
Setelah memeriksa keadaan Nyonya Sarah Dokter dan Suster keluar dari ruang rawat Nyonya Sarah.
Alena menggenggam jari jemari ibu mertuanya lalu mengecupnya dengan lembut.
"Mah maafkan Alena ya Ma, Mamah jadi seperti ini karena Alena" ucap Alena dengan berurai air mata.
Dengan pelan dan masih lemah tangan Nyonya Sarah terulur untuk menghapus air mata Alena lalu dia ber ucap.
"Ini bukan salah kamu nak, mungkin karena Mama sudah tua jadi mudah sakit. Dan juga kamu jangan menyalahkan diri sendiri karena mungkin jika ini terjadi pada Mama Mama akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan" ucap Nyonya Sarah tersenyum mencoba menerangkan Alena.
"Makasih ya Ma, karena Mama udah sayang banget sama Alena dan Mama juga sudah menganggap Alena sebagai anak sendiri"
Setelah berucap Alena lalu memeluk ibu mertuanya, tapi dia memeluk dengan tidak terlalu erat karena tidak mau menyakiti ibu mertuanya.
Akbi melihat betapa dekatnya dan tulusnya hubungan antara orang tuanya dengan Alena merasa bersalah lagi.
Coba saja dirinya tidak menduakan Alena dari awal, pasti saat ini rumah tangga nya akan baik baik saja dan ibunya juga tidak akan seperti ini. Ini semua adalah akibat dari kesalahannya sendiri.
"Ma Akbi minta maaf ya, ini semua karena kesalahan Akbi, Akbi akui kalau Akbi memang salah eh bukan salah tapi sangat teramat salah. Akbi tidak berfikir panjang saat melakukan itu" ucap Akbi penuh penyesalan.
Nyonya Sarah menghela nafas kasar. Dia masih marah pada Akbi, tapi mau bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur. Tidak bisa di ubah menjadi nasi lagi. Yang bisa adalah dikasih ayam, kecap, sama bawang goreng biar enak di makan.
Jadi meski masih kesal Nyonya Sarah akhirnya menganggukkan kepalanya pada Akbi.
Dan anggukan kepala dari ibunya sudah membuat Akbi sedikit lega meski beban dalam hati nya masih tapi setidaknya sekarang agak berkurang walau hanya sedikit.
******
Seharian itu baik Tuan Hendrawan, Akbi dan Alena tidak ada yang kembali ke tempat kerja masing-masing.
Ketiganya kompak untuk menjaga Nyonya Sarah di rumah sakit.
Kini hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Alena sedang bersiap untuk pulang ke rumah nya.
Tadinya dia ingin menginap di rumah sakit tapi ibu mertuanya meminta Alena untuk pulang saja.
Dia merasa tidak tega bila melihat Alena tidur di sofa. Apalagi di sini sudah ada suaminya jadi tidak perlu banyak orang yang menginap.
Akhirnya setelah kalah berdebat dengan ibu mertuanya Alena memutuskan untuk pulang dan akan kembali ke rumah sakit besok pagi lagi.
__ADS_1
"Mah Alena pulang dulu ya, besok Alena akan kesini lagi buat jagain Mama" pamit Alena pada ibu mertuanya.
"Iya sayang kamu hati hati ya" ucap Nyonya Sarah pada menantunya.
"Iya mah, Pa Alena pamit dulu ya"
"Eh tunggu Alena, kamu mau pulang sendiri jam segini?" tanya Nyonya Sarah.
"Iya Ma, emang kenapa ya mah?"
"Ini kan udah malem nggak baik perempuan secantik kamu pulang sendiri, bahaya tau sayang" ucap Nyonya Sarah.
"Nggak papa kok Ma, Alena juga udah biasa ko lagian Alena kan bawa mobil sendiri jadi Mama nggak perlu khawatir sama Alena"
"Maka dari itu kamu jangan nyetir sendiri malem malem"
"Tap,,,,,,,," belum sempat Alena melanjutkan ucapannya terlebih dulu di potong akbi.
"Aku akan mengantarmu pulang" putus Akbi.
"Nggak usah aku bisa pulang sendiri" jawab Alena agak ketus.
Alena baru akan kembali membuka mulut tapi Tuan Hendrawan terlebih dulu ber ucap.
"Iya Alena, benar kata Mama mu, kamu pulang di antar Akbi saja ya"
"Ya udah Pa, Ma Alena pamit dulu Assalamualaikum" pamit Alena lalu mencium punggung tangan ibu dan ayah mertuanya.
Akbi pun ikut berpamitan pada kedua orangtuanya dan mencium punggung tangan Papa dan Mama nya.
Alena dan Akbi pulang bersama menggunakan mobil Akbi dan mobil Alena di tinggal di parkiran rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Alena hanya ada keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
Baik itu Akbi ataupun Alena tidak ada yang membuka suaranya, meski pikiran mereka sedang berkelana kemana mana.
Sesekali Akbi melirik ke arah Alena yang sejak masuk ke dalam mobil selalu memusatkan pandangannya ke jendela.
Akbi ingin sekali memecah keheningan ini dan memulai percakapan dengan Alena agar suasana tidak terlalu canggung untuk mereka.
__ADS_1
Tapi Akbi bukan orang yang pandai memulai percakapan, biasanya Alena lah yang selalu memulai percakapan dan selalu membawa suasana ceria di mana pun dia ada.
Tapi kali ini Alena diam seribu bahasa .
Akhirnya setelah cukup lama diam, Akbi memulai percakapan dengan Alena.
"Ehmm..... Bagaimana keadaan kamu sekarang? Kamu terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu sebelumnya"
"Aku baik, hanya kurang nafsu makan saja" jawab Alena tanpa menoleh pada Akbi.
"Alena aku tau kesalahan ku memang tak bisa di toleransi lagi. Tapi aku harap kamu masih bisa memaafkan aku. Dan juga aku ingin bilang terima kasih karena kamu masih mau menganggap orang tuaku sebagai orang tuamu sendiri meski aku sudah banyak menyakiti kamu" ucap Akbi dengan sendu.
"Mereka menyayangi dan mencintai aku seperti anak sendiri, jadi aku pun akan selalu menganggap mereka sebagai orang tua kandung ku sendiri meski kita sudah berpisah"
Setelah pembicaraan singkat itu baik Akbi dan Alena tidak ada yang bicara lagi. Mereka kembali berkelana dalam pikiran masing masing.
Entah apa yang ada yang ada di fikiran mereka hanya mereka sendiri yang tau.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi kini sampai di halaman rumah Alena.
Setelah mobil berhenti Alena segera turun dari dalam mobil dan hendak masuk ke rumah tanpa berniat untuk mengucapkan terima kasih pada Akbi karena sudah mengantarnya pulang.
Tapi saat Alena melangkah menuju rumahnya, Akbi turun dari mobil dan memanggil nama Alena.
"Alena tunggu" panggil Akbi.
Alena membalikkan badan dan menatap Akbi.
"Ada apa?" tanyanya singkat.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam, mimpi indah dan yang paling penting besok aku akan menjemputmu"
"Huh..... Buat apa kamu mau jemput aku. Nggak usah sok perhatian deh"
"Kan mobil kamu ada di rumah sakit jadi besok aku akan mengantarmu ke sana"
"Nggak usah, simpan aja tawaran kamu untuk pacar kamu aja aku nggak perlu" ucap Alena ketus. Lalu hendak berbalik dan masuk ke rumah lagi.
"Tapi aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Monika" ucap Akbi lantang.
__ADS_1
Seketika langkah Alena terhenti mendengar ucapan lantang Akbi barusan.