Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
24. Mengikuti


__ADS_3

Reihan mengajak Alena pergi ke sebuah pantai yang indah tapi cukup sepi.


Reihan sengaja membawa Alena ke tempat ini karena menurutnya tempat ini lebih baik untuk menenangkan diri dari pada di taman tadi.


Dan benar saja Alena nampak tersenyum saat mengamati air laut yang sesekali mengenai kakinya.


"Terimakasih Reihan" Kata Alena tiba tiba.


"Terimakasih untuk apa?"


"Untuk semua, untuk kamu yang mau menemani ku saat aku sedih, untuk menjadi teman berbagi cerita, juga untuk membawaku ke sini, aku merasa lebih baik sekarang"


"Baguslah kalau kamu merasa lebih baik. Tapi kamu nggak usah berterima kasih, karena aku sendiri seneng kok bisa nemenin kamu hari ini. Itung itung libur kerja juga, bosen capek kerja mulu" kata Reihan sambil melempar senyum pada Alena.


Alena membalas senyuman Reihan. Seharian itu mereka hanya duduk di pinggiran pantai dan sesekali berjalan jalan di atas pasir putih.


Saat hari sudah hampir memasuki jam pulang kantor, Reihan mengajak Alena untuk pergi ke kantor Akbi untuk menjalankan rencana mereka tadi pagi.


********


Kini Alena dan Reihan sudah berada di luar gedung kantor Akbi. Setelah menunggu hampir 30 menit Alena melihat mobil Akbi keluar dari area gedung kantor nya.


"Rei itu mobil Akbi" kata Alena sambil menunjuk ke arah mobil Akbi.


"Ia ayo kita ikuti mobilnya"


Reihan menjalankan mobilnya mengikuti mobil Akbi. Akbi sendiri tidak menyadari kalau ada mobil yang mengikutinya dari tadi. Hingga kini dia sampai di depan gedung apartemen milik Monika.


Monika yang sedang menunggu akbi langsung tersenyum melihat mobil Akbi sudah sampai di depan nya.


Begitu mobil Akbi sampai di depan nya, Monika segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Dan langsung mencium pipi Akbi saat sudah masuk ke dalam mobil.


"Kok lama banget sih sayang?" tanya Monika setelah mencium pipi Akbi.


"Macet" jawab Akbi singkat.

__ADS_1


"Kok jutek gitu sih? kamu nggak suka ya jemput aku?" tanya Monika pura pura ngambek.


"Aku nggak jutek kok, ya udah kita mau ke mana ini?" tanya Akbi mengalihkan topik karena kalau masih bahas jutek tadi bisa lama ini urusannya.


"Kita ke resto yang biasa aja ya"


"Ya udah ayo"


Dari kaca belakang mobil Alena dapat melihat saat Monika mencium pipi Akbi. Dan bersikap mesra dan manja dengan nya.


Air mata Alena kembali mengalir begitu saja melihat semua itu. Hatinya seperti di iris sembilu, sakit ini, sakit ini bahkan lebih sakit dari pada hanya melihat foto mereka semalam.


Reihan sendiri merasa tidak tega melihat Alena bersedih seperti ini. Ingin rasanya dia turun dari dalam mobil dan langsung menghajar Akbi yang menurut nya sangat keterlaluan pada Alena. Tapi dia berusaha menahan diri melihat kondisi Alena sekarang lebih penting menenangkan Alena dari pada memukuli suami br*ngs*knya.


"Apa kamu masih mau meneruskan misi kita?" tanya Reihan pelan sambil mengelus rambut Alena.


Alena menghapus air matanya dan mencoba menenangkan diri. Ini adalah keputusan nya jadi Alena harus benar benar memastikan semua hari ini juga.


Meski hatinya sangat sakit, tapi ini juga satu satunya jalan agar dia dapat mengetahui semua dengan jelas.


"Iya kita terus ikuti mobil Akbi" kata Alena setelah berhasil menenangkan hati nya.


"Are you sure?" tanya Reihan yang sudah tidak tega pada Alena.


"Ya sure" jawab Alena dengan penuh keyakinan.


Setelah yakin Alena ingin melanjutkan misi mereka membututi mobil Monika dan Akbi, Reihan kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil Akbi.


Setelah beberapa saat mengikuti mobil Akbi, Reihan dan Alena melihat mobil yang di kemudikan oleh Akbi sampai di sebuah restoran berbintang di kota itu.


Restoran itu adalah restoran yang sering di kunjungi oleh Akbi dan Monika.


dari kaca mobil Alena dapat melihat Akbi dan Monika turun dari mobil. Alena dapat melihat dengan jelas bagaimana Monika menggandeng tangan Akbi dengan mesra.


Lagi lagi pemandangan itu membuat Alena tidak dapat membendung air matanya, meski sudah berusaha untuk tidak menangis tapi air matanya tetap saja terus keluar.

__ADS_1


"Reihan sudah cukup. Tolong antar aku pulang saja sekarang" kata Alena dengan suara terbata bata karena menangis.


"Baiklah aku juga tidak ingin kamu terus melihat semua ini"


Setelah mengucapkan itu Reihan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Alena dan Akbi, karena Alena meminta di antar ke sana.


Setelah menempuh perjalanan 40 menit mereka sampai di depan lobi apartemen Alena.


"Kamu yakin mau pulang ke sini?" tanya Reihan.


"Ya tentu saja bukan kah aku harus menyelesaikan masalah rumah tangga ku dulu dengan Akbi" jawab Alena masih dengan wajah yang bengkak karena habis menangis.


"Kau yakin akan baik baik saja kan?" tanya Reihan lagi memastikan.


"Tentu aku akan baik, kau jangan khawatir aku tidak se lemah itu, aku ini wanita yang kuat kau tau itu kan" jawab Alena, kali ini dia mencoba tersenyum untuk meyakinkan Reihan.


"Baiklah tapi kalau kau butuh sesuatu atau ada apa apa hubungi aku segera ok!"


"Iya bawel, sudah sana pergi"


"kalau begitu aku pamit pergi" pamit Reihan.


Reihan membalikkan badannya hendak menuju mobil tapi langkah nya berhenti saat Alena memanggil namanya.


"Reihan" panggil Alena.


Reihan membalikkan badannya menghadap Alena lagi.


"Ya ada apa?"


"Terimakasih banyak untuk hari ini aku tidak tahu bagaimana aku kalau tidak bertemu kamu tadi pagi" kata Alena tulus mengucapkan terimakasih.


"Sudah kubilang tidak perlu mengucapkan terimakasih. Aku pulang dulu dah"


Reihan melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan Alena juga.

__ADS_1


__ADS_2