
Akbi berjalan dengan perlahan dan lesu menuju mobilnya. Jangankan untuk membujuk Alena, mendengarkan penjelasan nya saja Alena sudah tidak mau.
Jadi Akbi rasa memberikan waktu dulu untuk Alena menenangkan diri adalah hal yang terbaik untuk saat ini.
Akbi masuk ke dalam mobilnya dan mengacak ngacak rambut frustasi. Dia tau kalau suatu saat Alena pasti akan tau tentang kebohongan nya, tapi Akbi masih belum rela Alena mengetahui semuanya secepat ini.
Akbi membenturkan kepalanya di setir mobil. dan terus merutuki kebodohannya. Di lihatnya jendela kamar Alena yang tertutup sebelum pergi dari rumah Alena.
***********
Sudah satu minggu Alena tidak mau keluar rumah, dia tidak ke butik juga selama itu.
Alena terus merenung dan mencoba berfikir dengan jernih tentang kelanjutan hubungan pernikahan nya dengan Akbi.
Sudah cukup waktu yang di butuhkan Alena untuk menyendiri kini Alena memang benar benar harus menghadapi semua dan menyelesaikan semua permasalahan nya. Dia tidak bisa selalu terpuruk seperti ini, ia harus bangkit lagi.
Pagi itu Alena keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan sedikit make up untuk menutupi wajahnya yang berantakan karena sering menangis.
Saat Alena sampai di ruang tamu hendak keluar rumah, dia bertemu dengan bik Sri yang habis dari pasar.
"Non Alena mau kemana? kok pagi pagi udah rapi non?" tanya bik Sri yang penasaran karena seminggu ini nonanya hanya di kamar saja bahkan untuk makan saja sering kali dirinya yang mengirimkan ke kamar Alena.
"Saya mau keluar dulu bik, ada yang harus Alena urus dulu" jawab Alena dengan tersenyum.
Bik Sri yang melihat nonanya sudah mau tersenyum juga ikut tersenyum melihatnya.
"Ya sudah non ati ati ya di jalan"
"Iya bik Alena pergi dulu"
"Iya non"
Hari ini Alena ingin menemui Akbi di kantornya, tapi sebelum itu Alena mampir ke makam orang tua nya dulu.
"Ayah, Ibu Alena datang, maaf ya Yah Buk kalau Alena udah lama nggak nengokin Ayah sama Ibu. Alena juga minta maaf sama Ayah karena Alena sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan Alena dengan pria pilihan Ayah. Semoga Ayah sama Ibu mau terima keputusan yang sudah Alena ambil ini yah"
Alena ber ucap sambil menangis. Ia teringat dengan kenangan nya dulu dengan orang tuanya.
__ADS_1
Dulu setiap Alena ada masalah atau sedih, orang tuanya lah yang selalu menghiburnya dan memberikan semangat juga nasehat untuk Alena.
Tapi kali ini Alena harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan kemampuan dirinya sendiri.
Alena berada di makan orang tuanya cukup lama, dari pagi sampai matahari sudah menunggi.
Alena bercerita banyak hal seperti dulu saat ia bercerita pada orang tuanya. Dari hal hal yang konyol sampai masalah rumah tangganya yang belakangan ini membuat Alena terpuruk.
Kini Alena sudah berada di dalam mobilnya lagi untuk menemui Akbi di kantornya.
Setelah lebih dari tiga puluh menit perjalanan. Alena sampai di depan gedung kantor Akbi. Dia berjalan dengan anggun seperti biasanya dan para karyawan yang melihat Alena datang langsung memberikan salam dulu pada Alena, karena seluruh isi kantor pun tau kalau Alena adalah istri dari bos mereka. Jadi mereka semua begitu menghormati Alena, apalagi karena kepribadian Alena yang baik dan tidak sombong membuat mereka lebih menghargai dan menghormati Alena.
Alena menaiki lift khusus untuk para petinggi perusahaan guna sampai di ruangan Akbi.
Saat di lift Alena menengahi jantungnya karena bunyi detakan nya semakin terasa kencang. Dia merasa gugup, sedih, dan bingung juga semua menjadi satu dalam benak Alena.
Alena mencoba menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya lagi.
Ting....
Alena berjalan menuju ruangan Akbi. Dilihat nya ada sekertaris Akbi yang sedang fokus menatap layar laptopnya.
Alena menyapa nya guna untuk menanyakan apakah Akbi ada di dalam apa tidak.
"Sandra" sapa Alena.
Sekertaris itu mendongak kan kepalanya saat dia mendengar ada yang memanggil namanya. Dan dia langsung kaget saat dilihatnya Nyonya Alena yang datang.
"Aduh maaf Bu Alena tadi saya terlalu fokus kerja sampai tidak menyadari kedatangan Bu Alena" ucap sang sekertaris dengan wajah menyesalnya.
"Nggak papa kok santai aja, saya cuma mau tanya pak Akbi nya ada di dalam apa tidak ya?" tanya Alena.
"Iya Bu, pak Akbi nya ada dalam silahkan masuk Bu" kata Sandra mempersilahkan Alena.
"Terimakasih"
"Sama sama Bu"
__ADS_1
Alena menmengatur nafasnya dulu sebelum masuk ke ruang kerja Akbi itu.
Ceklek......
Suara pintu terbuka. Alena membuka pintu tanpa di ketuk dulu.
Akbi yang mendengar pintu di buka tanpa yang di ketuk dulu, tadinya dia mau marah tapi ternyata orang yang muncul di balik pintu adalah orang yang selama seminggu ini selalu dia rindukan dan khawatir kan.
Melihat Alena datang, Akbi segera bangkit dari duduknya dan segera berjalan menghampiri Alena yang masih ada di depan pintu.
Saat Akbi hendak memeluk Alena, Alena terlebih dahulu berkata.
"Stop Akbi jangan mendekat atau aku akan pergi lagi!" ancam Alena pada Akbi.
Akbi yang ingin memeluk Alena langsung berhenti di tempatnya dan tidak jadi memeluk Alena. Padahal dia sudah rindu setengah mati pada Alena karena seminggu ini Alena tidak mau mengangkat telepon dari nya atau pun hanya sekedar membalas pesan WA dari dia.
Bahkan Akbi pergi ke rumah Alena saja sudah terlebih dulu di hadang oleh satpam tidak di perbolehkan masuk.
Tapi Akbi tetap mengalah karena dia tau kesalahan nya memang terlalu berat untuk di maafkan.
"Alena, kamu kesini sayang, kamu kenapa selalu nolak panggilan dari aku, aku tuh kangen banget sama kamu Alena" kata Akbi sendu.
"Aku udah bilang kan kalau aku butuh waktu sendiri, aku lagi nggak mau di ganggu dulu"
"Ok aku minta maaf tapi sekarang sebaiknya kamu duduk dulu di sana itu lebih baik dari pada hanya berdiri saja" ucap reihan untun.
Alena menuruti ajakan Akbi untuk duduk dulu di sofa.
Akbi meraih jemari Alena lalu menggenggam nya dengan lembut.
"Alena kamu dengerin aku ya, aku bisa jelasin semuanya ke kamu Alena, tapi aku minta kasih waktu aku buat jelasin dulu semuanya ya" pinta Reihan dengan memelas.
"Ok aku akan dengerin alesan kamu kali ini"
"Makasih Alena, aku akan ceritakan semuanya yang terjadi antara aku dan Monika setelah kita berdua menikah.
Alena tak bereaksi apapun tapi dalam hati ia cukup tegang dan takut dengan cerita Akbi nantinya.
__ADS_1