
Pesawat Bima mendarat disebuah bandara yang terlihat tidak terlalu luas. Memang hanya khusus dibuat untuk pribadi saja apalagi itu pulau pribadi miliknya.
Bima membangunkan istrinya yang tertidur di salah satu kamar di pesawatnya itu.
“Sayang....kita sudah sampai” ucap Bima sambil memegang kepala Yasmin. Yasmin membuka matanya secara perlahan – lahan.
“Eem....kita sudah sampai ya” balas dengan suara serak sambil mengucek ngucek matanya karena rasa ngantuknya yang masih terasa.
Ia kemudian bangun dan merapikan pakaian dan rambutnya. Diwajahnya terlihat jelas jika ia sudah tidak sabar ingin turun dari pesawat dan menikmati liburannya. Ia lalu turun bersama dengan Bima dan yang lainnya, dibawah sudah terlihat beberapa orang yang menyambutnya.
“Selamat datang Tuan Muda” sapa secara bersamaan para pengawal yang menyambut mereka.
Sementara Yasmin melihat sekeliling dengan wajah bingung karena saat itu ia tidak melihat keramaian seperti yang terjadi di Bandara pada umumnya. Tidak ada orang lalu lalang dan tidak ada pesawat yang berjejer saat itu. Ia hanya melihat pesawatnya saja apalagi keadaan disekitar sangat sepi.
“Sayang......”
“Eem”
“Bukankah kita ada di Prancis tapi kenapa sepi begini?” tanya Yasmin.
“Kita memang di Prancis tapi sekarang kita tidak berada di Kotanya tapi di Pulau pribadi milik keluarga kita sayang”
“Apa.....” dengan wajah terkejut sambil memandang wajah Bima.
“Kenapa sayang?” tanya Bima sedikit bingung melihat ekspresi Yasmin.
“Tidak apa – apa” sambil memalingkan wajahnya karena kesal.
“Ayo....” sambil menarik tangan Yasmin.
Bima menaiki motor Harley yang sudah disediakan pengawalnya dari tadi. Yasmin yang melihat itu semakin terkagum – kagum melihat suaminya dengan motor besarnya menambah kesan cool dimatanya.
“Apapun yang dilakukan paman tetap saja terlihat tampan. Haaaa.....aku sepertinya tidak bisa terus marah padanya jika dia terus membuatku terpanah begini. Tapi kalau aku tidak marah, nanti dia akan seenaknya saja seperti sekarang” dalam hati Yasmin.
“Sayang...ayo” panggilan Bima membuyarkan lamunannya. “Kamu duduk didepan sini ya” kata Bima sambil memberikan kode dengan tangannya. Yasmin hanya mengangguk mengiyakan.
Ia membonceng istrinya didepan. Sementara yang lainnya mengikuti mereka dari belakang.
Saat dijalan ia melihat wajah Yasmin yang terus cemberut. Ia mencoba berbicara pada Yasmin.
“Ada apa sayang....semenjak kamu turun dari pesawat aku selalu memperhatikan wajahmu yang cemberut itu?”
“Huh....”
“Sayang...katakan jika aku punya salah. Jangan diam dengan wajah cemberut didepanku. Aku tidak tahan melihatnya”
“Ia...aku memang sedang marah padamu”
“Marah karena apa” sambil memajukan wajahnya didekat telinga Yasmin.
“Kamu bilang akan mengajakku berlibur tapi ini seperti memenjarakanku disebuah pulau terpencil. Ini bukan liburan namanya sayang”
“Jadi liburan seperti apa yang kamu maksud?” tanya Bima.
__ADS_1
“Yaaaa.....jalan – jalan ke Taman Wisata di Kota Prancis, sambil foto – foto berdua”
“Jadi kamu maunya kita liburan seperti orang – orang biasa lainnya”
“Ia....aku ingin sekali menikmati liburan yang sebenarnya. Bukan berada di Pulau terpencil seperti ini. Disini sangat sepi sayang, tidak seperti liburan pada umumnya”
“Baiklah....besok kita akan berangkat ke Kota seperti yang kamu inginkan”
“Kenapa bukan sekarang saja?”
“Sayang.....kita baru sampai setelah perjalanan panjang. Masa sekarang kita berangkat lagi apalagi kamu sedang hamil. Kita istirahat saja dulu disini”
“Baiklah...tapi janji ya. Besok kita keluar pulau ini”
“Ia sayang....aku janji”sambil mencium kepala Yasmin yang berada didepannya.
Setelah berkendara, mereka sampai disebuah Vila didekat Pantai. Bima memarkirkan motor besarnya didepan Vila dan membantu Yasmin turun dari motor. Dari luar Vilanya terlihat sangat mewah. Cat putih dari setiap dinding menambah kesan klasik dari Vila tersebut.
Mereka masuk kedalam Villa itu, didalam mereka disambut oleh beberapa pelayan Villa.
“Selamat datang kembali Tuan Muda”
“Eem”
Yasmin berkeliling didepan Bima sambil melihat – lihat disekeliling Villa itu.
