
Setelah makan siang bersama di salah satu restoran berbintang di kota itu. Reihan mengantar kembali Alena ke butiknya karena tadi Alena memang pergi satu mobil dengan Reihan.
Setelah basa basi sebentar Alena turun dari mobil dan Reihan langsung pergi lagi tanpa mengantar Alena ke dalam butik karena tadi dia di telfon sekertaris nya kalau sebentar lagi akan ada meeting dadakan karena kliennya dari luar negeri harus segera kembali karena ada urusan mendadak jadi Reihan buru buru pergi begitu Alena turun dari mobil.
Alena menatap kepergian mobil Reihan dengan tersenyum jujur kehadiran Reihan bisa sedikit menghibur dirinya yang sedang galau dan rapuh. Tapi tentu saja sampai saat ini Alena hanya menganggap Reihan sebagai teman karena selain dia tidak tau kalau Reihan memiliki perasaan pada dirinya, Alena juga masih mencintai Akbi meski dia merasa sangat kecewa dan terluka oleh perselingkuhan yang Akbi lakukan selama ini.
Tapi ya mau bagaimana lagi tanpa Alena sadari dirinya sudah mencintai Akbi sejak awal pernikahannya dulu dan juga karena perlakuan Akbi belakang ini yang dirasakannya sangat manis itu membuat Alena semakin terbuai dengan perasaan cintanya pada Akbi.
Meski sekarang dia tau kalau mungkin sikap yang ditunjukkan oleh Akbi hanya untuk menutupi hubungan nya dengan Monika tapi Alena sudah terlanjur mencintai Akbi. Jadi meski dirinya membenci Akbi tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya sebenarnya masih mencintai pria yang sampai saat ini masih menyandang status sebagai suaminya itu.
Alena membalikkan badannya dan ingin masuk ke dalam butiknya lagi tapi langkahnya terhenti saat dia melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Alena berdiri mematung di tempat. Netranya terus menatap benci pada seorang wanita yang kini berjalan ke arahnya dengan langkah yang terlihat angkuh.
"Selamat siang nona Alena"
Sapa wanita itu yang tak lain adalah Monika. Rupanya setelah di usir dari kantor Akbi tadi Monika langsung menuju ke butik Alena untuk menemui Alena dan ingin mengajak Alena bicara.
"Ada urusan apa kamu kemari?" ucap Alena dengan menahan amarahnya.
Meski mencoba untuk mengiklankan semua tapi kenyataannya hati Alena masih seperti terbakar setiap bertemu dengan Akbi apalagi bertemu dengan Monika, amarahnya semakin membuncah saja.
Ingin rasanya Alena menampar dan menjambak Monika, lalu di teriaki dengan sebutan pelakor agar semoga orang tau kalau wanita yang ada di hadapannya ini adalah seorang pelakor yang telah merusak rumah tangganya saat ini.
__ADS_1
Tapi Alena bukan lah wanita bar bar yang akan bertindak demikian, meski marah dan muak tapi Alena juga masih berfikir tentang mertuanya yang akan mendapat cemoohan dari orang orang kalau masalah rumah tangganya di ketahui oleh orang lain.
"Aku ingin bicara sebentar"
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku tidak perduli dan tidak ingin tau juga apa yang ingin kamu bicarakan"
Alena ingin meneruskan langkahnya masuk ke butik tapi Monika kembali bersuara.
"Ini tentang Akbi dan kedua mertuamu" ucap Monika saat Alena kembali berjalan menuju ke butik.
Sontak ucapan Monika membuat Alena menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan badannya dan kembali berhadapan dengan Monika lagi.
Jika ini hanya tentang Akbi mungkin dia akan mengabaikan Monika tapi ini juga tentang mertuanya yang sudah di anggapnya sebagai orang tua sendiri, jadi Alena tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Baiklah katakan" sahut Alena.
"Tenang Nyonya muda Hendrawan ups, maaf maksudnya calon mantan Nyonya muda Hendrawan. Kita bisa cari tempat lain, aku terasa disini bukan tempat yang cocok untuk kita bicara" ucap Monik tersenyum mengejek saat mengatasi kalimatnya tadi.
"Baiklah kita ke kafe di sembarang sana saja"
Setelah mengucapkan itu Alena langsung berjalan tanpa meminta persetujuan dari Monika dulu, dan dengan kesal Monika mengikuti Alena dari belakang.
Di dalam kafe.......
__ADS_1
Alena dan Monika duduk berhadapan di salah satu meja di kafe yang di tuju Alena tadi. Di meja juga sudah ada dua minuman pesanan mereka tadi.
"Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kamu lebih lama" ucap Alena begitu minumannya sudah ada di meja.
"Tenanglah, aku hanya ingin bicara sebentar. Ini tentang hubungan ku dan Akbi dan juga keterlibatan mertuamu dalam hal ini" ucapannya tenang, Monika memang sengaja ingin memang amarah Alena.
"Kalau kamu hanya ingin mempermainkan aku lebih baik aku pergi karena masih banyak hal penting yang harus ku lakukan dari pada harus meladeni wanita tidak tahu diri seperti kamu"
"Baiklah tadinya aku ingin basa basi dulu dengan mu tapi rupanya calon janda ini sangat sibuk, jadi aku akan langsung to the poin saja" Monika menjeda dulu kata katanya.
"Jauhi Akbi dan jangan pernah mencari perhatian Akbi lagi. Dari awal Akbi memang tidak pernah mencintaimu, kau tahu dia mau menikahimu hanya karena dia di ancaman akan di coret dari ahli waris kalau dia menolak menikahi kamu dan itu sebabnya dia menerima perhitungan ini, dan pasti kamu tahukan kalau hanya aku satu satunya wanita yang di cintai Akbi. Bukannya setelah menikah kami masih tetap bersama"
"Jadi kalau kamu tidak mau terus di peralat Akbi untuk mendapatkan warisan maka segeralah berpisah dengan Akbi dan jangan pernah mau terbujuk rayuan Akbi jika ingin kembali padamu karena itu semua hanya untuk mendapatkan warisan dari ayahnya sendiri. Bukan karena dia benar benar mencintai kamu" ucap Monika ingin meracuni pikiran Alena.
Melihat Alena yang diam dan sesekali terlihat dia menarik nafas dalam dan membuang dengan kasar Monika tau kalau ucapan nya barusan pasti dapat mempengaruhi Alena.
Ya meski awalnya Akbi memang menikahi Alena karena ancaman kedua orang tuanya tapi dari perubahan sikap Akbi dan juga tadi Akbi yang tidak menggubris ancamannya bahkan mengusirnya dari kantor membuat Monika yakin kalau Akbi memang sudah jatuh cinta pada perempuan mur*han itu.
Dan sebelum Akbi berhasil membujuk Alena untuk kembali lagi dia harus segera membuat Alena semakin membenci Alvi hingga tidak mau kembali lagi pada Akbi.
Setidaknya walaupun Akbi tidak mau bersamanya lagi tapi dia juga tidak mau kalau sampai Akbi kembali lagi bersama dengan Alena dan hidup bahagia sedangkan dia akan menderita sendiri.
Tidak tentu saja Monika tidak mau itu terjadi jadi jika Akbi tidak bisa bersama dia lagi setidaknya Alena juga tidak boleh bersama lagi.
__ADS_1
Setidaknya dengan begitu masih ada kesempatan untuk mendekati Akbi lagi jika mereka benar benar bercerai.