
“Lina apa yang terjadi? Lina kau baik-baik saja? Apa karena suara ku tadi, maaf Lina aku sungguh minta maaf, Lina kau tak apa-apakan? Lina...”.
“Sial. Ku fikir trauma ku sudah hilang padahal itu sudah berlalu bertahun-tahun”. Ucap Lina membatin.
V yang masih linglung berlari menghampiri mereka.
“Ada apa dengannya? Lina kau tidak apa-apa? Lina jawablah! Lina...Lina...Lina”.
“V!!! Bisakah kau diam kau hanya membuat keadaan semakin buruk”. Yumina menggeretak V melongo kebingungan dengan itu.
“Eh? Kenapa jadi aku yang salah padahal aku tidak melakukan apa-apa”.
“Jika bukan karena kau aku tidak akan berteriak seperti tadi hanya untuk membangunkan mu tahu”.
“Yumina kau?!”.
“Kalian berdua! Bisakah kalian hentikan sikap kekanak-kanakan kalian? Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda”. Bentak Cerol.
“Siapa yang bercanda”. Teriak mereka berdua sambil melihat Cerol.
__ADS_1
“(Apa?! Kenapa aku merasa akulah yang bersalah disini)”. Gerutu Cerol dia sedikit terkejut akan mendapatkan respon seperti ini sangat tidak disangka.
Lina harus segera sadar jika tidak akan semakin buruk jadinya.
“Maaf sudah membuat kalian khawatir aku tidak apa-apa. Tenanglah!”. Ucap Lina dengan lembut sambil membuka perlahan matanya dan berdiri tegap menyakinkan mereka jika dia baik saja.
“Kau yakin?”. Tanya Yumina.
“Sudahlah ayo kita pulang hari sebentar lagi gelap”. Lina tak mau ambil pusing lagi dengan sikap mereka dia ingin tidak terjadi apa-apa berlalu begitu saja emm aku jadi kepikiran apa yang membuat dia begitu mungkinkah kesambar angin tadi? ya itu tidak mungkin sekarang mereka jadi bingung akan perubahan sikap Lina yang terjadi begitu cepat tapi ku fikir mereka sudah mengerti akan sikap Lina yang selalu berubah dengan cepat itu sudah menjadi ciri khasnya.
Mengapa kesepian selalu menjadi temannya? Senja ini membuktikan kekosongan hatinya setiap kali ia memandang langit senja pandangannya melayang membayangkan dia terbang bebas menikmati tamparan angin tak perlu lagi lelah berjalan dan melalui waktu dengan cepat, bebas pergi mana ia ingin urusan duniawi terlewatkan begitu saja tak ada yang menghalangi jalan hidupnya itu impian indah tak terbayangkan jika semua keinginan hati seperti itu benar terjadi dalam hidup...haha jadi ingin pinjam baling-baling bambu dan pintu kemana saja punya doraemon. Matahari tenggelam tak pernah ia lewatkan hatinya terhibur jika menyaksikan hal indah seperti itu, menopang dagunya pagar kayu yang terbentang panjang sebagai penghalang agar para pengemudi lebih berhati-hati sebab terdapat jurang di sebelahnya tapi bukan material batu tajam melainkan rumput pendek seperti yang di flim-flim itu, jika kalian berfikir tidak bahaya kalian salah walaupun itu hanya rerumputan namun jika kecepatan kendaraan tinggi bisa penyok juga tapi sebenarnya dan sesungguhunya kalau belum berakhir takdir mu ya tidak akan terjadi kelumpuhan total maksud ku mati, oh ya?! Kita kembali lagi pada Lina dia memandangi terbenamnya mentari sambil menopang dagu tinggi-tinggi menunggu hingga hilangnya sang surya dari pandangannya baru ia beranjak dari tempat melanjutkan langkah dengan pasti walau gelap, tiba-tiba langkah kakinya terhenti ia terkejut melihat bayangan hitam tepat di bawah kakinya astaga bisa-bisanya dia muncul di saat seperti ini padahal Lina sendirian di jalan sepi ini tak ada tanda-tanda kendaraan yang melaju aiss dasar sial, Lina mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang sangat tenang dia tersenyum miris dan berkata.
