
UCAPAN TERIMAKASIH DARI PENULIS KEPADA TEMAN-TEMAN SEMUA ATAS DUKUNGAN NYA
*************************************************
Sudah beberapa menit telah lalu mereka masih menunggu Lina di luar perpustakaan, Yumina terus memanggil nama Lina membujuk Lina agar membuka pintu tapi tak di dengarkan nya, setetes dua tetes air bening membasahi pipinya kesedihannya benar-benar tidak bisa ia bendung lagi air bening itu terus bertambah banyak membasahi pipinya tak ada suara hanya air bening itu yang memperlihatkan betapa berlubang hatinya sekarang, begitu gelap. Terdengar bunyi bel menandakan kelas akan segera di mulai Yumina tak mau berpaling dari pintu perpustakaan tapi Cerol memberi tahunya jika mereka tidak mengikuti kelas hari ini maka mereka tak akan bisa mengikuti ujian minggu depan tapi Yumina masih bertahan dia mempertanyakan Lina Cerol meyakinkan Yumina dia akan mengurus masalah ini agar Lina bisa ikut ujian, Cerol juga berfikir jika Lina butuh waktu untuk menenangkan dirinya jadi dia berusaha membuat temannya mengerti “Beri dia waktu, mungkin akan lebih baik baginya jika dia sendirian sekarang” ucap Cerol, mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan Lina.
14.00 bel pulang berbunyi pulang para penghuni setia sekolahan begitu juga dengan mereka, mereka seakan melupakan jika ada seseorang lagi yang selalu bersama mereka tak sadar tentunya mereka berlaku seperti itu, mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing, sementara itu Lina masih berada di perpustakaan dia sedang tertidur di pojok lorong rak-rak buku memang jika di lihat hanya sepintas tak ada orang di sini tapi jika di telusuri ternyata ada dia menyembunyikan dirinya di balik rak-rak buku yang bersusun rapi 4 blok mulai dari sebelah kanan saat memasuki ruangan yang sebelum itu terdapat beberapa meja dan kursi. Pukul 15.30 sekolah dalam keadaan sunyi dan sepi Lina masih tertidur pulas dia membaringkan dirinya di lantai, sangat lepas dia tertidur wajar bila seperti itu sebab di rumah dia tak bisa tenang dia terus waspada terhadap sesuatu yakni jangan sampai wanita itu menemukan tempat tinggalnya dia takut jika wanita itu membawa dirinya ke orang asing lagi, hari semakin sore tapi tak di pedulikannya tertidur pulas sampai-sampai dirinya masuk ke bunga tidur mimpinya ini agak sedikit liar menyangkut urusan orang dewasa jadi sebaiknya tak usah ku beri tahu saja bukan sebuah mimpi yang di harapkannya dia membuka matanya dengan segera walau pandangannya masih kabur dia menatap langit-langit dan mengambil nafas dalam lalu di buangnya secepat mungkin, mengkedip-kedipkan matanya agar lebih jelas di lihatnya menopang tubuhnya untuk segera bangun dia terheran melihat ruangan ini menjadi sedikit gelap sisa cahaya mentari menerobos masuk dari jendela menjadikan ruangan ini mendapatkan pencahayaan meski tak terlalu terang.
“Gelap” Katanya datar.
“Jangan-jangan, astaga aku ketiduran lagi. Sebaiknya aku segera pulang”
Sambil mengusa-usap wajahnya dengan lembut dia bangkit berdiri menuju pintu dan membukanya lebar dia mengambil selangkah demi selangkah menuju ke gerbang sekolah tetapi sepertinya hari ini benar-benar bukan hari keberuntungannya gerbang sekolah sudah terkunci rapat dia merasa aneh akan itu bagaimana tidak biasanya gerbang sekolah baru akan di tutup pada jam 19.00, ada apa ini ataukah security sekolah pulang lebih awal hari ini? Ya ampun sekarang bagaimana dia bisa pulang jika begini? Dia merasa kebingungan sekarang “Apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanyanya dalam benaknya, lamunannya terpecah akibat telinganya menangkap sebuah suara yang tak asing lagi baginya dia tak langsung berbalik memastikan sumber tersebut melainkan dia terdiam mendengarkan memanggil nama Lina dengan lembut.
__ADS_1
“Apa kau tidak ingin melihat ku. Lina?”
“Kau?”
“Memang aku, ada apa dengan sikap mu itu beginikah cara mu menyambut ku?”
“Tak perlu menyambut mu bukankah kau selalu datang sendiri tanpa di undang?”
“Kau tidak berubah rupanya sikap mu itu sering kali membuat ku jadi kesal”
“Seperti biasa perkataan mu itu sangat menyakitkan tapi tak apalah aku senang mendengarnya begitu kejam dan indah membuat ku semakin menyukai mu, aku tak bisa berhenti memikirkan diri mu saat wajah mu mulai muncul di hadapan ku”
“Dasar cabul”
__ADS_1
“Mengapa kau tidak melihat ku. Lina? Apa kau takut pada ku?”
