Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Alam baka #1


__ADS_3

Mereka kembali duduk bersama, tak berselang lama telpon Lina berdering dengan santai dia menarik keluar telepon genggamnya dari saku baju dan melihat kelayar panggilan masuk ‘IBU’ cepat dia jawab panggilan itu. Rencana dia mau menjauh dari yang lainnya tapi Yumina tidak membiarkan Lina berlalu dengan wajah pasrah Lina terduduk kembali dia mengeraskan suara panggilan sehingga mereka bisa mendengar suara ibu Lina dengan jelas. Dalam percakapan mereka ibunya meminta Lina datang untuk merayakan ulang tahun Lina, tentu dia menolak tapi ibunya tetap bertekat jadi apa yang bisa Lina lakukan jika itu permintaan dari ibunya dia hanya bisa menerima dan menyetujui perintah ibunya. Setelah bicara Lina mengakhiri panggilan dia menyandarkan kepala pada dudukan sofa dengan lesu sambil mengada keatas fikirannya seketika itu juga melayang, kedua telinganya tertutup dia tidak mendengar V dan Yumina sedang membicarakan konsep perayaan ulang tahunnya.


“Kalau tidak salah aku akan mati saat usia ku mencapai 18 tahun, masih ada satu pekan lagi kesempatan ku” Benaknya tidak berhenti mengoceh sampai ia tersadar kembali saat Yumina menyentil hidungnya.


“Apa ada masalah Lina? Kau tidak bersemangat sekali atau kau sedang sakit?” Kebiasaan inilah yang tidak Lina sukai dikhawatirkan secara berlebihan.


“Tidak apa-apa” Lina memperbaiki posisinya dan menatap kantong belanjaan, dia menarik perlahan ke hadapannya beberapa jenis kue serta minuman ia keluarkan dan diletakkan diatas meja lalu menawarkannya kepada V, Yumina serta Cerol.


“Makan!” Katanya singkat. Mereka menjawab Lina dengan nada agak berat.


Malam itu mereka mengobrol dengan santai masalah dengan preman tadi tidak ada yang berani membuka pembicaraan, mereka menyimpan banyak pertanyaan dalam benak tapi tidak berani bertanya, untuk itu Lina mencairkan suasana yang kaku, dia mencoba mengawali dengan cerita lucu dan mistis yang pernah dia alami. Satu hingga tiga cerita mulai merubah suasana. Yumina, V serta Cerol juga membagikan ceritanya, suara tawa menggelitik sampai tawa nyaring tercipta bergema indah.


Seperti lautan orang mati semuanya terkapar dilantai tidak sadarkan diri. Bekas darah menetes dari sudut bibir segerah ku bersihkan, apa yang sudah kulakukan tentu ada akibatnya firasat ku berkata mereka akan meminta pamrih. Dikehidupan masa lalu mereka adalah manusia normal punya keluarga, punya teman, punya rumah, punya cinta serta kekasih. Mereka ingin memiliki itu semua sekali lagi reinkarnasi adalah satu-satunya cara agar mereka mendapatkan segala keinginannya.

__ADS_1


Sungguh miris hanya aku yang dapat melakukan itu membuat mereka terlahir kembali sebab itulah mereka terus berada dibelakangku selama 1000 tahun untuk bisa reinkarnasi, kenapa begitu lama seperti yang dilihat dikehidupan sekarang mereka adalah vampire dari berbagai suku, masing-masing suku mereka menentukan kedudukan dalam kekuasaan dan rantai makanan. Dosa duniawi melekat pada mereka tahap pertama pembersihan roh lalu tahap kedua pemurnian dan tahap terakhir pembentukan wajib sebelum masuk siklus reinkarnasi, jalan hidup akan ditentukan sesuai persetujuan dengan terkait pada roda siklus maka dapat terlahir kembali secara berulang-ulang sesuai kebaikan dan karma mereka dikehidupan sebelumnya.


Saat tidur panjang mereka berusaha membangunkan ku agar waktu mereka tidak terbuang sia-sia sepertinya semua ini sudah direncanakan matang-matang. Tiga bulan penantian begitu lama terbayar sempurna pembersihan roh sudah selesai selanjutnya tahap pemurnian sembari menunggu mereka pulih dari pembersihan roh istirahat sebentar seharusnya tidak masalah, bukan sekedar tidur tapi melakukan proses pemurnian jiwa dengan bantuan darah mereka yang sudah terkonsumsi sehingga aku juga siap melakukan pemurnian pada mereka. Panjang prosesnya memang, mudah jika ingin mengubah manusia menjadi vampire namun mengubah vampire menjadi manusia membutuhkan waktu panjang memang tidak ada konsikuensinya tapi berkorban waktu menjadi gantinya, sudah cukup beruntung 1000 tahun waktu terbilang singkat bereinkarnasi.


