Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Tugas menanti


__ADS_3

Malam yang begitu dingin terbaring dalam kegelapan sendirian membekukan hati ku tak lagi merasakan apa-apa, ingin juga merasakan jantung yang berdetak karena cinta tapi entah mengapa perasaan itu tak pernah singgah di jantung merah ini andai saja bisa meraih bintang-bintang itu akan ku gantung mereka di sekeliling ku agar menerangi hidup ku bagaimanapun juga bintang indah jika di lihat dari jauh benarkan?. Malam-malam seperti ini kesunyian melanda wilayah ini penduduknya hanya beraktifitas di siang hari lalu malamnya mereka beristirahat, saat mereka tertidur dengan nyenyak aku malah terbangun dari tidur dan berdiri di depan jendela tiba-tiba jendela terbuka lebar karena tertiup angin dengan segera angin malam masuk, sekali lagi aku dibuatnya terpaku karena kedatangannya secara tiba-tiba seperti angin sosoknya gelap tak terlihat tapi bola matanya menyala terang tentu aku mengenal sorotan dan warna matanya bagaimana tidak selama ini dia ada di sisi ku, aku bingung bagaimana dia menemukan ku?.


“Kau apa yang kau lakukan disini ada urusan apa kau kemari? Cepat pergi jika ada yang melihat mu akan jadi repot urusannya”.


“Saya akan pergi jika nona ikut dengan saya, sebelum nona murka perlu nona ketahui jika kami sangat membutuhkan nona tanpa kehadiran nona kastil terasa sunyi kami tidak lagi berkumpul di ruang baca dan menyapa walau sekedar basa basi selain itu saya ragu jika yang lainnya masih berada di kastil, kumohon nona kembalilah kami benar-benar membutuhkan mu sudah terlalu lama nona pergi. Saya tidak mengerti mengapa nona pergi padahal nona tahu sendiri kami tidak punya semua rasa benci yang nona tuduhkan pada kami kau tahu segalanya tentang kami semua tapi mengapa nona tetap pergi meninggalkan kami? Jujur saya sangat sedih saat nona tidak di kastil lagi kami sangat....”. Zleris terlihat sedih saat mengatakan apa yang dia rasakan.


“Cukup! Kau sudah banyak bicara omong kosong aku tidak ingin mendengarnya lagi”.


“Setidaknya sempatkanlah waktu nona untuk mengunjungi kastil, pelindung yang nona buat semakin lama menghilang dan jika sampai pelindungnya lenyap saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi”. Menghilang dari pandanganya, ku tinggalkan dia tanpa berkomentar lagi menjadikannya lebih terlihat sedih.


Mendengar penjelasannya tadi kini menjadi beban fikiran aku tak bisa mengabaikan kastil itu melihatnya hancur oleh perbuatan bangsa manusia jika difikir-fikir lagi kastil itu adalah satu-satunya tempat tinggal ku di sana juga semua kepedihan dan kegelapan ku berbaur dengan mereka, lantas apa yang harus aku lakukan?.


Pagi ini adalah pagi mereka melakukan aktifitas mereka seperti biasanya semuanya nampak sibuk tapi tak sesibuk ibu mereka.


“Kak Nara, apa aku boleh minta tolong?”. Tanya Kelly tiba-tiba datang menghampiri ku ‘sepertinya dia sudah menunggu ku keluar dari kamar.

__ADS_1


“Ada apa?”.


“Aku lupa mengerjakan tugas sekolah ku karena kemarin malam aku terlalu banyak bermain jadi lupa waktu, apa kakak mau membantu ku tolong kak”. Serunya penuh pengharapan dengan mata berbinar-binar.


“(Angguk-angguk)”.


Dia senang sekali sekaligus lega tugas yang belum sempat ia selesaikan akhirnya selesai dengan cepat karena mendapat pertolongan, hehehe kalau soal begini aku juga bisa ini mudah.


“Trimakasih kak sudah membantu ku”.


“(Angguk-angguk)”.


Ucapan Zleris semalam tak terabaikan oleh memori card ku begitu saja mulanya ku pikir itu tidaklah penting tapi sepertinya ini hal yang serius dia tidak mungkin mengatakan omong kosong seperti itu untuk menjadi alasan ku kembali ke kastil haruskah aku kembali ke sana melihat sendiri keadaannya? Atau ku abaikan saja?.


