
Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Akbi tiba di gedung apartemen tempat dia dan Alena tinggal.
Dengan langkah tergesa gesa Akbi berjalan menuju unit apartemen nya, begitu sampai di depan pintu dia segera memencet kode pas dan langsung masuk ketika pintu apartemen terbuka.
"Alena...... Alena......" suara Akbi memanggil Alena begitu masuk.
"Alena kamu di mana" panggil Akbi mencari Alena.
Akbi masuk ke dalam kamar dan menemukan Alena yang telah tertidur di ranjang. Akbi menjadi tenang melihat Alena yang tertidur, difikirnya Alena menunggu nya pulang seperti yang selama ini sering Alena lakukan. Menunggu nya pulang walau sudah larut.
Akbi berjalan menghampiri Alena yang tertidur dan duduk di sisi ranjang. Tangan Akbi terulur mengelus rambut Alena dengan lembut.
"Maaf" satu kata yang di ucapkan Akbi saat mengelus rambut Alena.
Sungguh dia merasa bersalah setiap melihat Alena, dia menyadari kalau dirinya bukan suami yang baik tapi Akbi benar benar mencintai Alena. Dan slalu merasa bersalah ketika dia mengingat kesalahan yang telah dia lakukan selama ini di belakang Alena.
Setelah mengucapkan itu Akbi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Akbi masuk ke kamar mandi, Alena membuka mata nya dan menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup. Air mata Alena kembali mengalir saat melihat pintu yang tertutup itu.
Sebenarnya dari tadi Alena belum tidur, dia masih belum bisa tidur, tadi dia hanya pura pura tidur saat mendengar Akbi memenggalnya.
Jujur Alena masih belum tau harus bersikap seperti apa pada Akbi, sikap Akbi selama ini terlihat seperti dia benar benar tulus mencintai nya tapi foto yang di terima nya tadi membuat Alena sadar kalau sikap Akbi selama ini hanya topeng untuk menutupi kebohongan nya saja.
Alena masih belum siap untuk bicara pada Akbi, dia ingin mencari tahu dulu kebenaran nya sebelum dia bertindak lebih lanjut.
Akbi keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian, tidak seperti biasanya Alena selalu menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya, kali ini Akbi harus mencari baju gantinya sendiri.
'Mungkin Alena terlalu lelah dan aku juga pulang terlalu malam' gumam Akbi.
Setelan mengganti baju tidur nya Akbi ke dapurnya untuk makan, meski tadi dia sudah makan bersama Monika tadi tapi masakan Alena adalah yang terenak yang pernah ia makan jadi Akbi ingin makan lagi dan juga Akbi juga yakin kalau Alena telah menyiapkan makanan malam untuk nya. Dan ternyata binar Alena telah menyiapkan makan malam untuk nya.
Akbi makan dengan lahap masakan Alena, saat sudah selesai makan dia kembali lagi ke kamar, Akbi merebahkan diri nya di samping Alena.
Akbi memandangi punggung Alena karena posisi Alena membelakangi Akbi, di raihnya punggung Alena dan di peluknya erat dari belakang. Lalu Akbi menyusul Alena ke alam mimpi.
*********
__ADS_1
Pagi hari Alena terbangun dia merasakan sesak di tubuhnya, ternyata Akbi yang telah memeluknya erat.
Alena menyingkirkan tangan Akbi perlahan lahan dan turun perlahan dari ranjang. Sebelum ke kamar mandi Alena terlebih dulu memandangi wajah Akbi, wajah suaminya yang begitu dia cintai tapi juga begitu dalam memberikan nya luka.
Mengingat itu Alena kembali meneteskan air mata. Tapi dengan cepat ia menghapus nya.
"Tidak, tidak lagi, aku harus kuat aku tidak boleh cengeng seperti ini"
Setelah menghapus air matanya Alena masuk ke kamar mandi.
Alena membuatkan sarapan dan menyiapkan baju kerja untuk Akbi, ia harus menyelidiki semuanya dulu dia tidak ingin Akbi curiga dan malah semakin waspada.
Kini Akbi dan Alena sarapan bersama. Biasanya Alena akan banyak bicara dua akan membicarakan soal ini dan itu tapi pagi ini Alena terlihat sedikit murung dan tidak bicara apapun.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Akbi yang melihat hanya diam saja dari tadi.
"Aku baik baik aja kok" jawab Alena singkat, dia mencoba tersenyum.
"Bener nggak papa? tapi kok hari ini kamu diem aja nggak banyak omong, kamu lagi sakit ya?" tanya Akbi lagi.
"Aku nggak papa mungkin aku kangen sama Ayah dan Ibuk jadinya aku kayak gini" Jawab Alena mengelak.
"Iya boleh"
"Kalau gitu jangan sedih lagi ya aku nggak suka liat kamu sedih gitu. Sekarang senyum dulu"
Alena mencoba tersenyum meski itu hanya senyum palsu yang di paksakan.
Akbi dan Alena berjalan bersama keluar dari apartemen mereka menuju ke parkiran.
Seperti biasa Akbi dan Alena mengendarai mobil masing masing agar lebih mudah kalau mau ke mana mana.
Kini Akbi dan Alena ada di mobilnya masing masing. Dalam mobil Akbi memikirkan sikap Alena yang menurutnya agak berbeda hari ini.
"Kenapa aku merasa Alena berubah ya hari ini seperti ada yang berbeda"
"Ah apa mungkin ini hanya pikiran ku saja ya, mungkin Alena memang merindukan ke dua orang tuanya" Akbi bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, disisi lain Alena mengendarai mobilnya tapi dia tidak menuju ke butiknya. Dia merasa tidak akan bisa konsentrasi bekerja kalau pikiran nya sendiri sedang kacau begini.
Alena masih berputar putar di jalan, hingga akhirnya dia melihat sebuah taman yang terlihat sepi.
Alena menepikan mobilnya dan turun dari mobil berjalan menuju taman, dia melihat kursi taman yang kosong lalu Alena duduk seorang diri di kursi itu.
Alena mulai melamun, dia kembali berfikir bagaimana hubungannya dengan Akbi, apa ini akan menjadi akhir dari hubungan mereka.
Alena masih terus melamun sampai sebuah tepukan di bahu menyadarkan Alena dari lamunannya.
"Kamu,,,,,," kata Alena saat melihat siapa orang yang telah menepuk pundak nya.
"Iya tentu saja aku memang kamu pikir siapa? kata orang itu lalu duduk di samping Alena tanpa permisi terlebih dahulu.
"Hei kenapa kamu duduk di sini? tanya Alena yang sedikit merasa keberatan karena dia hanya ingin sendiri saat ini.
"Kenapa? tidak boleh? ini kan tempat umum kursi ini juga milik umum" kata orang itu sambil tersenyum.
"Iya ini memang tempat umum, tapi disana kan banyak kursi lain kenapa malah ikut duduk di sini" kata Alena sambil menunjuk kursi di sebarang sana.
"Kalau aku tidak mau bagaimana? aku ingin duduk di sini saja. Aku tidak mau duduk sendirian"
"Kenapa sekarang kamu jadi menyebalkan begini sih? kata Alena mencerbikkan bibir.
Sedangkan orang itu hanya menanggapi Alena dengan tertawa. Dia merasa Alena terlihat sangat lucu kalau sedang kesal.
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Siapa ya yang nepuk bahunya Alena.?