Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Drama sekolah #4


__ADS_3

“Enak. Aku menginginkannya lagi”


Baru kali pertama aku tidak mengendalikan tubuh ini tak dapat melawan kehendak setan sialan yang telah tanpa ku sadari telah membangun rumah mewah lengkap dengan segala perisainya dia memenjarakan sisi lain dari diri ku yang selalu ku turuti maunya di mana dia yang mengendalikan segala perasaan ku dia juga mampu merendahkan kemarahan ku dan selalu menenangkan ku dengan sentuhannya walau sebenarnya itu sentuhan dari tangan kanan ku sendiri yang menyentuh pipi kiri ku dengan penuh kelembutan mirip seperti seekor kucing ketika mengelus-elus wajahnya, sering kali saat tangan kanan menyentuh pipi kiri ini mereka menjadi kebingungan melihat tingkat laku ku apa lagi saat aku bersantai di ruang baca ingin tahu mengapa aku melakukan itu namun mereka ragu menanyakannya.


Kedua bola mata ini akhirnya terbuka lebar setelah terkunci rapat untuk waktu yang bisa di katakan sudah sangat lama, terlihat di sekeliling mereka masih berdiri di samping ku menunggu untuk melihat tersadar sepenuhnya, terdiam sejenak melihat langit-langit yang penuh dengan ukiran unik mengingat apa yang membuat ku terbangun segera ku bangkit sehingga memunculkan setengah badan ku.


“Nona?!” Ujar Zleris.


“Apa yang telah kalian lakukan pada ku?”


“Membuat mu terbangun dari dunia mu yang konyol itu” Ku pandang Khen dengan tajam merah darah mata ini membuatnya terlihat menyeramkan.


“Berbagai macam cara kami lakukan untuk mu agar kau bisa tersadar dari dunia konyol yang kau ciptakan yang kau jadikan tempat persembunyian dari kenyataan, membuat kami harus mempertaruhkan nyawa demi diri mu seorang dengan bertemu dengan tuan Rizon agar dia mau membantu kami untuk membangunkan mu dan gadis ini juga ikut membantu” Hanya terdiam membisu mendengarkan lalu mengalihkan pandangan ku ke samping.


“Maaf sudah membuat kalian harus melakukan hal yang tidak ingin kalian lakukan” Kata ku terucap tiba-tiba untuk yang pertama kalinya mengucapkan kata maaf.


Seperti yang sering dulu ku lakukan bersantai di ruang baca sambil melihat mereka memandangi ku.


“Pasti sudah sangat lama aku tertidur sebab aku hampir tidak mengenali kalian”

__ADS_1


“Segitu tidak berartinya kah kami bagi mu hingga kau dengan mudah melupakan kami?” Tanya Khen.


“Lalu apakah aku punya arti di mata kalian, kalian bertanya mengapa aku memutuskan untuk pergi tidur panjang bukankah kalian sudah tahu alasannya? Harus berapa kali ku katakan pada kalian jangan melakukan hal yang tidak ingin kalian lakukan, tak perlu lagi bersandiwara seperti itu selama ini aku terus bersabar menunggu kalian mengatakan sebenarnya secara langsung pada ku tapi sepertinya harapan ku sia-sia kalian lebih memilih membungkam dalam amarah. Ayo kita hentikan pertunjukan teaternya sekarang juga kalian hanya menyiksa diri sendiri, pergilah sekarang atau hidup kalian akan berujung pada penyesalan dan ya tak perlu khawatir dengan kitab kehidupan kalian jalani hidup sebaik-baiknya maka perjalanan dan takdir hidup kalian akan terukir dengan sendirinya”


“Atas dasar apa kau mengatakan itu?”


“Akting mu yang buruk atau kalian saja yang terlalu bodoh hingga melupakan siapa aku. Sudahlah wujud asli mu terlihat sangat jelas atau perlu ku perlihatkan?, gadis itu antar dia pulang buat dia lupa dengan hari ini seolah-olah ini hanya terjadi dalam mimpinya saja” Menghilang dari sorotan mereka semua.


Tatapan matanya menjelaskan semuanya pada ku walau mereka tidak memberi tahu tapi segalanya menjadi jelas saat ku tatap kedua retina matanya yang penuh kebencian, kemarahan hingga perasaan yang mencerminkan betapa bencinya mereka pada ku, tak tahu apa lagi yang harus ku katakan untuk menjelaskan perasaan yang terasa menyesakkan dada.


