
Obrolan yang sangat seru baru sebentar saja mereka sudah akrab dengan kekasih Yumina, bagus lah rasa bersalah sudah hilang dari perasaan V, Cerol dan Lina. Minuman yang tadinya di abaikan kini semakin enak di teguk tanpa sadar, makanan panas habis di santap.
"Jangan minum lagi, aku tidak mau menggendong mu" Cerol merebut gelas Lina sesaat sebelum dia meneguknya.
"Jangan khawatir ada V yang akan menolong ku. Benarkan?" Mana mungkin Lina terpengaruh alkohol, dia hanya sengaja berakting.
"Tidak. Aku tidak bisa" V menolak.
"Jangan seperti itu, aku akan memberikan ciuman kecil untuk membalas jasa mu" Ucap Lina menggoda sambil tersenyum.
"Bukan.Bukan itu masalahnya" V meremas rambutnya sendiri, dia kesal dengan Lina.
"Aku hanya bercanda. Tapi jika kau mau menggendong ku, akan ku berikan"
" LINA!?" V dan Cerol serentak menyebut nama Lina dengan keras.
Waktu menuntut mereka untuk pulang, mereka terpisah jalan masing-masing. V dan Cerol tidak mengantar Lina karena dia sendiri yang menolak, jarak antara rumah Lina dan mereka jauh akan larut malam baru sampai jika mereka harus mengantar, fikir Lina begitu.
Berjalan di tengah-tengah keramaian selalu memberikan kesan berbeda yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Entah mengapa melihat lampu jalanan berwarna warni di tambah kendaraan yang lalu lalang berkesan hangat walau sekarang udaranya dingin. Meski begitu Lina harus bergegas jadi untuk mempersingkat waktu tempuh dia memutuskan untuk naik bus, dia akan terlambat ke sekolah besok. Tidak banyak orang yang naik bus di jam segini, mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing, hanya beberapa orang saja bersama Lina di bus. Lina duduk di bangku paling belakang, dia menyandarkan kepalanya di jendela bus sambil memakai headset dengan volume agak tinggi, dia menikmati suasana nyaman seperti ini sampai-sampai dia tidak tahu jika anak brengsek datang lagi maksudnya Zoe. Masih ingatkan dengan dia? sebenarnya Zoe juga adalah seorang mafia tapi dia sangat berbeda dengan mafia lainnya karena dia suka dengan intisari, maksud ku adalah dia adalah vampire. Aku tidak tahu dari mana dia datang dan bagaimana profil hidup nya.
"Apa kau tidak rindu pada ku?" Dia berbisik di telinga Lina. Tapi karena volume music nya agak keras Lina tidak mendengar ucapannya.
Lina terkejut saat Zoe memegang tangannya, Lina langsung menoleh kearah Zoe sambil buru-buru melepas headset nya. Lina tidak mengucapkan kalimat hanya berekspresi saja.
"Jangan melihat ku begitu, apa kau tidak rindu pada ku" Kini dia menatap Zoe dengan tatapan waspada.
"Berhenti melihat ku begitu, kau menggoda ku" Tatapan Lina berangsur-angsur merendah lalu dia memalingkan wajahnya.
"Em? kenapa malah menghindar, bukan ini yang ku inginkan" Imbuhnya lagi pada Lina.
" Ayolah sapa aku, apa aku harus mencium mu baru aku bisa melihat senyum manis mu? kau mau aku lakukan sekarang?"
"Apa perlu mu? aku lelah, jangan mengacau!" Lina tidak ingin ada kontak mata, dia enggan menanggapi Zoe.
__ADS_1
"Aku sedih, kau tidak peduli pada ku. Apa kita putus?"
"Hehehe iya memang benar kita sudah putus saat kau berubah jadi orang lain" Lina tersenyum tipis.
"Sayangnya aku harus mengecewakan mu, kita tidak akan pernah putus. Jika kau dan aku mati barulah ini semua akan berakhir" Lina tersenyum sedikit lebar mendengar kata Zoe.
"Baiklah. Dimana pertemuan nya?"
Eh tunggu sebentar, aku tidak mengerti pembicaraan mereka.
"Akan ku kirim pada mu"
"Em"
"Aku haus, bisa kah kita bersama malam ini?"
"Datang saja"
Mereka sekarang di rumah Lina.
"Ini!" Lina menawarkan tangannya pada Zoe.
Zoe mencium lalu menggigit pergelangan tangan Lina, dia mulai minum dengan lahap.
"Jangan terlalu dalam, besok masih sekolah" Tambah Lina lagi.
Zoe berhenti sejenak untuk melihat wajah Lina yang malu-malu, sangat sedang melihat Lina seperti ini kata batin nya. Zoe kembali menancapkan taringnya lebih dalam.
"Aahh sakit" Dengan refleks di pegangan nya pundak Zoe.
Zoe tidak peduli dengan jeritan Lina, malah menikmati setiap tegukan.
"Sudah, berhenti. Kau sudah minum banyak" Zoe melepas gigitan nya.
__ADS_1
"Tenang saja ini tidak akan berbekas"
Beberapa menit kemudian Zoe menghentikan aktivitasnya. Luka di pergelangan tangan Lina di jilat dan di hisap untuk menghilangkan bekasnya.
"Boleh aku mencium mu" Dengan tatapan melemas Zoe menggoda Lina.
"Belum puas? cepat pergi aku mau istirahat"
Memang tidak di perbolehkan tapi Zoe tetap saja mencium Lina dengan paksa. Dia ******* bibir Lina, seperti nya dia profesional dalam hal seperti ini. Kekuatan manusia biasa tidak akan pernah sepadan dengan Zoe, Lina mencoba mendorong tubuh Zoe tapi itu hanya membuang-buang tenaga tidak akan ada hasilnya, seperti mendorong tembok sekuat apapun tetap saja usahanya nol.
"Sudah cukup" Zoe memberikan kesempatan pada Lina untuk mengatur nafas.
"Sudah sering tapi kenapa kau masih belum mengerti caranya, seperti nya kau harus di ajari setiap hari"
"Aku bilang cukup!" Lina menggeretak Zoe.
"Jika kau mencium ku lebih dulu, akan ku turuti perkataan mu"
Lina ragu apakah dia menurutinya tapi jika tidak di coba maka lebih lagi tidak tahu, dengan terpaksa dan untuk yang pertama kalinya Lina berinisiatif melakukannya duluan.
"Buruk sekali, bukan begitu caranya. Malam ini akan ku ajari sampai bisa jika belum bisa, sampai pagi juga bisa" Zoe tersenyum bahagia melihat kepolosan Lina.
"Tapi kau sudah berjanji"
"Aku tidak berjanji" Zoe kembali mencium Lina dengan ganas.
Mereka berpindah ke kamar dengan cepat, dengan bantuan Zoe teloprtasi.
Tubuh Lina di baringkan di atas kasur, Zoe terus mencium Lina dengan semangat, dia memaksa Lina mengikut permainan. Mereka beradu lidah bertukar air liur.
"Eemmm" Lina mendesah dengan lembut"
"Kau sangat pandai menggoda" Jangan sampai Zoe melewati batas, mendengar Lina mendesah dia jadi terangsang. Bagaimana pun juga dia masih punya nafsu seperti manusia biasa pada umumnya.
__ADS_1