Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
35. Serangan Jantung


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat ibu mertuanya di rawat Alena segera keluar lagi dari butiknya dengan tergesa gesa.


Bahkan para karyawan yang butik yang melihat Alena keluar dengan tergesa-gesa dengan penuh tanya.


Pasalnya baru beberapa saat lalu Alena kembali dari luar dan kini dia keluar lagi dan itupun dengan tergesa gesa. Tapi meskipun mereka penasaran mereka tidak ada yang berani bertanya karena mereka merasa tidak sopan jika bertanya hal pribadi yang bukan berkaitan dengan urusan butik.


Jadi mereka hanya bisa menatap keheranan bos mereka itu dan dalam hati mereka juga berdoa semoga bos mereka baik baik saja.


Karena belakangan ini Alena jarang ke butik, jadi para karyawan butiknya merasa kalau saat ini Alena sedang ada masalah.


******


Kini Alena tiba di rumah sakit tempat ibu mertuanya di rawat Alena langsung menelfon tuan Hendrawan sang mertua untuk menanyakan dimana ruangan ibu mertuanya dirawat.


Setelah mengetahui ruangan ibu mertuanya, Alena segera mencari ruang rawat ibu mertuanya dan saat sudah menemukan ruangan itu dua langsung membuka pintu.


Ceklek.


Suara pintu terbuka.


Saat Alena membuka pintu tampak ada ayah mertuanya dan Akbi sedang berdiri di samping ranjang rawat ibu mertuanya. Sedangkan ibu mertuanya sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan mata yang masih terpejam.


Mereka berdua tampak kompak menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka.


Mata Alena langsung bertemu dengan mata Akbi. Sesaat Alena terpaku melihat sorot mata Akbi yang seperti mengisyaratkan sebuah kerinduan.


Alena memalingkan wajahnya agar tidak menatap mata Akbi lagi. Dia tidak ingin goyah bila terlalu lama menatap mata Akbi.


Karena selain tidak ingin melihat matanya yang sendu dan seperti mengisyaratkan kerinduan. Alena juga tidak ingin menunjukkan kalau dirinya sangat merindukan pemilik mata itu.


Rasa bencinya pada Akbi memang sangat besar tapi rasa benci itu ada karena adanya rasa cinta yang besar pula.


Alena berusaha untuk tetap kuat dan bersikap tegar. Dia meyakinkan dirinya untuk tidak goyah dengan keputusan yang telah diambil nya.


Pelan pelan Alena m langkah mendekati mertuanya. Langkahnya terhenti di depan sang ayah mertua.


Alena mengambil tangan ayah mertuanya lalu menyaliminya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Mama sekarang pah" tanya Alena setelah mencium telapak tangan ayah mertuanya.


"Kata Dokter Mama mu terkena serangan jantung ringan tadi. Itu yang menyebabkan dia tidak sadarkan diri" jawab tuan Hendrawan.


"Ya Allah bagaimana bisa Mama terkena serangan jantung ringan Pa? bukan kah selama ini Mama baik baik saja?" tanya Alena dengan syok.


Selama ini yang dia tahu ibu mertuanya baik baik saja lalu kenapa tiba tiba ibu mertuanya bisa terkena serangan jantung.


"Mama mu sekarang baik baik saja untung bik Narti dan bik Sumi segera membawa Mama mu ke rumah sakit jadi semua bisa baik baik saja"


"Tapi Pa bagaimana Mama bisa seperti ini? setau Alena Mama baik baik saja tidak sakit?" tanya Alena lagi.


Dia tidak bisa menahan kesedihannya mengetahui ibu mertuanya yang selama ini sangat menyayangi nya bahkan menganggap dia sebagai putri sendiri sekarang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Melihat itu Alena kembali teringat kedua orang tuanya yang telah tiada.


Alena tidak ingin kehilangan orang tuanya lagi. Meski itu mertuanya tapi sudah seperti orang tua sendiri.


"Sebenarnya ini salah ku Alena, aku yang telah mengakibatkan Mama sakit seperti ini?" kini Akbi membuka suara setelah diam saja dari tadi.


