
Akbi berjalan mondar mandir di depan pintu UGD (unit gawat darurat) tempat Alena sedang di periksa.
Tadinya Akbi ingin menemani Alena di dalam dan melihat Alena di tangani oleh Dokter, tapi ternyata dia tidak di perkenankan untuk ikut masuk ke dalam. Jadilah sekarang Akbi seperti setrika yang sudah rusak mondar mandir saja dari tadi.
Sandra sang sekertaris yang ikut menemani Akbi mengantar Alena ke rumah sakit juga di buat bingung dengan bosnya yang dari tadi terus berjalan mondar-mandir, mau di cegah tapi takut di marahi, tapi di biarkan juga bikin pusing yang lihat aduh bikin pusing aja nih bapak, kaluhnya dalam hati.
Akhirnya karena tidak tahan melihat bosnya yang mondar mandir, Sandra memberanikan diri untuk membuka suara.
"Bapak duduk dulu pak, biar tenang. Kalau bapak terus berjalan mondar mandir malah akan semakin tegang pak, jadi lebih baik bapak duduk dulu dan minum dulu air putih ini pak. Supaya agak tenang tidak terlalu panik" ucap Sandra akhirnya memberikan sebotol air mineral pada Akbi.
Akbi melirik air yang di pegang sekertaris nya. Akbi mengikuti saran sekertaris nya dan duduk di sebelah Sandra lalu meraih air mineral yang di sodorkan oleh sekretarisnya.
"Terimakasih" ucap Akbi setelah meminum air itu.
"Iya pak sama sama"
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, mereka sama sama menghawatirkan keadaan Alena yang tiba tiba pingsan di kantor tadi.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan muncullah Dokter dan Suster yang tadi merawat Alena di dalam.
Melihat pintu terbuka Akbi segera menghampiri Dokter itu dan segera menanyakan keadaan Alena padanya.
"Dok..... Dokter bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Akbi pada Dokter itu.
"Ibu Alena baik baik saja, hanya tekanan darah nya yangt terlalu rendah dan juga sepertinya terlalu banyak fikiran yang membuat Nyonya Alena stres dan pingsan. Sebentar lagi Nyonya Alena akan sldi pindahan di ruang rawat inap Tuan bisa menemui Nyonya Alena setelah di pindahkan ke ruangan rawat. Tuan tidak perlu khawatir sebentar lagi pasti Nyonya Alena akan sadar" ucap Dokter itu.
"Terimakasih banyak Dok" ucap Akbi.
"Tidak perlu begitu, memang sudah tugas saya merawat pasien, tapi saya harap untuk hindari dulu hal hal yang dapat membuat Nyonya Alena stres agar kondisinya cepat pulih" terang sang Dokter.
__ADS_1
"Baiklah Dokter saya akan mengingat nasehat Dokter"
"Kalau begitu saya pamit dulu permisi"
"Iya silahkan Dok" ucap Akbi mempersilahkan.
Setelah kepergian Dokter dan Suster tadi, Akbi terlebih dulu bicara pada Sandra sebelum m nemuin Alena di dalam.
"Sandra, lebih baik kamu kembali ke kantor dan re schedule semua pertemuan saya hari ini. Karena saya akan di sini menemani istri saya"
"Baiklah pak, kalau begitu saya pamit kembali ke kantor dulu pak saya permisi" pamit Sandra pada Akbi dengan sopan.
Akbi hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Di sepanjang perjalanan keluar rumah sakit Sandra ngedumel pada bosnya.
Kembali lagi ke Akbi dan Alena.
Begitu Alena di pindahkan ke ruangan rawat, Akbi sengera ikut masuk dan menemani Alena yang masih pingsan dan belum terbangun.
Akbi berjalan mendekati Alena lalu duduk di sebelah bed rawat Alena. Di raihnya jemari Alena lalu di genggamnya lembur jari tangan.
"Bangun sayang....... Jangan membuat aku khawatir. Maafin aku ya Alena, aku tau kamu stres dan banyak fikiran pasti karena aku, aku memang suami yang buruk, aku suami yang tidak becus mengurus rumah tangga maafkan aku Alena, jika saja aku bisa mengakhiri hubungan ku dan Monika pasti saat ini kita menjadi keluarga yang sangat bahagia" ucap Akbi dengan menggenggam jemari Alena, sesekali ia kecup pula jari itu.
"APA YANG KAMU KATAKAN TADI AKBI" suara tuan Hendrawan bergelegar di ruangan.
Akbi bahkan sampai tejungkal dari duduknya sangking kagetnya mendengar suara papa nya tadi.
Tuan Hendrawan melangkah dengan penuh amarah ke arah Akbi. Akbi yang melihat amarah papanya langsung berdiri dengan wajah tertunduk karena merasa bersalah karena dia yakin papanya pasti sudah mendengar ucapannya tadi.
__ADS_1
Tuan Hendrawan mendekati Akbi dan bugt.........
Sebuah Bogeman mentah dia layangkan pada wajah Akbi. Tuan Hendrawan baru ingan menghajar Akbi lagi namun urung karena mendengar suara jeritan dari belakang.
"Aaaaaaa........ Papa apa yang papa lakukan? kenapa papa mukulin Akbi gini pah?" tanya Nyonya Sarah sambil membantu Akbi yang jatuh tersungkur karena pukulan papanya barusan.
"Dia memang pantas mendapatkan nya mah, bahkan pukulan papa itu tidak ada apa apanya bila di bandingkan dengan apa yang sudah dia perbuat pada menantu kita" jawab Tuan Hendrawan dengan marah.
"Pah tenang dulu jangan marah marah ini rumah sakit nggak boleh ada keributan dan juga apa maksud papa tadi bilang kalau Akbi pantas mendapatkan pukulan dan apa hubungannya dengan menantu kita pah, mamah nggak ngerti ini?" ucap Nyonya Sarah bingung.
"Apa mamah tau kalau anak kesayangan mamah ini ternyata selama ini masih berhubungan dengan perempuan mur*h*n itu, dia diam diam masih berpacaran dengan perempuan itu di belakang kita, dia sudah menduakan Alena" ucap tuan Hendrawan dengan mengacungkan jarinya ke wajah Akbi.
nyonya Sarah sendiri sangat terkejut mendengar ucapan suaminya barusan, Akbi anaknya sudah menyakiti isterinya dengan begitu dalam. Bagaimana bisa dia berpura-pura selama ini terlihat begitu mencintai Alena tapi kenyataannya dia masih berhubungan dengan Monika.
kini pandangan Nyonya Sarah beralih ke Akbi, matanya sudah memerah menahan amarah.
"Katakan pada mamah Bi, kalau apa yang di katakan oleh papah mu itu hanya bohong, katakan pada mamah kalau kamu tidak pernah menduakan istri kamu Akbi, katakan!" ucap Nyonya Sarah dengan suara bergetar.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa di ucapkan oleh Akbi.
Plak.......
Suara tamparan menggema di ruangan itu.
"Siapa yang mengajari kamu menyakiti wanita Akbi, apalagi itu istri kamu, tanggung jawab kamu. mamah benar benar tidak habis pikir dengan kamu Akbi"
Akbi hanya diam saat mamah nya menamparnya dan memarahinya begini. Dia sangat sadar kalau dia memang pantas mendapatkan nya.
Nyonya Sarah baru ingat men*mpar pipi Akbi yang satu nya lagi tapi dia mendengar suara lenguhan Alena. Alhasil mereka memusatkan perhatian pada Alena yang tertidur di ranjang pasien.
__ADS_1