Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
konspirasi #3


__ADS_3

Hari ini waktunya Lina kembali bekerja pukul 17.00 dia sudah harus berada di restoran jadi dia segera pulang ke rumahnya untuk bersiap setelah ia pulang sekolah, ia sangat bersemangat pasalnya hari ini adalah gajian siapa yang tak senang bila terima hasil kerja kerasnya selama ini, selama dia bekerja tak pernah dia terlambat karena dia tahu mencari pekerjaan baru itu sulit apa lagi di masa sekolah seperti ini jarang sekali orang yang mau menerima seorang pelajar jadi di berusaha untuk menaati peraturan.


Sekarang dia terlihat sangat sibuk melayani pelanggan yang setiap menitnya bertambah banyak keramahan menjadi prioritas restoran ini setiap karyawannya dituntut untuk bisa bersikap ramah dan murah senyum. Sejujurnya dia belum pernah bertemu dengan pemilik tempat ia bekerja secara langsung yang memberikan para karyawan upah mereka adalah asistennya yang ia percayai, tapi hari ini dia bisa bertemu dengan bosnya itu karena dia secara pribadi dipanggil ke ruangannya sepertinya bosnya ingin memberikan sedikit bonus karena semenjak Lina bekerja di tempatnya pelanggan makin banyak berdatangan mungkin karena sikap Lina yang begitu sopan mampu memikat para pelanggan sikap Lina itu kemudian di tiru oleh karyawan lainnya sehingga restoran ini benar-benar menjadi ramah dan nyaman bagi siapapun yang datang, aku akui karyawan yang bekerja di sini baik semuanya berparas indah itu juga yang membuat mereka punya alasan untuk kembali lagi ke restoran itu wah keren....


Dengan nafas tak beraturan Lina berdiri di depan pintu ruangan manajernya dia mencoba mengatur nafas baik. Cukup lama dia berdiri akhirnya dia memberanikan dirinya mengetuk pintu lalu memutar gagang pintu dan masuk ke dalam dengan hati-hati saat dia sudah berada dalam ruangan dia nampak kebingungan karena tak ada seorangpun yang menyambutnya meja dan kursi tempat manajernya terlihat kosong maka dengan hati-hati pula dia bersuara berharap ada yang membalas sapaannya itu.


“Permisi pak” Ternyata manajernya sedang membereskan kertas-kertas yang terjatuh berantakan di lantai makanya sosoknya tak terlihat tertutup oleh meja yang besar, saat di dengarnya suara Lina dia berdiri menampakkan dirinya pada Lina yang berada di depannya, Lina dia terkejut rasanya seperti terkena serangan jantung saat melihat sosok manajernya itu ternyata selama ini adalah Zoe (gila abis).


“Kau?”

__ADS_1


“Lina?! Ya ampun kebetulan sekali kita bertemu lagi, apa ini takdir”


“Aku permisi”. Lina berpaling dari Zoe hendak meninggalkannya namun lagi-lagi Zoe berhasil mencegahnya dengan kalimat.


“Kenapa buru-buru bukankah kau kemari untuk mengambil bonus mu atas kerja keras mu selama ini?, aku terima kasih pada mu berkat diri mu restoran ini kini punya banyak pelanggan. Jangan menyia-nyiakannya bagaimanapun juga kerja keras mu itu pantas mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan”


“Tidak perlu” Jawab Lina datar.


“Bukan begitu tapi jika aku mengambil yang kau berikan itu sama saja dengan menambah utang ku pada mu” Zoe tersenyum.

__ADS_1


“Kau memang benar. Seperti biasa kau bisa membaca jalan fikiran ku dengan mudah, tapi tak perlu khawatir aku tidak akan mencatat ini dalam bon jadi kemarilah ambillah hak mu”


“Tidak trima kasih” Lina berlalu darinya dengan sesegerah mungkin meninggalkannya yang sedang mengukir senyuman. Miris.


Karena hari ini adalah hari karyawan menerima gaji jadi restoran juga cepat tutup biasanya tutup pada pukul 22.00 tepat tapi hari ini restoran tutup satu jam lebih awal. Lina pulang sendirian seperti biasanya hanya di ikuti oleh bayangannya yang payah.