"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan Akbi? kenapa Mama bisa seperti ini?" tanya Alena kini dengan menatap dengan wajah penuh amarah.


Akbi melihat Alena menatap nya dengan penuh amarah hatinya terasa teriris. Mata yang dulu menatap nya lembut dan penuh cinta sekarang menatanya dengan penuh amarah.


"Maafkan aku Alena, aku akui aku yang salah. Tadi aku menelfon ibu untuk mengatakan bahwa kamu sudah mendaftarkan gugatan cerai kita di pengadilan agama dan kata bik Narti setelah menerima telepon dari ku Mama merasa dadanya sakit lalu pingsan. Lalu mereka segera membawa Mama kerumah sakit dan menelfon aku dan Papa" ucap Akbi dengan wajah sendu.


"J..jadi Mama seperti ini sekarang karena mendengar kabar tentang gugatan cerai itu?" tanya Alena lagi.


Kini tidak ada lagi wajah marahnya berubah menjadi wajah yang sedih dan merasa bersalah.


Tuan Hendrawan yang melihat raut wajah menantunya mengerti kalau sekarang Alena pasti menyalakan dirinya jadi dia segera membuka suara.


"Kamu jangan merasa bersalah nak Mama mu akhir akhir ini banyak mengalami hal hal yang membuatnya syok dan ini bukan karena kamu nak tapi karena anak tidak tahu diri itu" ucap Tuan Hendrawan pada Alena.


"Papa benar Alena, ini semua terjadi karena kesalahan yang ku perbuat. Aku disini yang harus di salahkan" ucap Akbi dengan tertunduk.


Mendengar itu air mata Alena semakin deras mengalir. Dia tidak tau kalau dampaknya akan seperti ini pada kesehatan ibu mertuanya.

__ADS_1


Dengan terisak Alena kembali bertanya pada ayah mertuanya.


"Lalu bagaimana lagi kata Dokter Pah?" tanya Alena dengan terisak.


"Dokter menyarankan untuk Mama sementara dirawat di rumah sakit dulu untuk beberapa hari dan kalau bisa jangan buat Mama tertekan dan syok lagi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan" terang Tuan Hendrawan.


Saat mereka sedang bicara, mata Nyonya Sarah terbuka perlahan.


Dia melihat suami, anak dan menantunya sedang berbicara dan Alena sedang menangis.


"Aallenna...... Aakkkbbiii..... Paaappaa...."


Panggil Nyonya Sarah dengan suara lirih dan terbata.


Mendengar suara Nyonya Sarah. Sontak membuat mereka bertiga kompak menoleh ke arah ranjang pasien dan mereka semua bersyukur melihat Nyonya Sarah kembali sadar.


"Ma Mama sudah sadar" ucap Alena tersenyum melihat ibu mertuanya kembali sadar.


"Aku akan memanggil Dokter dulu" ucap Akbi.


"Eh,,,, kamu mau kemana? nggak usah keluar kalau mau panggil Dokter, tinggal pencet tombol itu aja" ucap Tuan Hendrawan pada anaknya.


"Oh iya Pa maaf Akbi lupa habisnya Akbi panik Pa" jawab Akbi.


Lalu segera memencet tombol untuk memanggil Dokter.


Tak lama kemudian datang seorang Dokter dan Suster yang masuk ke ruang rawat Nyonya Sarah.


Dokter itu memeriksa kondisi Nyonya Sarah dengan seksama lalu menanyakan apa yang di rasakan Nyonya Sarah.


"Nyonya apa yang Nyonya rasakan sekarang? apa ada keluhan?" tanya Dokter itu pada Nyonya Sarah.


"Kepala saya sakit Dok, dada saya juga rasanya sakit Dok, agak sesak juga rasanya" ucap Nyonya Sarah mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.


"Saya akan memberikan obat untuk apa yang Nyonya keluhkan tadi, dan Nyonya juga harus bisa menenangkan fikiran jangan stres atau terlalu banyak pikiran dulu ya Nyonya" terang sang Dokter.


"Iya Dok"

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu"


__ADS_2