Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
23. Curahan Hati Alena


__ADS_3

FLASH BACK ON....


Sebuah mobil mewah melintas di jalan. Seperti pagi pagi biasanya sang pemilik mobil tersebut akan menuju kantor nya untuk bekerja.


Tapi saat melewati sebuah taman, dia seperti melihat seseorang yang sangat di kenalinya. Dia pun memutuskan untuk balik arah dan kembali ke taman itu.


Saat kembali ke taman itu dia melihat seorang wanita tengah duduk sendirian di kursi taman sambil melamun.


Dan ternyata benar wanita itu adalah Alena. Wanita yang selama ini dia cintai secara diam diam. Ya orang itu adalah Reihan pria yang selama ini hanya bisa mengagumi Alena secara diam diam.


Awalnya Reihan hanya ingin melihat Alena dari kejauhan saja karena dia sadar status Alena seperti apa sekarang, tapi melihat Alena yang terus melamun seperti nampak sedih dan sedang dalam masalah akhirnya Reihan pun segera mendekat dan menepuk bahu Alena.


FLASH BACK OF.....


Akhirnya dengan berat hati Alena mengijinkan Reihan untuk duduk di sampingnya.


'Bener juga ini kan kursi umum jadi dia juga bisa duduk di sini, lagi pula duduk di sini sendiri akan lebih terlihat menyedihkan' gumam Alena.


Untuk sesaat mereka sama sama terdiam, Reihan yang masih menunggu Alena bercerita pun akhirnya tidak sabar dan mulai membuka suara untuk memeca keheningan di antara mereka.


"Apa hari ini kamu tidak pergi ke butik? kenapa malah di sini?" Tanya Reihan.


"Kau sendiri juga tidak di kantor malah ada di sini" Bukan nya menjawab Alena justru membalik pertanyaan Reihan tadi.


"Tadinya aku memang mau pergi ke kantor, tapi saat di perjalanan aku melihat ada wanita cantik yang duduk sambil bengong sendirian di taman, jadi dari pada nanti wanita itu kesambet mending aku temenin aja" Jawab Reihan yang sebenarnya jujur tapi di akhiri dengan candaan agar Alena bisa tersenyum.


Dan ternyata benar mendengar jawaban Reihan yang terdengar nyeleneh dan mengejek Alena sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Emang kenapa kalau aku kesambet, jarang jarang tau ada perempuan cantik kesambet"


"Ya nggak papa sih tapi cuma sayang aja kali cantik cantik tapi kesambet, mending aku culik aja dari pada kesambet"


"Emangnya siapa juga coba yang mau kamu culik"


mereka berdua sama sama tertawa tapi tawa Alena menghilangkan saat tiba tiba dia ingat tentang perselingkuhan suaminya.


Melihat Alena yang kembali murung Reihan jadi semakin yakin kalau saat ini Alena sedang dalam masalah.


"Alena, bukan maksud ku untuk lancang atau apa tapi, jika kamu punya masalah atau beban pikiran kamu bisa kok membaginya dengan aku. Walaupun belum tentu aku bisa memberikan solusi yang tepat untuk masalah mu, tapi setidaknya beban mu akan sedikit berkurang kalau kamu membaginya" Ucap Reihan.


Alena mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Reihan tadi, mungkin saja memang dia akan merasa lebih baik saat dia membagi dukanya pada Reihan. Tapi apa pantas untuk nya menceritakan tentang hubungan rumah tangganya pada orang lain.


Melihat Alena hanya diam, Reihan tau kalau Alena masih ragu untuk berbagi cerita nya, lalu Reihan bicara lagi.


"Aku tau kalau kamu mungkin masih ragu untuk berbagi cerita dengan ku, aku ngerti kok tapi Alena kapan pun kamu butuh teman untuk cerita atau bahkan hanya butuh pundak untuk bersandar, aku akan selalu ada untuk mu" kata Reihan dengan sungguh sungguh.


"Rei....... Aku nggak tau harus bicara apa atau mulai dari mana aku sendiri bingung" kata Alena akhirnya bersuara. Dia sendiri bingung harus bicara apa.


"Tenang saja Alena pelan pelan cerita nya"


Akhirnya Alena menceritakan semua pada Reihan, mulai dari ayahnya yang kritis dan menjodohkan dengan Akbi. Sampai foto mesra suaminya dan kekasihnya yang di kirim oleh orang yang tidak di kenalnya.


Reihan mendengarkan cerita Alena dengan seksama, dia tidak menyela Alena sampai Alena selesai bercerita.


Sesekali dia mengelus punggung Alena agar Alena merasa lebih tenang.

__ADS_1


Mendengar cerita Alena, Reihan merasa sangat marah pada Akbi karna telah mengkhianati wanita yang di cintainya itu, Tapi dia mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat emosi di hadapan Alena, Reihan tidak ingin Alena semakin merasa rapuh.


Reihan juga menyalahkan dirinya sendiri karena selama ini dia terlalu takut mendekati Alena, dia terlalu takut akan penolakan Alena. Coba saja dulu dia lebih berani mendekati dan mengungkapkan perasaannya pada Alena, mungkin Alena tidak akan dijodohkan ayahnya dan tidak akan merasa tersakiti karena penghianatan suaminya.


Reihan menunggu Alena merasa lebih tenang dari tangisnya. Setelah dirasanya tangis Alena sudah mulai tenang Reihan baru mulai berbicara.


"Alena..... Menurut ku apa yang kamu lakukan sudah benar, kamu memang jangan menunjukkan kecurigaan mu pada suamimu dulu agar dia tidak curiga dan malah semakin berhati hati"


"Baiklah...."


"Tapi bukannya kamu bilang kalau Akbi selalu pulang terlambat setiap hari dan menemui wanita itu dulu sebelum pulang?" Tanya Reihan.


"Iya aku yakin sekali Akbi pasti bertemu dengan kekasihnya dulu sebelum pulang, karena setiap hari dia selalu pulang malam"


"Kalau begitu bagaimana kalau nanti sore kita menunggu suamimu pulang dari kantor dan kita buntuti dia, apakah dia benar benar akan menemui kekasihnya itu atau tidak, jika memang benar dia menemui kekasihnya selama ini, menurut ku kamu harus tentukan pilihanmu dan kamu juga harus bicara baik baik pada orang tuanya suamimu jika yang kamu ambil adalah keputusan terburuk. Bagaimana pun mereka sudah menganggap kamu sebagai putri mereka sendiri" Reihan mengucapkan pemikiran nya.


"Tapi aku nggak enak kalau kamu juga ikut ngikutin Akbi, kamu juga pasti sibuk kan jadi biar aku sendiri aja yang mengikuti Akbi sendiri saja" tolak Alena pada keinginan Reihan yang ingin menemaninya.


"Tidak Alena, aku tidak akan membiarkan mu sendirian menghadapi semua ini, jadi biarkan aku menemanimu ya"


Reihan tidak mungkin membiarkan Alena menghadapi semua ini sendiri, apalagi kalau sampai Alena melihat sendiri suaminya bersama wanita lain. Itu akan membuat Alena semakin sedih dan hancur.


Akhirnya Alena menyetujui permintaan Reihan yang ingin menemaninya mengikuti Akbi sore ini karena Reihan terus bersikeras menemaninya.


"Kalau begitu sekarang lebih baik kamu ikut dengan ku dulu" ajak Reihan.


"Ikut kemana?" tanya Alena.

__ADS_1


"Kita jalan jalan dulu, kita tenang kan hatimu dulu agar nantinya kamu bisa lebih tenang saat mengetahui semuanya"


Alena berfikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


__ADS_2