Sesampainya di rumah dia beristirahat sebentar sambil makan di depan televisi menonton kartun kesukaannya, Lina memang tidak suka menonton sinetron yang berbaur romantis yang dia sukai adalah flim action horor anime atau kartun selain itu dia enggan, setelah selesai dia mandi dan bersiap-siap ke supermarket belanja untuk keperluannya lantaran lemari pendinginnya sudah mulai kosong tersisah air mineral, appel 2 buah, sayuran layu, sosis panggang sisa sarapannya tadi pagi dan selai kacang. Jaket dan syal selalu menjadi andalannya untuk melindunginya dari dinginnya malam yang bisa membuat seluruh persendian nyeri tak lupa juga celana panjang di kenakannya agar tetap hangat dan juga sepatu, di berangkat ke supermarket membeli barang sesuai kebutuhannya saja lalu pulang ke rumah.


“Dingin...cuaca di luar sangat ekstrim” Katanya saat menutup dan mengunci pintu rumahnya yang telah kembali dan berada dalam rumahnya sekarang sambil membawa belanjaannya ke dapur, setelah di letakkannya makanan pokok dalam lemari pendinginnya dia segera lari ke kamar tujuannya agar suhu tubuhnya sedikit lebih hangat dia membungkus dirinya dengan selimut tanpa melepas jaketnya di tidur sambil memeluk gulingnya.

__ADS_1


Malam yang begitu dingin sepertinya musim dingin akan segera tiba suhu menurun sedikit demi sedikit setiap jamnya Lina dengan pulasnya tertidur tapi tidur pulasnya terganggu oleh mimpi-mimpi masa lalunya yang begitu menyakitkan dimana dia dijauhi oleh orang-orang tak ada yang mau berteman dengannya semua membenci kehadirannya sesekali juga dia mendapatkan perlakuan buruk mereka membuat Lina terluka, tidak masalah dengan luka fisik tapi luka batin itu tidak bisa disembuhkan ketika dia pulang yang bukan rumahnya sekali lagi dia harus menahan sakitnya luka-luka yang orang mengikat kontrak pada wanita gila itu, pahitnya racun setiap hari sudah menjadi kudapan Lina sehari-hari marah tentu saja timbul membara di hatinya rasa ingin balas dendam ikut mewarnai kemarahannya tetapi apalah arti semua kemarahan itu Lina tak bisa berbuat apa-apa tidak ada seorang yang bisa menjadi tempat pelariannya hanya dirinya sendiri tempatnya melampiaskan semua perasaannya, terkadang saat dia tertawa di depan temannya yakni Cerol, Yumina dan V ada tangisan dalam tawanya dia hanya dapat berkata dalam batinnya “Kalian begitu bebas tertawa mengapa aku tidak? Melihat kalian seperti itu ingin rasanya mengakhiri hidup ini apa Tuhan akan membenci ku jika aku melakukan itu?”.


Mimpinya itu membuat dia berkeringat hebat walau sebenarnya suhu malam ini luar biasa dingin tapi dia merasa kepanasan, gelisah, menggeram, mengigau, di remasnya bantal kepalanya. Dia tak mau lagi melihat mimpi itu dibukanya matanya segera dia terengah-engahkelelahan sampai-sampai bernafas melalui mulutnya dadanya mengembang kempis lalu dia bangun membuka selimutnya yang menutupi wajahnya sambil menatap langit-langit kamarnya, dia merasa sangat kepanasan suhu tubuhnya panas jadi dia pergi ke kamar mandi dan membasahi seluruh tubuhnya dengan shower tapi pakaiannya masih dalam tubuhnya akibat perbuatannya semalam dia menjadi demam dan tidak pergi ke sekolah ataupun masuk kerja 3 hari ini, terdapat sekantung balok es kecil berada di keningnya selimut tebal menyelimuti badannya juga segelas besar susu hangat tersedia di atas meja di sampinya tentunya itu di lakukannya sendiri dengan tenaga yang dia punya sekarang dia berusaha berjalan ke dapur untuk membuat minuman hangat, dan karena itu juga teman-temannya jadi tahu jika Lina tidak tinggal bersama orang tuanya mereka juga merasa khawatir mau cari di mana dia mereka tak tahu di mana rumah Lina sekarang itu karena Lina sudah pernah bilang pada mereka jika mereka mencoba mengawasinya dengan para algojo mereka Lina tidak akan pernah kembali lagi pada mereka mendengar ucapan Lina yang tak pernah main-main mereka menurutinya hanya ada satu orang yang tahu di mana Lina berada yang tak lain yaitu Zoe, dia tahu semuanya tentang Lina tapi sayang mereka semua tak mengetahuinya. Terkadang memang hal kecil dapat menimbulkan masalah besar bagi siapapun.


__ADS_2