Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
47. Mandi


__ADS_3

Akbi membalikkan tubuh Alena agar berhadapan dengan dirinya. Lalu pelan pelan Akbi mendekatkan bibirnya ke bibir Alena dengan memejamkan kedua matanya pun juga Alena yang ikut memejamkan matanya bersiap menerima ciuman dari Akbi.


Bibir itu semakin dekat dan kini hanya tinggal beberapa senti saja. Namun tiba tiba.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar terdengar dan tak lama terdengar suara penjaga villa dari luar kamar.


"Permisi Tuan, Nyonya saya membawakan koper tuan dan nyonya muda" ucap pengurus villa itu.


Alena langsung segera memalingkan wajahnya karena malu dengan dirinya sendiri.


"Huh ganggu aja nih Bli Kadek" gerutu Akbi lalu berjalan menuju pintu kamar dengan kesal.


"Apa?" tanya Akbi kesal pada pengurus villa itu karena sudah menggangu kesenangannya tadi.


"Ini Tuan saya membawa koper milik Tuan Akbi dan Nyonya Alena" ucapnya sopan.


"Ya sudah sini biar saya bawa masuk sendiri. Kamu pergi sana jangan ganggu saya dulu" ucap Akbi sedikit ketua karena merasa kesal.


Sang pengurus villa yang merasa tuannya sedang marah segera pergi dari sana sebelum Tuan mudanya marah marah.


Sebagai pria yang sudah menikah tentu Bli Kadek mengerti perasaan tuan muda nya itu jadi tanpa di suruh dua kali dia segera pamit pergi.


"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan. Jika butuh sesuatu panggil saja saya tuan atau istri saya. Saya permisi" pamit Bli Kadek sopan.


"Hmmm" jawab Akbi hanya berdehem.


Melihat penjaga villa itu sudah pergi, Akbi segera menarik koper itu kedalam dan setelah sampai di dalam kening Akbi berkerut melihat Alena sudah tidak ada di balkon kamar. Akbi melihat sekeliling kamar untuk mencari keberadaan istrinya tapi tidak ada sampai Akbi mendengar ada suara gemercik air dari kamar mandi. Akbi yakin seratus persen Alena pasti ada di dalam sedang mandi.


Dan otak mesum Akbi langsung terkonek dengan hal hal yang kotor.

__ADS_1


"Ini pasti kode dari Alena. Alenai pasti sedang menungguku di dalam sekarang, Beby aku datang" ucap Akbi pada dirinya sendiri.


Akbi segera melepas pakaian yang melekat di tubuhnya dan hanya menyisakan sebuah boxer saja. Dengan penuh percaya diri dan pikiran mesum tingkat dewa, Akbi berjalan ke kamar mandi dan saat Akbi ingin membuka pintu kamar mandinya ternyata kamar mandi itu terkunci dari dalam.


"Lho kok di kunci sih pintunya. Alena Beby buka pintunya Beby" ucap Akbi sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Tunggu sebentar lagi" sahut Alena dari dalam kamar mandi.


"Aku kebelet Beby udah nggak tahan mau kekamar mandi"


"Sebentar"


"Cepat Alena aku sudah nggak tahan" teriak Akbi dari luar.


"Iya iya nih aku bukain" jawab Alena kesal.


Ceklek suara pintu terbuka.


"Nggak sabaran banget sih. Udah sana masuk, awas aku mau lewat mau ganti baju" ucap Alena begitu membuka pintu.


Satu jam berlalu.


Alena keluar kamar mandi dengan raut cemberut. Dirinya baru saja selesai mandi tapi di tarik Akbi masuk lagi kekamar mandi.


"Kamu tuh ya iseng banget sih tadi katanya kebelet mau ke kamar mandi tapi malah ngajakin mandi bareng. Aku kan udah selesai mandi tadi" ucap Alena cemberut.


"Lho dimana ya aku bohong. Aku bilang kan kebelet. Kebelet ngegarap kamu" jawab Akbi mesem mesem.


