
Setelah selesai bekerja kami berjalan bersama menuju ke rumahnya jika di ingat-ingat ini kali pertamanya aku berjalan dengan pria bangsa manusia sedikit aneh rasanya tentu tak bisa ku berbohong jika aroma tubuhnya dapat tercium jelas oleh ku dan itu sedikit menggoda setan sialan yang ada di dalam diriku haha setan sialan itukan adalah diriku sendiri, semenjak kami berjalan bersama dia canggung sekali dia ingin berkata tetapi mulutnya terlalu kaku untuk mengatakannya perasaannya juga tak karuan itu mempengaruhi detak jantungnya yang berirama kacau hehe lucu juga pria ini.
Sekarang kami sudah sampai di rumahnya tanpa ragu dan basa-basi lagi dia mengetuk pintu tak lama menunggu pintu terbuka lebar terlihat seorang anak kecil yang membukanya tak lain dia adalah adik dari pria ini.
“Ka Ray! Kakak sudah pulang?”. Serunya dengan semangat sambil berlari dan memeluk kakaknya digendongnya adiknya itu penuh kasih sayang, jadi teringat dengan masa lalu.
Wajah kecil yang penuh dengan kebingungan itu melihat ku berdiri di belakang kakaknya menyadari itu kakaknya Ray memperkenalkan diriku pada adiknya kemudian diajaknya aku masuk dan memperkenalkan ku pada orang tuanya serta para saudaranya dia punya satu kakak laki-laki dan dua adik perempuan salah satunya adalah gadis kecil yang membuka pintu tadi, kedatangan ku sedikit membuat mereka terganggu tapi saat Ray menjelaskan apa yang terjadi semuanya menjadi jelas perasaan mereka berubah menjadi lebih tenang dan bersahabat, aku diberikan pakaian dan tempat tidur makan bersama dengan mereka rasanya sangat aneh perasaan yang belum pernah ku alami sebelumya kini tiba-tiba saja membuat jantung ku berdebar tak biasa ini diluar dugaan ku. Beginikah rasanya saat menyendok sesuap nasi ke dalam mulut yang dimasak oleh seorang ibu entah kenapa rasanya begitu nikmat.
“(Hambar. Makanan ini rasanya hambar padahal ini makanan yang biasa ku makan tapi kenapa rasanya berubah?)”. Katanya membatin, Lina juga saat ini sedang makan di rumahnya sendirian rasa makanannya hambar itu hanya perasaannya saja kenyataannya tidak seperti itu mungkin karena dia sendirian makan tapi bukankah dia suka makan sendiri? Lalu kenapa sekarang.
Malam yang terasa melelahkan akhirnya aku bisa tidur di kasur empuk badan terasa dipijat kepala bisa bersandar pada bantal mengingat sudah beberapa lama ini aku tidak tidur dan hanya terus berjalan juga bertelepor menghabiskan banyak energi ditambah lagi seharian aku tidur dengan keadaan baju basah dan hanya beralaskan tembok saja ah...nyamanlah tidur ku malam ini.
Mungkin karena sudah tidak lama tidur dengan nyeyak seperti ini jadinya lupa waktu untuk bangun, pukul 07.00 mata dan telinga ini masih tertutup rapat tak terdengar suara sedikitpun rasanya rumah ini sangat sunyi ataukah aku yang terlalu terlelap makanya begitu entahlah lanjut saja tidurnya selagi masih bisa ku nikmati.
“Nona? Nona bangun...nona Nara tolong sadarlah!”. Suaranya terdengar sayup. Siapa dia memanggil ku dengan nada khawatir aku tak pernah mendengar orang lain memanggil ku dengan nada seperti itu, apa dia sudah tidak waras lagi?.
“Nona Nara ada apa dengan anda sadarlah! Nona! Nona!”. Hey! hentikan dasar bodoh aku masih hidup berisik sekali dia memaksa ku membuka mata, terlihat buram wajahnya yang berada dekat di wajah ku siapa?.
“Syukurlah anda sudah bangun saya sangat khawatir terjadi sesuatu dengan anda”. Oh ternyata Ray ku fikir siapa.
“Apa yang kau lakukan disini?”.
“Maaf tadi saya beberapa kali mengetuk pintu kamar nona tapi tidak jawaban sama sekali dan saya khawatir jadi terpaksa masuk dan mencoba membangunkan nona”. Karena merasa tidak nyaman dia segerah berinisiatif berdiri tapi ku hentikan ku raih tangannya lalu menghempaskannya di samping ku, tak ingin dia pergi tubuh ini seperti bereaksi sendiri dia tertindih oleh ku dengan lembut.
__ADS_1
Ternyata dia pria baik hati baru kali ini ada orang yang khawatir pada ku seperti itu, katanya sarapan pagi sudah siap itulah sebabnya dia ada disini.