Malam terasa sangat singkat hangatnya sang surya telah menyadarkan para makhluk bumi dari mimpi, melakukan rutinitas masing-masing walau sibuk namun tetap semangat sebab masa depan menanti sama seperti saat kita menanam pohon buah dan terus berkembang jika kita menjalani hidup ini dengan baik maka saat berbuah nanti dapat di petik. Meski banyak hal yang mampu membuat kita menjadi putus asa tapi ada saja alasan kita untuk bangkit dari keterpurukan dan malah menambah semangat hidup kita sungguh luar biasa. Hari ini sepertinya libur sekolah telah usai para murid kembali menjalani kegiatan yang biasa di lakukan dengan semangat meskipun mungkin ada problem yang terjadi di luar sekolah tetapi saat datang ke sekolah seakan semuanya menghilang dan tergantikan dengan canda tawa bersama sahabat sepertinya Yumina juga sudah kembali Taein membuat dia benar-benar berfikir bahwa apa yang di alaminya hanya sebatas mimpi dan berangsur-angsur melupakannya, sebelum pelajaran di mulai setidaknya mereka punya waktu untuk bersosialisasi berbagai macam suara tertangkap jelas di gendang telinga Lina yang sedang duduk sendiri dalam kelas sambil menyembunyikan dirinya di balik kain jendela, sepertinya dia tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke tembok dia melipat kedua tangannya di bawah dada dan seperti biasa angin bertiup sepoi-sepoi mengayun-ayunkan tirai jendela dengan lembut membuat Lina semakin nyaman di buatnya, itu memang sudah menjadi kebiasaannya teman sekelasnya sudah maklum melihat dia bertingkah seperti itu.


“Ada urusan apa memangnya kau mencari Lina hingga kau nekat bertanya dengan lancang seperti itu?” Kata Cerol melihat sinis.


“Maaf saya hanya”


“Jangan bicara kasar pada adik kelas mu begitu, tidak apa-apa Lina ada di kelas” Ucap Yumina lembut.


“Kalau begitu saya permisi dulu terimakasih”

__ADS_1


Dengan buru-buru dia berlari menuju ke lantai 3 tempat kelas Lina berada, saat dia sampai tak di lihatnya sosok Lina di manapun dan mulai berfikir jika Yumina membohonginya dia kebingungan lantaran ruang kelas kosong tak berpenghuni sama sekali rasa putus asa dan kecewa timbul di hatinya dia memutar seluruh badannya untuk berlalu dari kelas tetapi waktu seperti terhenti seketika langkahnya terpaku saat menyadari ada sosok yang sedang tertidur pulas di balik tirai jendela, dia melihat Lina ketika angin mengerakkan tirai jendela lalu muncullah orang yang di carinya itu, siswa itu memutar arah ke jam 12 dan memandangi Lina sambil terkejut aku tak bisa menjelaskan perasaannya sekarang tetapi yang pastinya dia terkejut melihat Lina bersembunyi di balik tirai jendela dia langsung menghampiri Lina, di pindahkannya kursi yang berada di depan meja Lina lalu menarik tirai tadi sehingga dia juga ikut berada di balik tirai jendela, dia berdiri di depan Lina menatapnya dalam-dalam seperti ada sesuatu yang selama ini dia cari tak berselang lama Cerol V dan Yumina datang mereka terkejut melihat siswa itu berani mengusik ketenangan Lina apa lagi di saat seperti ini yang selama ini tak ada yang berniat melakukannya bahkan Yumina sekalipun.


“Hey! Apa yang kau lakukan?” Ucap Cerol dengan nada yang sedikit di tinggikan sontak Lina terbangun mendengar suara hentakan Cerol, Lina membuka matanya perlahan hanya terdiam melihat retina seorang pria yang berdiri di hadapannya, keberadaan mereka bertiga seakan di abaikannya.


“Akhirnya ku temukan kau” Seru siswa itu namun perlahan yang hanya bisa di dengar oleh Lina dan dirinya sendiri sambil tersenyum tipis, V datang menarik kera baju siswa itu menjauhkannya dari Lina.


“Apa yang sedang kau lakukan? Ayo jawab! Kenapa hanya tersenyum?” Sekali lagi dia mengabaikan V malah melihat Lina sambil tersenyum tipis, Yumina datang memisahkan mereka menyuruh V menghentikan sikap kasarnya.


“Kau tak apa?” Tanya Cerol menyentuh kepala Lina, melihat itu siswa tadi dengan cekatan membuat dirinya terlepas dari cengkraman V lalu dia memegang dan menarik tangan Cerol agar terlepas dari Lina, dia menatap tajam Cerol.


“Jangan menyentuhnya! dia bukan milik mu” Cerol membalas tatapannya dengan tajam pula


“Sialan kau” Kata V yang merasa kesal dengan ucapan siswa itu tanpa pikir panjang dia memukulnya sampai-sampai di jatuh terkapar di lantai bibirnya luka berdarah.


“Mengapa jika aku menyentuhnya apa masalah mu?” Tanya Cerol.


“Sudah ku katakan dia milik ku” Tak tinggal diam Lina angkat bicara.


“Sudah cukup! Aku bukan barang yang bisa kau sebut milik mu dengan mudahnya” Lina menggenggam tangan siswa itu dan V juga dengan sangat erat Lina membawa mereka ke ruang kepala sekolah sambil di ikuti Cerol dan Yumina dari belakang, murid-murid pada kebingungan melihatnya mereka saling bertanya.

__ADS_1


__ADS_2