“Ada apa dengan wajah mu? jangan memendam masalah mu sendiri jika sesuatu mengganjal pikiran mu selesaikanlah segera karena itu hanya akan menimbulkan buah fikiran, jangan menunda terlalu lama waktu tidak akan mengerti permasalahan mu dia akan terus berjalan meninggalkan mu bersama masalah yang semakin memuncak, jadi pikirkan setiap keputusan mu”. Ujarnya memberi semangat sekaligus menyadarkan ku tapi dari mana dia tahu apa karena dia seorang ibu yang sudah tahu betul problema kehidupan? Mungkin begitu.

__ADS_1


Ya astaga maaf karena masalah ini aku jadi lupa akan kehidupan Lina yang terus berlanjut em tunggu dulu biar ku lihat sampai di mana aku membicarakan tentang dia.


Oh ya pagi ini seperti biasa dia berangkat sekolah dia juga masih bekerja di tempatnya dulu walaupun dia tahu atasannya alis bosnya tidak lain adalah pria yang ia benci tapi karena beberapa minggu ini dia tidak ada jadi Lina merasa aman-aman saja ke tempat kerjanya kata asistennya dia ada urusan di luar negeri untuk waktu yang lumayan lama, kegiatan sekolah baginya bukanlah hal penting selalu saja diabaikan saat seperti ini membaca buku di tempat biasa di temani oleh Yumina, Cerol, dan V berhubung Cerol juga suka buku jadi dia ikut serta menghanyutkan dirinya bersama berbagai buku-buku sementara V yang tidak mau pusing itu terlelap pangkuan meja sedangkan Yumina lebih suka membaca buku cerita di salah satu samping V sambil menopang pipinya agar tidak jatuh ke samping hingga sore menjelang terlihat dari cahaya mentari yang semakin sedikit berada dalam ruangan, menyadari akan hal itu Yumina segera terjaga dan mengembalikan buku di tangannya ke tempatnya .


“Kalian tidak ingin pulang ini sudah sore”. Cerol mengalihkan pandangannya dari tulisan-tulisan sulit melirik sekitar hanya memastikan saja, suara panggilan Yumina sepertinya di abaikan oleh kedua temannya Yumina menggoyang-goyangkan tubuh V yang tertidur sangat lelap sambil memanggil-manggil namanya berharap V segera bangun.


“Kau benar sebaiknya kita pulang”. Di liriknya Lina masih terfokus pada bukunya tanpa banyak kata Cerol menghampiri temanya itu tanpa Lina sadari, Cerol menarik buku yang dibaca Lina dengan perlahan sontak itu membuat Lina terkejut sambil memandangi wajah Cerol yang berjarak tak jauh dari pandangannya.


“Sampai kapan kau akan di sini kau tidak ingin pulang?”. Ujar Cerol.


“Em? Ya aku, aku”.


“Ayo kita pulang”.


“Ya, ya, ba.baiklah”. Ucap Lina terbata-bata.

__ADS_1


V belum juga bangun dia sangat menikmati tidur siangnya hingga lupa waktu Yumina sudah lelah dia mengambil langkah terakhir yaitu berteriak di dekat kupingnya dia mengeluarkan suara nyaring sedikit membuat tenggorokannya sakit tapi usahanya itu tidak terasa percuma karena V telah terjaga seketika dengan rambut yang berantakan, kancing baju terlepas sekitar 2 baris, wajah baru bangun matanya membulat kedipan mata dilakukannya beberapa kali untuk tersadar sepenuhnya. Akibat teriakan nyaring Yumina kedua tangan menutup rapat daun telinga dengan erat dia terduduk sambil memenjamkan mata ekspresinya ketakutan tidak ada bedanya saat mendengar bom dijatuhkan kondisinya sama dengan Lina sekarang, Yumina segera menghampiri Lina yang berada tak jauh dari Cerol tentu rasa terkejut bercampur khawatir seketika meliputi mereka bertiga bingung apa yang harus mereka lakukan.


__ADS_2