
"Apa kami juga ikut tuan?" Tanya Tein
Astaga aku lupa dengan mereka, Mina bingung mendengar mereka memanggil ku tuan.
"Jangan memanggilku begitu panggil nama ku saja!" Kembali komunikasi dengan telepati.
"Mina, apa boleh mereka juga masuk ke dalam rumah mu?" Segera mencari topik pembicaraan.
"Tentu saja boleh, bagaimana mungkin aku berkata tidak"
Di dalam rumah Mina memang lebih baik, hangat dan nyaman. Dia permisi ke dapur setelah kami duduk di ruang tamu untuk mengambil minuman, hehe bukan minuman seperti yang dulu ia siapkan saat kali pertama aku dan Nhean berkunjung, kali ini dia menyuguhkan teh, aroma sangat manis.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya ku.
"Aku baik. Aku tidak menyangka kau akan datang ke rumah ku. Kemana saja kau selama ini kenapa tiba-tiba menghilang"
"Aku pindah rumah jadi aku harus pindah sekolah. Maaf tidak memberi tahu mu karena waktu nya sangat mendadak" Mendengar alasan yang ku karang Nhean tertawa kecil.
"Apa yang kau tertawa kan" Seperti biasa kami bertelepati.
"Maaf" Nhean menahan tawa nya, dia memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir terjadi sesuatu, kau tiba-tiba tidak masuk sekolah dan menghilang. Aku mencoba menghubungi no nya kau berikan pada ku tapi tidak bisa terhubung, apa kau mengganti nya?"
"Emm itu"
"Handphone ku hilang" Alasan apa ini. Nhean mengikuti ku membuat alasan.
Dari percakapan, Mina sudah lulus dan sekarang dia sedang kuliah mengambil jurusan hukum. Dia tidak kuliah di kota lain karena biaya nya juga terbatas. Sangat di sayangkan dia gadis yang cerdas juga baik harus nya dia kuliah di universitas terbaik.
Hanya rindu mendengar suaranya, aku seperti dekat dengan dirinya dari pertama kali bertemu. Tidak ada maksud apa-apa berkunjung ke rumah nya.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, siapa mereka" Mina menanyakan identitas para pria tampan yang datang bersama ku.
Apa yang harus aku jawab?.
"Emm mereka. Apa kau masih ingat dia" Sambil menunjuk Nhean.
"Nhean bukan?" Dia berfikir sebentar. Dasar gadis ini aku tahu jika dia tak bisa melupakan Nhean, tapi masih berpura-pura lupa ingat.
"Dia yang mengajak ku kemari, dia rindu pada mu" Nhean langsung melihat ku sambil menunjuk diri nya sendiri, bola matanya membesar dengan ekspresi bertanya. sedangkan Mina tersipu malu.
"Apa kedatangan ku mengganggu?" Tanya ku.
"Mana mungkin, tinggal lah untuk makan malam kebetulan aku baru saja pulang berbelanja"
"Jika tidak merepotkan"
Kami mengobrol banyak hal terutama hal-hal yang terjadi ketika aku tidak masuk sekolah. Tidak terasa waktu berlalu begitu saja, sudah waktunya untuk memasak makan malam fikir Mina begitu. Menawarkan dia bantuan tapi katanya tidak perlu.
"Sabarlah sebentar lagi"
"Berikan aku ciuman tuan agar aku bisa menenangkan hati ku"
"Jangan bicara sembarangan" Nios kesal dengan sikap Maica.
Cepat juga Mina memasak, dia mempersilakan kami ke meja makan. Kami tentu bisa makan seperti orang normal, aroma rempah-rempah tidak menggangu penciuman atau membuat sakit.
Masakannya sangat enak penuh dengan bumbu.
Selesai makan kami kembali ke ruang tamu dan berbincang.
"Apa aku boleh datang lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku sangat senang jika kau datang. Aku jadi punya teman mengobrol"
Melihat Maica sudah tidak tenang lagi, terpaksa harus segera pamit pulang, kali ini langsung bisa berpindah ke kastil tanpa naik bus lagi.
"Tuan berikan aku ciuman" Sesampai nya di kastil Maica merengek seperti anak kecil, dia memeluk kaki ku.
"Berhenti, kau sudah melewati batas" Sekarang Tein yang marah.
"Bukan urusan mu" Dia tidak peduli dengan teguran Tein.
Untuk menghentikan dia merengek terpaksa harus menuruti keinginan nya. Ku pegang dagu nya lalu menunduk mengecup bibirnya. Dia tersenyum puas.
"Sudah kan?"
"Sekali lagi tuan"
"Cukup!" Say menarik baju Maica, dengan paksa dia menyeret tubuh Maica agar menjauh dari ku.
"Istirahat lah kalian pasti lelah"
"Baik tuan"
Bagaimana besok aku harus bertemu dengan Lina tapi kesannya seperti pertemuan tidak di sengaja.
"Tuan bagaimana dengan gadis yang kita temui di halte bus tadi pagi? atau biarkan saya yang mengurus nya" Tanya Khen dengan serius.
"Tidak apa-apa, aku harus turun tangan sendiri untuk mengubah jalan hidupnya"
"Tapi apa kah dia bisa singgah di rumah tua, jika di lihat identitas nya dia adalah anggota mafia. Sudah banyak nyawa yang ia renggut"
"Aku tidak bisa memastikannya, semuanya akan di perhitungkan. Aku hanya bisa mengundur waktu kematian nya tapi aku tidak bisa memutuskan sesuka ku tempat nya di rumah tua nanti, itu bukan wewenang ku "
__ADS_1