamu jangan bertindak bodoh Monika!" kata Akbi dengan panik.
__ADS_1
"AKU NGGAK AKAN LEPASIN PISAU INI KALAU KAMU MASIH BERNIAT UNTUK MENGAKHIRI HUBUNGAN KITA, AKU LEBIH PILIH MATI DARIPADA HARUS KEHILANGAN KAMU AKBI" kata Monika sambil berteriak histeris.
Akbi mengacak acak rambutnya dengan gusar, mengapa Monika harus membuat semua ini jadi lebih sulit dan rumit. Yang diinginkan Akbi hanya mengakhiri hubungan nya dengan Monika dengan baik baik tapi Monika malah membuat semua ini jadi rumit.
Akhirnya dengan berat hati Akbi memenuhi keinginan Monika dan membatalkan keinginan nya untuk berpisah saat ini.
"Ok Monika kamu tenang dulu, aku tidak akan mengakhiri hubungan kita tapi kamu jangan berbuat seperti ini lagi, sekarang kamu letakkan pisau itu" kata Akbi pada akhirnya mengalah pada Monika.
Monika menjatuhkan pisau yang ada di tangannya dan menghampiri Akbi lalu memeluknya, dia pun menangis terisak isak di dalam pelukan Akbi.
Tapi dalam hati Monika tersenyum puas karena drama nya tadi bisa membuat Akbi kembali luluh, kedepannya dia harus segera menyingkir kan Alena.
Sedangkan Akbi dia mematung di peluk Monika, bila dulu dia sangat senang berpelukan dengan Monika, tapi sekarang dia merasa sangat bersalah saat dia di peluk oleh Monika.
Ntah badai apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Alena mengetahui semuanya.
Akbi bahkan tidak berani walau hanya memikirkannya.
'Maafkan aku Alena, aku bukan suami yang baik, semoga kamu bisa mengerti diriku kalau suatu saat nanti kamu tau apa yang aku lakukan ini' gumam Akbi dalam hati.
__ADS_1