
Nyonya Sarah baru ingin menampar pipi Akbi yang satu nya lagi, tapi dia mendengar suara lenguhan Alena jadi mereka segera memusatkan perhatian pada Alena.
Eughhhh......
Alena melenguh, lalu kedua matanya mulai mengerjab perlahan. Pelahan matanya terbuka, dia melihat sekeliling. Dilihatnya ada Akbi dan kedua mertuanya yang berdiri di samping bed pasien Alena.
Alena memalingkan wajahnya saat pandangan matanya bertemu dengan mata Akbi. Akbi sendiri yang menyadari Alena membenci dirinya hanya bisa mendesah pelan dan menatap wajah pucat Alena dengan tatapan nanar.
"Alena, sayang kamu sudah bangun nak? apa yang kamu rasakan sekarang? apa kepala kamu pusing? atau ada yang sakit sayang?" tanya Nyonya Sarah beruntun begitu melihat Alena bangun.
"Aduh Mamah jangan bikin Alena pusing dong dengan pertanyaan mamah yang panjang itu, lebih baik Papa panggil Dokter dulu"
"Iya pah cepet panggilan Dokter biar Dokter segera memeriksa Alena"
Begitu suaminya pergi memanggil Dokter, Nyonya Sarah kembali menatap Alena dengan sendu, dirinya juga merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Alena saat ini karena dirinya juga dulu ikut memaksa Akbi untuk menerima perjodohan ini.
Sungguh jika Nyonya Sarah tau kalau nasip Alena akan berakhir seperti ini, dirinya tidak akan m minta Akbi untuk menikahi Alena. Tapi ya bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang lagi.
Tak lama kemudian Tuan Hendrawan datang dengan Dokter. Dokter itu memeriksa Alena dan menanyakan apakah ada keluhan. Setelah memastikan kalau Alena baik baik saja lalu dan memberikan saran dan informasi tentang pasien baik baik saja. Dokter itu pun pamit keluar dari ruangan.
__ADS_1
Alena menatap ibu mertuanya dan mulai membuka suara setelah hanya diam saja dari tadi.
"Mah....." panggil Alena pada ibu mertuanya.
"Iya sayang ada apa? kamu butuh sesuatu?" tanya Nyonya Sarah pada menantunya.
"Tolong suruh dia keluar Mah, Alena nggak mau lihat dia disini" pinta Alena pada mertuanya.
Nyonya Sarah menatap pada Alena lalu beralih pada Akbi.
"Akbi sebaiknya kamu keluar dulu, Alena sedang tidak ingin melihat kamu"
"Nggak Mah Akbi mau di sini menemani Alena, Alena tolong ijinkan aku disini. Aku janji aku bakal diem aja aku nggak akan ngganggu kamu, jadi biarkan aku disini ya nemenin kamu" pinta Akbi pada namanya dan pada Alena.
Nyonya Sarah yang melihat menantunya hanya diam dan menundukkan wajahnya mengerti kalau Alena memang tidak ingin melihat Akbi saat ini, jangan kan Alena yang sudah dihianati dirinya saja sebagai orang tua sangat kecewa dan tidak mau melihat anaknya itu saat ini, jadi dia kembali bicara pada anaknya.
"Lebih baik kamu keluar aja Bi, mamah nggak mau kalo Alena kembali down karena melihat kamu di sini"
"tapi mah"
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri kan apa kata Dokter kalau Alena tidak boleh stres saat ini" kini giliran Tuan Hendrawan yang membuka suara setelah dari tadi diam menahan amarahnya.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi, kamu cepet sembuh ya Alena, dan kalau bisa maafkan saya" pamit Akbi lalu berjalan gontai keluar ruang rawat Alena.
Setelah kepergian Akbi, Nyonya Sarah kembali menggenggam tangan Alena,
"Maafkan mamah ya sayang, ini semua terjadi juga karena salah mama yang tidak bisa mendidik anak mama dengan baik, percaya lah nak kalau mama tau kejadian nya akan seperti ini, mama pasti tidak akan meminta Akbi ntuk menikah dengan kamu sayang. Kamu terlalu baik untuk orang seperti Akbi. Sekali lagi maafkan mamah ya Alena" ucap Nyonya Sarah dengan suara bergetar karena menangis.
"Papa juga minta maaf karena ini semua adalah rencana papa dan ayahmu, andai saja kami tidak memaksa kalian menikah mungkin tidak akan begini kejadian nya."
"Mah Pah, Alena nggak pernah nyalahin mamah sama papah kok, Alena dapat mertua seperti kalian saja Alena sudah sangat senang karena papah sama mamah ngga pernah menganggap Alena sebagai menantu tapi sebagai anak sendiri, meski Ayah sama Ibu sudah pergi tapi Alena masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tua dari papah dan mamah. Jadi papah sama mamah jangan nyalahin diri sendiri ya. Mungkin juga ini cobaan hidup untuk Alena, supaya Alena tidak mudah percaya dengan orang lain" jawab Alena panjang lebar.
Mendengar ucapan Alena Nyonya Sarah segera memeluk menantunya itu dengan terus menangis tersedu sedu.
Tuan Hendrawan sendiri merasa sangat bersalah, seharusnya dirinya juga mengawasi hubungan Alena dan Akbi. Bukannya malah melepas mereka begitu saja, mengingat mereka menikah karena di jodohkan.
******
Keesokan harinya Alena sudah di ijinkan untuk pulang. Alena di jemput oleh Nyonya Sarah pulang , tadinya Nyonya Sarah meminta Alena untuk pulang saja ke rumahnya tapi Alena bersikeras ingin pulang di umrahnya sendiri saja. Dia tidak ingin merepotkan Tuan Hendrawan dan Nyonya Sarah mereka sudah cukup baik padanya selama ini.
__ADS_1
Alena sudah memutuskan untuk mendaftarkan perceraian nya dengan Akbi begitu pulang dari rumah sakit.
Alena juga sudah berpamitan pada kedua mertuanya untuk berpisah dengan Akbi. Mereka pun menyetujui keinginan Alena untuk berpisah dengan anak mereka, karena mereka menyadari kalau Alena sudah sangat di sakiti Akbi dengan penghianatan nya selama ini. Jadi meski berat hati tapi mereka berbesar hati menerima keputusan Alena.