“Tunggu sebentar biarkan aku mencium aroma tubuh mu” Ku endus dari pipi lanjut ke bagian leher dan berakhir pada dada kekarnya, aroma tubuhnya semakin kuat karena jantungnya berdetak kenjang, ku rasa aku sedang digoda dengan wajah meronanya seperti itu siapa yang tahan.
“Nona apa yang anda lakukan? Ini tidak baik nona”
“Kau tak perlu khawatir seperti itu aku baik saja dan bisakah kau merubah cara bicara mu itu, kau terlihat sangat gugup selalu terbata-bata dan terlalu formal, sikap ku memang dingin tapi bukan berarti aku tidak menyukai mu jadi tolong bersikap biasa saja”.
“A.aku mengerti tapi tolong jangan seperti ini perhatikan sikap nona”. Dasar dia terbata-bata lagi, astaga ada apa dengan ku aroma manis darinya tercium lagi tanpa sadar aku meraih tangannya dan mengendus dengan lembut.
“Manis,manis sekali” Ray sangat terkejut melihat tingkah ku yang tiba-tiba saja melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
“Nona Nara ada apa de.dengan anda?” Suaranya gugup ketakutan mungkin dia juga merasakan aura yang tidak nyaman tapi untunglah kesadaran ku cepat kembali buru-buru ku lepaskan dari belenggu.
“Seharusnya saya yang minta maaf tidak seharusnya saya masuk tanpa ijin dari nona nara saya...”
“Kenapa harus minta maaf?” Dengan suara pelan seperti itu mungkin dia tidak dengar dengan baik tapi sudahlah cepat mandi agar pulih kembali.
Sama seperti malam itu aku kembali berkumpul bersama dengan keluarga Ray, mereka terlihat sangat akrab kekeluargaan mereka memang luar biasa tak ada pertengkaran diantara mereka membuat ku iri saja jadi tidak enak hati menerima kebaikan mereka secara cuma-cuma aku harus melakukan sesuatu mungkin aku bisa bekerja akan ku bicarakan ini dengan Ray dulu setelah sarapan masih ada waktu sampai dia berangkat bekerja.
Saat ku bilang ingin bekerja bersama dengan dirinya dia agak terkejut namun ku perjelas maksud ku walau kenyataannya tak ku katakan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan ku, dia setuju utuk itu tapi dia perlu bicara pada atasannya jika diizinkan aku boleh bekerja di sana selain itu aku juga diminta untuk bertemu langsung dengan atasannya yang lama ini diberikan tanggung jawab sepenuhnya oleh ayah untuk mengolah usaha yang sudah lama berada dibawah kendali ayahnya kini dia memberikannya pada anak laki-lakinya kira-kira umurnya 30an, sebenarnya dia ingin anak perempuannya yang mengambil ahli tapi ia enggan alasannya ia ingin mencari pekerjaan sendiri dan membuka usaha yang lebih menjanjikan bagi kelangsungan hidup keluarganya.
Tidak semudah yang dibayangkan atasan Ray menolak ku bekerja di tokonya dia berpendapat jika aku adalah orang luar katanya dia tak bisa memperkerjakan orang yang tak jelas asal usulnya dan juga tidak punya pengalaman sama sekali dalam bekerja alasan itu cukup sudah untuk tidak menerima ku, pupuslah sudah harapan ku tak apalah aku bisa mencari pekerjaan ditempat lain.
__ADS_1
“Maaf saya tidak bisa berbuat apa-apa”. Kami sedang mengobrol di ruang tempat karyawan istirahat ku lihat wajahnya murung seakan ini terjadi karena dirinya.
“Tak apa ini bukan salah mu mungkin bukan takdir ku bekerja di sini”.
“Saya akan membantu nona untuk mencari pekerjaan di tempat lain saya berjanji”.
“Bukankah sudah ku katakan pada mu ubah cara bicara mu itu kau membuat ku jadi tidak nyaman”.
“Saya minta ma. Eh? Maksud saya aku minta maaf”.
“Boleh aku menyentuh mu?”. Ya ampun apa yang barusan ku katakan sepertinya aku mulai tak waras lagi.
“Ke.kenapa nona maksud ku kenapa tiba-tiba kau berkata begitu?”. Wajahnya merona.
“Boleh tidak?”.
“I.iya silahkan”.
Ku raih tangan kanannya membuat dia malu dan merona detak jantungnya memukul gong sehingga berdetak agak cepat, di telapak tanggannya ku berikan permen yang selalu diberikan oleh Zleris pada ku sebagai tanda ucapan terima kasih untuk apa yang dilakukannya.
“Ambillah ini sebagai buah tangan dari ku, hanya ini yang bisa ku berikan pada mu sebagai rasa terimakasih ku”.
“Iya, itu bukan apa-apa. Kalau begitu aku akan menghantar mu pulang dulu kau pasti belum hafal betul jalan aku khawatir kau tersesat”. Dia tampak malu.
__ADS_1
“Baiklah”.