"Ih..... aku pikir kebelet mau buang hajat eh malah kebelet yang lain. Kamu tuh kita baru sampai masih capek juga badan belum istirahat kamu udah ngegarap aku duluan" omel Alena.


"Iya iya maaf Beby. Abisnya udah bener bener nggak tahan Beby kan kamu udah lama nggak ngasih jatah aku. Kabur kaburan lagi dari rumah. Ya setelah kita baikan lagi ya aku nggak bisa nahan Beby" ucap Akbi sambil memeluk Alena dari belakang.

__ADS_1


"Ih.... tapi aku capek banget nih sekarang Bi gara gara kamu"


"Ya udah sini aku bantuin kamu keringin rambut biar kamu bisa cepat istirahat ok Beby" ucap Akbi lalu dia mengambil hairdryer yang ada di meja rias.


Akbi dengan cekatan membantu mengeringkan rambut Alena yang basah. Ssekali di usapnya rambut Alena lembut.


"Sudah selesai. Sekarang kita istirahat dulu ya sebelum makan malam siap nanti" ucap Akbi setelah mengeringkan rambut Alena.


"Tapi aku mau ke pantai lihat sunset. Pasti sunset nya cantik banget di sini" pinta Alena.


"Lihat sunset nya besok lagi aja. Sekarang kita istirahat dulu. Tadi bukannya kamu bilang kalau kamu capek mau istirahat. Kenapa sekarang malah mau lihat sunset bukannya istirahat" ucap Akbi.


"Tapi sayang Akbi kalau udah sampai sini tapi nggak lihat sunset" ucap Alena.


"Nggak pokoknya kita istirahat dulu nanti setelah tidur aku akan ajak kamu keliling keliling ok"


"Ya udah lah kita istirahat dulu" ucap Alena lalu naik ke atas ranjang di susul Akbi yang juga ikut membaringkan tubuhnya di samping Alena sambil memeluk tubuh Alena.


Tak menunggu lama mereka pun tidur bersama dengan posisi saling berpelukan.


Langit sore kini berubah menjadi menggelap seiring terbenamnya sang Surya. Alena yang merasa sudah cukup puas tidurnya pun terbangun. Saat dia membuka matanya, wajah Akbi menjadi penandangan pertamanya saat itu.


Alena tidak menyangka bahwa hari ini akan datang juga. Dimana dia bangun tidur dengan melihat wajah Akbi untuk pertama kalinya dan kembali tidur dalam peluk hangat suaminya setelah begitu lama terpisah.


Alena tersenyum sambil tangannya terulur membelai pipi Akbi. Di usapnya pipi Akbi dengan lembut. Tanpa terasa air matanya pun juga ikut turun seiring dengan usapan tangan Alena di pipi Akbi.


"Aku tidak menyangka hari ini akan datang lagi. Hari di mana aku terbangun dalam dekapan mu. Aku tadinya berfikir kalau semua ini akan benar benar usai. Rasanya masih seperti mimpi saat ini" bisik Alena pelan.


Akbi yang sebenarnya sudah terbangun saat Alena mengusap pipinya pun membuka kedua matanya saat mendengar bisikan Alena.


"Maaf ya semua ini karena salahku. Aku harusnya bisa bertindak tegas dari awal. Kalau saja aku tidak lemah kamu pasti tidak akan merasakan rasa sakit itu" ucap Akbi dengan menghapus air matanya Alena yang mengalir.

__ADS_1


"Iya aku maafkan tapi jangan pernah kamu ulangi hal yang seperti kemarin. Kamu tidak sepenuhnya salah karena aku juga salah. Aku terlalu cepat mengambil keputusan" ucap Alena lalu menundukkan kepalanya.


"Yang kemarin biarlah berlalu sekarang yang harus kita lakukan ambil pelajaran dari hal ini, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali" tutur Akbi lembut pada Alena.


__ADS_2