Kembali pada rumah tua tempat istirahat sekaligus tempat kematian abadi dan kelahiran baru namun juga tidak bisa dijuluki pengadilan baka mereka yang datang dan pergi wajib singgah dulu ditempat ku apa tujuannya? Seperti yang sudah ku katakan rumah tua ini adalah pintu penghubung mereka yang belum benar-benar mati didunia karena masih ada dendam mendalam itu sebabnya tidak bisa menyembrangi jembatan, itu berada didekat rumah tua jadi saat hendak menyebrang mereka akan kembali pada pekarangan rumah tua. Tidak akan bisa masuk pengadilan dan terhubung dengan siklus reinkarnasi sampai roh benar-benar bersih.


Penghuni rumah tua semakin banyak saja terakhir kali aku kemari tidak seramai ini. Kebencian karena cinta yang membuat hidup mereka jadi terlunta-lunta, hal duniawi yang tidak akan bisa mereka miliki masih tertinggal dan menjadi penyebab terjebaknya mereka dalam kesenangan duniawi, membuat mereka berjalan dijalan hidup orang lain artinya tidak ada pemahaman akan kehidupan. Lupa akan karma menanti saat masih mengembang kempiskan nafas.


Tidak ada yang berubah dari tempat ini warna abu-abu menyelimuti mata orang-orang disini semuanya terkait erat dengan kehidupan mereka, sebanyak warna yang dilihat itu artinya sebentar lagi mereka dapat menyebrang. Rasa tidak enak hati terkadang muncul dihati ingin sekali membantu mereka agar roh mereka tenang dan terlepas dari urusan duniawi namun apa daya walau kendali ada padaku tapi tidak akan bisa terjadi jika izin belum didapatkan darinya.


“Berhenti!” Suara wanita muda mengeretak dari belakang sambil berjalan cepat dia datang berdiri di belakang ku.


“Kau sudah bosan hidup? Tindakan mu ini sangat konyol, apa kau tahu siapapun yang lancang mendekati rumah ini dia tidak akan punya kesempatan untuk terkait pada siklus reinkarnasi” Lanjutnya lagi dengan bangga meninggikan suara. Mendengar peringatannya segerah aku berbalik melihat penasaran dengan sosoknya, kutatap agak kebingungan lalu menundukkan kepala melihat posisi berdirinya. Mengerti akan maksud ku dia menyela dengan cepat sambil mundur satu langkah.

__ADS_1


“Jika dilarang berdiri disini lalu apa yang sedang dia lakukan?” Tanya ku membatin. Kembali kutatap matanya menjadikan sikapnya berubah agak gugup.


“Hey! Kenapa kau melihat ku begitu lama apa ada sesuatu diwajah ku?”


“Masih ada kesempatan untuk mu bisa tersadar dari koma asal kau bisa mengontrol kesombongan mu” Dia terkejut aku tahu tentang dirinya, dia mengambil langkah mundur sekali lagi.


“Si.Siapa kau” Dia semakin terkejut mendapati dirinya ditatap dengan amarah oleh orang-orang sekitar.


Sebaiknya aku masuk kedalam biarkan dia sendiri menyadari situasinya. Suara pintu tertutup mengagetkannya dan berbalik kearah pintu, rasa panik sekaligus takut membuat bibirnya tidak dapat berkata instingnya memerintah kakinya mengambil jurus langkah seribu.


Hawa dingin bersemayang berabad-abad yang lalu membuat seluruh ruangan lebih mirip seperti gua es abadi, dada terasa sesak menghirup udara dingin sungguh sangat tidak nyaman. Kupandang seluruh ruang kamar dengan cermat namun tak lama pandangan ku mulai kabur tubuh ku rebah perlahan tidak tahu akan seperti apa nasib ku, eiss dasar sial belum sampai ketempat tidur mata ku off duluan. Masih ada sedikit kesadaran aku merasa ada sesuatu menahan tubuh ini yang sudah miring 40 derajat sambil mengoceh tidak jelas.


“Keras kepala tidak berubah sama sekali”

__ADS_1


Dia membaringkan ku di tempat tidur sambil menatap ku dengan prihatin.


Sudah sangat lama saat kali terakhir kami bertemu dia sekarang menjadi pria dewasa ditunjang penampilan berbeda dia tampak sangat menarik, selama ini aku tidak tahu pasti keberadaannya dia sulit ditebak. Mungkin dia berkelana selama berabad-abad dia ingin mengikuti perubahan dunia bersama bertambah usianya, dia tidak ingin terikat oleh hal duniawi.


__ADS_2