Pengantin Kecil Tuan Muda

Pengantin Kecil Tuan Muda
Bab 70 Liburan Part 4


__ADS_3

Paginya...Bima bangun, ia melihat istrinya masih tertidur pulas dilengannya. Ia terus memandang wajah istrinya itu. Betapa beruntungnya dirinya bisa diberi kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bersama istrinya. Jika ia diberi kesempatan untuk menukar kebahagiaannya sekarang dengan benda penting miliknya, ia tidak tahu harus menukar apa karena semua yang ia miliki tidak ada sebanding dengan kebahagiaannya sekarang apalagi saat ia melihat senyuman diwajah istrinya membuat ia semakin bahagia. Ia adalah pria paling beruntung didunia ini karena bisa mendapatkan cinta sejatinya, cinta masa kecilnya. Begitulah pikirnya saat ini.


***


Bima mencium kening istrinya dengan sangat lama lalu mengelus pipi istrinya itu dengan lembut. Yasmin terbangun karena merasakan tangan hangat Bima menyentuh pipinya, ia membuka matanya secara perlahan – lahan dan melihat suaminya terus menatapnya tepat didepan wajahnya.


“Selamat pagi istriku” sapa Bima dengan wajah tersenyum sambil memegang kepala Yasmin.


“Eem pagi sayang” balas dengan suara serak. “Hari ini kita akan pergi dari pulau ini kan” tanya Yasmin.


“Ia sayang.....”


“Kalau begitu...ayo kita mandi dan siap – siap” ucap Yasmin. Tiba – tiba Bima tersenyum nakal mendengar ucapan istrinya itu. Ia dengan sigap bangun dari tempat tidurnya dengan keadaan telanjang bulat.


“Aaaaaaaaa.....sayang” teriak Yasmin sambil menutup matanya.


“Kenapa sih?” dengan wajah bingung seperti tak tahu apa – apa.


“Kenapa kamu pagi – pagi sudah begini. Cepat tutupi tubuhmu itu?”


“Ehh.....aku lupa” balasnya dengan senyuman. Ia lalu mengambil handuknya yang ada dilantai. Tapi ia tiba – tiba tersadar “Kenapa aku  harus memakai handuk, kita kan mau mandi bersama”


“Iiihh.....siapa yang bilang kalau kita mandi bersama?” tanya Yasmin sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Dengan sigap Bima mengangkat selimutnya dan menggendong istrinya.

__ADS_1


“Aaaaaaa paman....aku tidak pakai baju.” Sambil menutup bagian dadanya.


“Kenapa setiap hari kamu itu hanya memikirkan malu saja. Cepat lepaskan tanganmu itu” dengan suara tegas.


“Memangnya paman......setiap hari tidak punya malu” dengan wajah cemberut.


“Kamu memanggilku apa tadi” dengan wajah serius.


“Ooopss....hehehe lupa sayang”


“Cepat lepaskan tanganmu itu kalau tidak aku akan membuat bibirmu itu bengkak” sambil memajukan wajahnya didepan Yasmin untuk mencium bibir istrinya itu.


Yasmin dengan sigap melingkarkan tangannya dileher Bima. Bima pun kembali menarik wajahnya kedepan dan tidak jadi mencium Yasmin. Ya itu memang hanya ancaman saja sih supaya Yasmin menurutinya.


“Jangan melihatku seperti itu. Aku malu” ucap Yasmin sambil menunduk malu.


Terdengar teriakan Yasmin didalam kamar mandi.


“Aaaaaaa.....sayang apa yang kamu lakukan?”


Selama satu jam lebih mereka berada didalam kamar mandi, entah apa yang mereka lakukan didalam sana. Apa mereka benar – benar hanya main air seperti yang dikatakan Bima atau mereka melakukan hal lain. Entahlah, hanya mereka dan tuhan yang tahu.


Setelah bermain – main cukup lama, mereka turun kebawah. Mereka sudah siap – siap untuk pergi liburan yang sebenarnya. Itu yang ada dipikiran Yasmin sih, lain halnya dengan Bima.


Mereka berjalan menuju pantai, kali ini Bima tidak naik pesawat tapi naik Kapal pesiar. Yasmin melihat kapal pesiar yang sangat besar, saat itu ia sudah tahu jika suaminya ingin naik kapal. Ia semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


“Sayang....kenapa kita naik ini. Kita kan bisa naik pesawat seperti kemarin?” tanya Yasmin sambil menunjuk kapalnya.


“Pesawatnya hilang istriku jadi kita naik ini saja” ucapnya dengan memasang wajah serius didepan istrinya itu.


“Memangnya aku anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan ucapan konyolmu itu. Aku ini sudah 20 tahun ya” balasnya dengan ekspresi kesal.


Bima hanya tersenyum melihat istrinya yang kesal. Akhir – akhir ini Bima memang senang sekali menggoda istrinya itu.


“Maaf sayang tapi aku tidak kuat kalau harus naik motor kesana. Kamu tahu sendiri kan, semalam kamu sangat ganas sampai menghabiskan semua tenagaku.”


“Pamaan....”teriak Yasmin yang semakin kesal.


“Eeh...kamu memanggilku paman lagi”


“Ia...kenapa, kalau paman terus begini. Setiap hari aku akan memanggilmu paman. Puas” sambil melingkarkan kedua tangannya didadanya dan memalingkan wajah kesalnya.


“Ia....ia maaf sayang. Sudah jangan marah lagi ya. ayo kita naik kapalnya”


Yasmin pun dengan terpaksa harus naik kapal, ia sudah capek marah – marah terus dari tadi. Ia naik dibantu suaminya.


Saat didalam Yasmin terkagum – kagum dengan apa yang dilihatnya didalam. Didalam kapal itu terlihat sangat mewah, banyak pelayan yang menyambut mereka.


Makanannya juga sudah tersedia dan apapun yang ia butuhkan semuanya ada tapi itu masih belum meredakan rasa kesalnya pada Bima.


Apa coba maksud suaminya itu naik kapal yang sampainya berhari – hari sedangkan kalau naik pesawat, dua tiga jam mereka sudah sampai. Buat geleng – gelang kepala saja. Ya memang tidak ada yang bisa menebak isi pikiran Bima apalagi Yasmin yang polos.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2