Setengah badannya terhempas ke atas kasur empuk sambil memandang palfon kamar ia memikirkan sesuatu sepertinya fikirannya jauh terbawa ombak, namun lamunannya terpecah belah saat sebuah boneka beruang memenuhi benaknya melirik segera ke bonekanya yang di letakkan di atas meja samping tempat tidur, dipandangnya sebentar lalu mengambilnya dan meletakkannya di atas wajahnya, kening kedunya bertemu satu sama lain dia menutup kedua kelopak mata benaknya kembali dipenuhi berbagai hal sampai akhirnya dia tertidur. Saat membicaran boneka beruang tentu erat kaitannya dengan Yumina ya...begitulah yang maksud ku adalah Yumina, aku harus bilang apa padanya harus berterimakasih atau menyalahkannya karena telah membagunkan ku dari tidur panjang yang indah dan memaksa ku melihat dunia nyata dunia yang kejam, kehidupan yang kejam, kenyataan pahit, kemarahan yang berkobar, membuat ku mencium aroma-aroma manis membuat gairah mengamuk tak terkendalikan, rasa lapar mengetarkan seluruh tubuh hingga lemah tak berdaya melawan semua godaan manis, kesenangan duniawi, kesenangan sesaat, kenikmatan sesaat, kebahagian palsu, wajah bertopeng dan masih banyak lagi. Bukan aku yang mengundangnya datang sebenarnya dia bisa melewati dunia ku saat itu tapi entah mengapa dia bisa membuka pintu rumah dan membangunkan ku, dia begitu mengenal diri ku yang aku sendiri tidak mengerti diri sendiri sampai akhirnya dia pergi menentukan jalannya dan terlahir di zaman yang sama dengan ku lagi dia seperti ikatan takdir yang terhubung pada ku walau berada jauh darinya tapi detak jantungnya terdengar jelas oleh ku mungkin karena manis dirinya sudah pernah ku cicipi.
Lelah begitu menguasai Lina terlihat dari wajahnya yang kusut jalannya juga lemas, dia menghempaskan seluruh tubuhnya di sofa tempat ia biasa memutar film kesukaannya nafas lelah berhembus panjang bersama mengambang kempis dadanya, untung hari ini bukan jadwalnya masuk kerja jika seandainya iya maka yakin dan percaya dia pasti tak masuk kerja, sebenarnya bukan lelah fisik tapi perasaannya yang lelah ia sedang malas melakukan kegiatan ataupun kesibukan hehe itu pengaruh hatinya sesungguhnya, perut yang keroncongan juga terabaikan padahal biasanya ia tidak pernah membiarkan perut langsingnya kelaparan tapi sekarang selera makan tidak ada apa lagi rencana masak-masak di dapur benar-benar merepotkan ketika hati dan fikiran kacau jadinya akan berakibat begini.
“Lapar....”. Katanya sambil mengusap-usap perutnya.
“Sangat”. Em? Tunggu dulu suara siapa itu apa rumah Lina kemalingan?.
__ADS_1
Lina sangat terkejut mendengar balasan ucapannya tepat di bawah kakinya buru-buru dia bangkit berdiri dan melakukan gerakan refleks dia menjauh dari sumber suara mengamati ke depan dan waspada tapi tidak ada apa-apa mungkinkah karena kelelahan dia berhalusinasi tapi tidak mungkin suara itu terlalu nyata, siapa gerangan muncul tiba-tiba langkah kakinya tak terdengar sebelumnya saat mendekati Lina.
“Kau mencari ku?”. Suara itu tiba-tiba berbisik di dekat telingannya dengan sigap Lina berbalik dan menjauh lagi dari sumber suara, dipandangnya sosok yang berdiri dihadapannya sekarang melihat Lina dengan tatapan dingin senyumannya lebar membuat dia terlihat menakutkan.
“Kau?! Apa yang kau lakukan dirumah ku”. Ucap Lina kesal melihat sosok itu ternyata Zoe malingnya masuk rumah orang tidak pamit dulu dasar tidak sopan.
“Aku baru saja datang kenapa tidak menyambut ku dengan gembira kau bukannya rindu pada ku?”.
Prett...rindu katanya? Yang benar saja dasar gila, Lina melayangkan tatapan dingin sepertinya dia sangat kesal melihat pria tak tahu sopan santun itu berada dalam rumahnya untuk yang kedua kalinya.
“Keluar dari rumah ku dasar brengsek”. Teriak Lina.
Hehehe sepertinya pria itu memang gila dia hanya tertawa terbahak-bahak setelah mendapatkan kata mutiara.
“Dasar gadis sialan berani-beraninya kau mengatai ku begitu, sepertinya kau harus diajari merangkai kata”. Dia menghilang tiba-tiba dari pandangan lalu berdiri di belakang Lina dia memeluk erat dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan memiringkan sedikit kepala Lina, posenya benar-benar gawat dengan pose seperti itu dia bisa menyantap Lina kapan saja.
“Akan ku ajari kau merangkai kata sehingga tidak membuat ku jadi kesal tapi sebelum itu kau karus mendapatkan hukuman dari ku karena sudah lancang menghina ku”. Menakutkan.
“Lepas! Aku tidak perlu belajar soal itu dari mu aku sudah tahu itu lepaskan tangan mu!”. Lina memberontak membebaskan diri dari cengkraman Zoe didorongnya walaupun tenaganya tidak kuat tapi cukup untuk melarikan diri, Lina berlari kedalam kamar tempat aman baginya ada rosario dan bawang putih yang ia siapan sebelumnya berharap ini akan berhasil.
__ADS_1