“Antarkan Nyonya kalian ke kamar utama dulu”
“Baik Tuan Muda”
“Ia...” Yasmin berbalik setelah mendengar panggilan Bima.
“Aku menelfon dulu ya. Kamu masuk duluan”
“Ia...”
Ia lalu berjalan menuju kamar utama dituntun oleh salah satu pelayannya.
“Ini kamarnya nyonya” sambil meletakkan koper Yasmin didekat kasurnya.
“Ia....terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang”
“Baik”
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Yasmin yang masih berdiri didalam kamarnya.
Sedangkan Yasmin sekarang berpikir tentang siapa yang dihubungi Bima disaat liburan seperti ini.
“Siapa yang dia telfon disaat liburan begini. Bukankah semua pekerjaannya ditangani kak Kenan” gumamnya sendiri.
Ia lalu membuka koper yang sudah dibawa para pelayan tadi dan mempersiapkan baju yang ingin dipakainya. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi, ia memakai gaun tidur panjang berwarna putih dengan tali yang melingkar dilehernya memperlihatkan kedua pundaknya yang putih mulus. Tiba – tiba seorang pelayan datang mengetuk pintu kamarnya. Ia bukalah pintu kamarnya itu.
“Ada apa ?” tanya Yasmin.
__ADS_1
“Makan malam sudah siap nyonya”
“Dimana Tuanmu?”
“Tuan ada dibawah menunggu Anda nyonya”
“Baiklah....aku akan turun”
Yasmin turun kebawah dan sudah melihat suaminya sudah duduk dimeja makan dengan makanan yang sudah memenuhi meja makan. Ia langsung duduk disamping suaminya itu.
“Makanan sebanyak ini hanya untuk kita berdua” tanya Yasmin.
“Ia sayang...lalu untuk siapa lagi. Lagipula ini semua makanan kesukaanmu kan”
“Tapi aku tidak bisa menghabiskan ini semua sayang”
“Sudahlah makan saja. Koki disini tahu kalau kamu hamil sayang jadi dia memasak semua makanan yang kamu suka”
Mereka pun menikmati makan malam dengan suasana hening karena memang waktu itu mereka hanya berdua. Para pelayan hanya berdiri didekat mereka tanpa bicara sedikitpun hanya menunggu perintah dari tuannya itu.
Setelah makan malam, Bima dan Yasmin naik keatas. Saat masuk kamar, Bima tiba – tiba memeluk Yasmin dari belakang.
“Sayang....apa yang kamu lakukan?”
“Aku sangat merindukanmu” sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya dipunggung Yasmin.
“Kamu merindukanku. Bukankah aku selalu berada didekatmu. Bagaimana bisa kamu merindukanku seharusnya kamu bosan padaku kan”
“Kenapa kamu bicara begitu. Biarpun kamu menempel dan mengikutiku kemana – mana tetap saja aku tidak bosan dan terus ingin berada dipelukanmu”
Bima melepaskan pelukannya lalu menarik pinggang Yasmin sambil memegang kepala istrinya itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Yasmin dan ingin menciumnya tetapi Yasmin tiba – tiba mendorongnya.
“Kamu ingin melakukan apa?”
“Tentu saja melakukan itu” sambil tersenyum nakal didepan Yasmin.
“Kamu itu seharian belum mandi kan. Cepatlah mandi sana”
“Tidak mandi juga tidak apa – apa kan sayang. Ayolah, kita tidur saja sekarang”
“Mandi dulu baru tidur. Kalau tidak aku tidak akan tidur denganmu”
“Baiklah.....karena sayangku menginginkannya jadi aku akan mandi sekarang tapi berikan aku kecupan dulu dong” sambil menyodorkan pipinya didepan Yasmin. Yasmin pun mencium pipi Bima tapi dengan sigap Bima mencium bibir istrinya itu.
“Sayaaaang....” pekik Yasmin sambil memegang bibirnya yang habis dicium.
“Kenapa?” dengan wajah tersenyum didepan Yasmin. Yasmin hanya tersipu malu melihat senyuman Bima.
Bima lalu berjalan ke kamar mandi. sementara Yasmin masih berdiri dengan wajah tersipu malu seperti baru pertama kali dicium oleh suaminya itu.
Setelah mandi, Bima keluar dengan senyuman lebar diwajahnya. Ia ingin sekali menghabiskan malam bergairah dengan istrinya itu tetapi saat melihat Yasmin yang sudah tertidur pulas terpaksa niatnya itu ia lupakan. Ia tidak tega membangunkan istrinya hanya demi melepaskan hasrat dan nafsunya itu. Ia lalu menarik selimut dan menyelimuti Yasmin dengan perlahan karena takut membangunkan istrinya itu.
“Selamat malam sayang” sambil mengecup kening Yasmin. Ia tidur disamping istrinya itu dalam keadaan telanjang dada.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga tidak punya tenaga sekarang karena lelah dengan perjalanan yang panjang bahkan berganti pakaian saja ia tidak lakukan. Jadi akhirnya ia tidur dengan keadaan telanjang hanya selimut menutupi tubuh kekarnya itu.
Bersambung