Penantian Cinta Sang Istri

Penantian Cinta Sang Istri
45. Mau Kemana?


__ADS_3

Setelah Alena memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan mereka. Kini hubungan mereka berdua semakin dekat lagi dan semakin membaik.


Alena tidak lagi menghindari Akbi dan Akbi sendiri tentu saja selalu mencari kesempatan setiap saat untuk mendapatkan Alena kembali.


Hingga akhirnya Alena kembali mau memaafkan Akbi dan memulai kembali pernikahan mereka yang di ujung tanduk perpisahan.


Dan hari ini adalah hari sidang perdana perceraian mereka. Akbi dan Alena kini sepakat untuk membatalkan perceraian itu mengingat hari ini adalah sidang mediasi pertama jadi mereka berdua berangkat bersama menuju ke Pengadilan Agama.


Orang tua Akbi juga sangat senang mendengar keputusan Alena yang mau membatalkan perceraian nya dengan Akbi. Tuan Hendrawan dan Nyonya Sarah berharap agar masalah yang kemarin bisa di jadikan sebagai pelajaran bagi keduanya kedepannya agar lebih bisa mempererat tali pernikahan mereka.


Kini semua sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan sebelum memulai aktivitas mereka masing masing.


"Jadi nanti kalian berangkat jam berapa?" tanya Nyonya Sarah pada Akbi dan Alena.


"Nanti jam sembilanan Mah karna sidangnya di mulai jam sepuluh nanti" jawab Akbi dengan tersenyum.


Akbi sangat senang hari ini akhirnya setelah beberapa hari terus meyakinkan Alena akhirnya Alena mau membatalkan gugatan cerainya.


Akbi senang sampai sampai bibirnya tak pernah berhenti tersenyum dari bangunan tidur tadi. matanya pun senantiasa selalu melihat ke arah Alena.


"Lama banget jam sepuluh kan mama jadi deg degan sendiri nih" ucap Nyonya Sarah tersenyum senang.


"Jam sepuluh itu udah paling pagi lho Mah jadwal sidangnya" sahut Tuan Hendrawan.


"Iya tapi Mama udah nggak sabar Pah. Pengen cepet cepet selesai ini semua biar plong Pah" ucap Nyonya Sarah pada suaminya.


"Mah maafin Alena ya Mah karna Alena sudah bikin semua jadi begini" ucap Alena.


"Kamu nggak perlu minta maaf sayang, ini semua bukan salah kamu kok. Tuh dia juga yang paling salah" ucap Nyonya Sarah sambil menunjuk Akbi dengan dagunya.

__ADS_1


"Sekarang yang harus kalian lakukan adalah jadikan masalah ini sebagai pelajaran untuk kalian kedepannya agar lebih bijak menyikapi nya lain kali dan juga yang namanya rumah tangga itu pasti ada yang namanya masalah dan cobaan apalagi kalian ini kan menikah karena di jodohkan jadi butuh banyak mengerti satu sama lain lagi agar kalian bisa lebih saling memahami" nasehat Nyonya Sarah pada anak dan menantunya.


"Iya mah kita pasti akan dengerin nasehat Mama. Akbi juga janji kejadian yang kemarin itu nggak akan terulang lagi" ucap Akbi sungguh sungguh sambil memegang tangan Alena dan menatap wajah Alena.


Baginya sudah cukup Alena kemarin meninggalkannya Akbi tidak ingin sampai terjadi untuk kedua kalinya.


Alena tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Akbi barusan.


*********


Tepat pukul sembilan Akbi dan Alena berangkat ke Pengadilan Agama bersama sama.


Jika satu bulan yang lalu tempat itu menjadi tempat yang menakutkan dan paling tidak ingin di kunjungi oleh Akbi. Tapi hari ini dia paling semangat datang ke tempat itu.


Karena tujuannya kemari bukan untuk berpisah dengan Alena tapi untuk kembali bersama dengan pujaan hatinya Alena. Kembali membina rumah tangga dengan cintanya, jodohnya, tulang rusuknya Alena.


