Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
37. Berbincang


__ADS_3

Pagi ini Akbi benar benar menepati ucapan nya kemarin. Dari pagi pagi sekali Akbi sudah sampai di rumah Alena untuk menjemput Alena.


Tadinya Alena kekeh menolak ajakan Akbi untuk pergi ke rumah sakit bersama dan memilih pergi menggunakan taksi online.


Tapi ya begitulah Akbi, dengan seribu satu cara dan alasan untuk meyakinkan dan membujuk Alena agar mau pergi ke rumah sakit dengan dirinya saja.


Akhirnya dengan terpaksa dan agak berat hati Alena menerima ajakan Akbi ke rumah sakit bersama.


Selain untuk menjenguk Nyonya Sarah yang tak lain adalah ibu mertuanya, mobilnya kemarin juga masih tertinggal di rumah sakit karena semalam dia di antar pulang oleh Akbi. Tentu dengan paksaan kedua mertuanya Alena mau di antar. kalau bukan karena mereka yang meminta Alena tidak akan mau pulang di antar Akbi semalam.


Rasa kecewa itu jelas masih di rasa Alena atas penghianatan Akbi padanya. Walaupun itu terjadi bukan karena keinginan Akbi, tapi tetap saja bagi Alena itu tetap penghianatan yang tak bisa di lupakan Alena begitu saja.


Pagi ini Alena berencana menjenguk ibu mertuanya dulu sebentar lalu pergi ke butik karena ada janji dengan salah satu costumer nya yang ingin di buatkan baju dan tidak mau dengan asistennya. Costumer nya itu adalah seorang sosialita yang sangat kaya dan agak sombong, dua juga suka sesuatu yang perfek jadi dia hanya mau di layani langsung oleh pemilik butik. Jadi mau tidak mau Alena yang menemui costumer itu.


Sepanjang perjalanan Akbi berusaha mengajak Alena bicara walau hanya di jawab seadanya oleh Alena, tapi itu lebih baik dari pada tidak di jawab sama sekali. Begitu pikir Akbi.


"Ehmm apa kamu ada rencana untuk ke butik hari ini?" tanya Akbi memecah keheningan.


"Ya" jawab Alena singkat tanpa melihat lawan bicaranya sama sekali.


" Apa perlu aku antar ke butik nanti?"


"Tidak perlu, mobilku masih di parkiran rumah sakit, aku bisa kesana sendiri" jawab Alena dingin.


Seberapa dia merasa gugup karena harus semobil lagi dengan Akbi, tapi sebisa mungkin dia menutupi kegugupannya dan berusaha bersikap acuh pada Akbi.


Tak jauh berbeda dengan Akbi yang juga merasa gugup dan bingung harus mengatakan apa untuk saat ini karena sikap Alena sangat dingin sekarang.


Akbi pun kembali memutar otak untuk mencari bahan pembicaraan dengan Alena.

__ADS_1


"Apakah ada hal penting di butik?" tanya Akbi tapi dalam hati dia merutuki kebodohannya sendiri karena ucapkan nya barusan.


Tentu saja ada yang penting, kalau tidak ada mana mungkin Alena akan lebih memilih ke butik ketimbang menemani ibu mertuanya yang sedang sakit.


"Aku ada urusan dengan salah satu customer ku dibutik nanti tapi hanya sebentar, mungkin sebelum makan siang aku sudah ada di rumah sakit lagi nanti"


"Kalau kamu sibuk, kamu tidak perlu kembali ke rumah sakit nanti, aku yakin Mama pasti akan mengerti" ucap Akbi.


"Tidak papa aku hanya ada sedikit urusan nanti" Alena tetap menjawab tanpa menatap Akbi.


"Alena, aku sangat berterima kasih padamu karena kamu masih mau perduli dan menyayangi orang tua ku meski aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu" ucap Akbi sambil melirik ke arah Alena.


"Tidak perlu berterimakasih, karna aku sendiri sudah menganggap Mama dan Papa seperti orang tua ku sendiri. Semenjak Ayah dan Ibu meninggal aku sudah tidak memiliki orang tua lagi. Tapi Papa dan Mama selama ini selalu menyayangi ku dan memperlakukan ku selayaknya anak sendiri hingga aku merasa memiliki orang tua lagi sekarang. Jadi kamu tidak perlu berterimakasih karena aku sendiri senang bisa merawat Mama saat ini"


Alena berucap sambil meneteskan air matanya. Dia kembali teringat dengan mendiang Ibu dan Ayah nya yang sudah meninggal.


Melihat Alena menangis, Akbi memberhentikan mobilnya di pinggir jalan lalu memeluk Alena dan mencoba menenangkan Alena agar tidak menangis lagi.


Alena yang menangis sesenggukan sedikit tenang saat mendengar ucapan Akbi barusan. Dan seketika itu pula Alena baru tersadar kalau saat ini dia tengah menangis sambil berpelukan dengan Akbi.


Walaupun wajar wajar saja sebagai istri dia menangis di pelukan Akbi yang notabene nya masih resmi sebagai suaminya. Tapi mengingat bagaimana hubungan mereka sekarang, Alena pelan pelan melepas pelukan Akbi dan mendorong tubuh Akbi pelan.


"Maaf tadi aku terbawa suasana" ucap Alena sambil berusaha menghapus air matanya.


"Tidak papa, menangis lah jika kamu merasa sedih, jangan di tahan jika kamu tidak kuat menahannya. Bahu ku akan selalu ada untuk mu" ucap Akbi sambil menatap mata Alena dengan sendu.


Dia tahu betul bahwa kesedihan Alena juga berasal dari dirinya.


Alena tidak menjawab dia malah menundukkan wajahnya, tidak mau terus menatap mata Akbi yang akan membuat hatinya goyah.

__ADS_1


Karena tidak mendapat jawaban dari Alena, Akbi kembali menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Dan seketika suasana di dalam mobil menjadi lebih hening dari sebelumnya. Baik itu Akbi ataupun Alena sama sama larut dalam pikiran nya masing masing. Meski apa yang mereka pikirkan sebenarnya sama, yaitu tentang hubungan rumah tangga yang mereka jalani saat ini.


Meski cinta itu ada, tapi untuk bersama kembali rasanya terlalu sulit dan berat. Rumah tangganya kini sedang ada di ambang kehancuran.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Hai hai semuanya..........


Maaf πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™karena udah lama nggak up lagi. Maklum autor pengacara alias pengangguran banyak acara ini lagi sok sibuk jadi nggak bisa up kemarin kemarin

__ADS_1


Sekali lagi maaf πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2