Lina membalikkan seluruh badannya memandang seseorang berjubah hitam berada tepat di belakangnya orang itu membuka jubahnya di perlihatkanlah wajahnya pada Lina, orang itu adalah siswa sama yang selalu membuat Lina dalam masalah oh benar juga selama ini aku hanya menyebut orang itu sebagai siswa dan tak pernah menyebutkan namanya siswa itu bernama , dia adalah salah satu orang yang dulu menjalin kontrak dengan Lina tentu bukan Lina yang menginginkannya Lina juga sempat tinggal di rumah pria itu bersama orang tuanya, alasan mengapa orang tua pria itu menjain sebuah kontrak mereka adalah orang pertama yang mengikat sebuah kontrak, mereka hanya mempunyai seorang anak di lihatnya anak mereka merasa sangat kesepian dia sama sekali tak bermaksud bergabung dengan anak seusianya jangankan berteman dengan mereka keluar rumah ia tak pernah karena dalam fikirannya tidak orang yang bisa mengerti perasaannya, sebenarnya dulunya ia adalah anak yang ceria dan suka bergaul tetapi suatu ketika dia sedang bermain dengan temannya yang lain tiba-tiba ia tak sengaja melukai salah satu temannya itu bukan hanya kali ini saja tetapi itu sudah terjadi beberapa kali teman-temanya kemudian mulai menjauhinya “Dia adalah anak yang kasar, dia selalu membuat kami terluka kami tak mau bermain lagi dengannya” kata mereka kepadanya taman bermain mulai sepi hingga tak ada lagi yang bermain taman itu di tinggalkan ayunan dan mainan lainnya mulai berkarat sebagian mulai rusak di makan masa, melihat itu orang tua anak itu kemudian mengundang Lina ke rumah mereka Lina tidak mempunyai fikiran lain karena dia masih polos dia menuruti semua apa yang dikatakan oleh wanita itu kata wanita itu pada Lina “Tenanglah Lina mereka adalah teman masa kecil ku mereka mempunyai anak tetapi tak punya teman karena sesuatu hal orang tuanya sedih melihat anak semata wayangnya itu tak pernah lagi tersenyum, jadi maukah kau menjadi temannya?” Lina dengan polosnya menggangguk awal pria itu tak mau bersalaman dia sepertinya tak mengiginkan kehadiran Lina tapi anak itu mulai luluh mereka menjalin pertemanan dengan cara mereka sendiri melakukan hal yang mereka sukai dan kini anak itu berani bermain di luar tepatnya taman tempat ia bermain bersama para temannya yang meninggalkan dia sendirian, ia tersenyum kembali betapa bahagianya orang tuanya. Sampai akhirnya wanita itu tak menepati janji yang sudah di buat dia membawa lari Lina sebelum kontraknya habis mereka mencari wanita itu tapi tak mereka temukan dan alhasil mereka memutuskan untuk pindah ke London mulai saat itulah Lina dan teman kecilnya itu tak pernah bertemu lagi sampai takdir mempertemukan mereka kembali di sekolah ini saat melihat Lina tertidur di balik tirai jendela kelas dia langsung bisa memastikan jika Lina adalah orang yang dia cari selama ini, dulu ia sering mendapati Lina tidur di balik tirai jendela menyembunyikan dirinya, namun sebelumnya itu saat pertama kali bertemu di kelas ketika hari pertama pembinaan dia sudah punya firasat tapi hanya saja dia belum yakin betul jadi dia mencari tahu caranya dengan membuat Lina marah, masih teringat betul di memorinya tingkah laku Lina saat marah tatapan matanya yang tajam caranya mengepal kedua tangannya hingga berdarah hanya orang bodoh saja yang melakukan itu fikirnya, itulah alasannya mengapa pria itu mengatakan pada Lina waktu itu “Akhirnya ku temukan kau”. Masih ada kontrak yang belum habis, Lina juga sudah tahu jika siswa itu pernah menjadi teman masa kecilnya tapi dia berusaha menyembunyikannya dan bersikap biasa.
“Kau terus saja lari dari ku ada apa sebenarnya dengan mu? Jangan-jangan kau sudah lupa jika masih ada urusan yang belum selesai di masa lalu” Ucap pria itu.
“Lalu apa kau datang untuk menuntut itu?”
“Tentu saja, orang tua ku sudah mengelurkan banyak uang karena diri mu jadi kau harus bertanggung jawab selain itu kau pergi meninggalkan ku tanpa pamit kau tahu aku sangat marah aku menjadi kesepian senjak kau pergi, aku benar-benar tak bisa melupakan mu walau sedetik saja”
“Jangan khawatir akan ku ganti kerugian orang tua mu”
“Aku tidak butuh itu yang ku inginkan hanyalah diri mu saja”
__ADS_1
“Sepertinya kau sudah sakit jiwa”
“Itu karena mu aku jadi begini, bukankah kau tidak ingin lagi berteman dengan mereka jadi aku membantu mu membuat mereka lupa pada mu yang berarti kau hanya milik ku seorang”