Kini Akbi dan Alena sudah sampai di Pengadilan Agama dan disana mereka melihat ada pengacara mereka yang menunggu di dalam gedung.


(Saya nggak tahu proses sidang itu seperti apa jadi langsung skip selesai ya sayang dari pada salah nantinya)


"Selamat Pak Akbi, Bu Alena kalian sekarang resmi batal bercerai" ucap pengacara Alena.


"Iya terimakasih sebelumnya Pak dan maaf karena sudah merepotkan bapak" jawab Alena merasa tidak enak.


"Itu memang sudah pekarjaan saya Bu. Sekali lagi selamat untuk pak Akbi dan Bu Alena"


Akbi dan Alena kembali ke mobil setelah semua urusan mereka berdua selesai. Akbi menyetir mobil dengan satu tangan digunakan untuk menyetir sedang satu tangannya yang lain terus menggenggam tangan Alena. Seperti takut kalau kalau tangan itu lepas Alena akan pergi menghilang saja.


"Bi lepas dong tangannya. Kamu lagi nyetir nih bahaya kalau cuma pakai tangan satu" protes Alena pada Akbi karena tangannya sedari tadi terus di genggam oleh Akbi.

__ADS_1


"Gak papa kamu nggak usah khawatir kalau kita nabrak. Aku tuh jagonya nyetir jadi nggak usah takut" jawab Akbi enteng.


"Yah tapi lepasin dulu tangan aku. Masak dari tadi nggak di lepas sama sekali sih. Takut banget aku ilang" ucap Alena cemberut.


"Emang, aku takut kamu ilang kalo aku lepas tangan aku" jawab Akbi dengan tersenyum menyebalkan.


"Emangnya kenapa kalau aku ilang?"


"Kalau kamu ilang nanti aku bakal bikin selebaran terus aku tulis ' dicari istri cantik hilang' kalau perlu aku sewa baliho juga buat pasang iklan" jawab Akbi dengan tertawa.


"Ih nyebelin banget sih kayak nyari anak ilang aja pakai selebaran. Apalagi pakai baliho juga emang kamu mau muka istri kamu yang cantik ini di lihatin orang yang lagi nyetir di jalan" ucap Alena sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


Akbi semakin dibuat gemas dengan tingkah Alena. Tanpa basa-basi Akbi langsung secepat kilat mengecup bibir Alena yang sedang mengerucut itu.


Alena yang mendapatkan serangan dadakan dari suaminya awalnya hanya diam tak bereaksi sangking kagetnya. Tapi di detik berikutnya Alena langsung ngomel ngomel sama Akbi.


"Apa apaan sih kamu Akbi. Main ciam cium aja kamu itu lagi nyetir Akbi bahaya. Kalau tadi ada mobil di depan gimana kan kamu harusnya konsentrasi dong nyetir mobilnya jangan pake ciam cium kalau lagi nyetir gini" omel Alena.


"Abis kamu tuh gemesin banget sayang aku jadikan gemes sama kamu. Apalagi kalau lagi cemberut makin bikin gemes tau pengen cium terus bawaannya" jawab Akbi dengan senyuman jahilnya.


"Tapi nggak kalau mobil lagi jalan juga dong Akbi kan bahaya" kesal Alena.


"Iya iya lain kali nggak lagi sayang aku janji. Lain kali kalau mau cium mobilnya aku pinggirin dulu" jawab Akbi masih ingin menggoda Alena.


"Ihhh jangan bahas itu lagi malu Akbi" rengek Alena karena terus di goda oleh Akbi.


"Eh tunggu tunggu deh. Bi kita mau kemana ini kok kita lewat sini? bukannya kita mau pulang ya?" tanya Alena.


Karena dia baru menyadari kalau ternyata mereka tidak sedang menuju ke arah rumah mertuanya ataupun arah kantor dan butik.

__ADS_1


"Kita mau kemana sih Bi?"


__ADS_2