Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Berkunjung kerumah orang tua kedua


__ADS_3

Semuanya tampak lebih baik sekarang walaupun tak bisa dipungkiri kehadiran Zoe dalam hidupnya telah membuat hari-harinya menjadi tidak bisa tenang dia sering melamun memikirkan apa yang harus dia lakukan agar dapat menghindar darinya, ujian apakah yang diberikan Tuhan padanya sekarang ini dengan apa yang dialami Lina sekarang pasti terlintas dibenak kalian dan bertanya “Bukankah Nara adalah pemegang kitab kehidupan awal dan akhir dari hidup seseorang lonceng kelahiran dan kematian sekarang ada ditangannya lalu kenapa dia tidak merubah nasib dari Lina saja menulis ulang cerita hidupnya yang berarah pada kebahagiaan” sekalipun aku adalah seseorang yang seperti itu tapi jika tidak karena persetujuan darinya maka aku tidak dapat bertindak semau ku akupun adaalah makluk ciptaannya tak dapat disangkal semua itu aku hanya sebagai sutradaranya dan dia adalah penulisnya, kalian pastinya sudah tahu siapa yang ku maksud itu.


Akibat kehadiran Zoe yang mendadak dia jadi lupa pada janjinya pada orang tuanya untuk makan malam bersama mereka, dering ponselnya menyadarkan dia lamunannya sebuah pesan ternyata dari ibunya “Lina apa kau akan datang malam ini kami sudah menunggu mu, ibu sudah mencoba menghubungi mu tapi kau tidak menggangkatnya jadi ibu mengirim pesan ini semoga kau membacanya” begitu isi pesannya dia memukul dahinya setelah melihat membaca pesan dari ibunya.


“Astaga aku lupa” Tanpa membuang-buang waktu lagi dia segerah keluar dari rumahnya tak lupa dikuncinya pula pintunya.


Akhirnya dia sampai di tempat tujuannya dengan keringat bercucuran di kening dia memencet bel sebenarnya dia tahu passwordnya tapi merasa tak enak hati jika harus langsung masuk begitu saja jadi dia memencel bel tak lama kemudian pengurus rumah keluar dan membukakan pintu.


“Nona? Kenapa tidak langsung masuk saja nona kan sudah tahu kuncinya”


“Jangan tanyakan itu lagi pada ku” Entah ada apa dengannya kesambet apa dia sehingga berucap kasar sambil melihat pengurus rumah dengan menakutkan tapi itukan sudah memang sifatnya cuek dan agak pemarah, sifat aslinya ia benar-benar tunjukkan sepenuhnya setelah dia bertemu Zoe untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama tak berjumpa tepat pada saat penerimaan murid baru di sekolahnya.


“Ba.baik nona saya mengerti. Silahkan masuk nona sudah ditunggu”


Dia langsung menuju ruang makan dan menghampiri ibu dan ayahnya di sana yang terlihat sedang menunggunya.


“Emm, maaf aku baru sampai”


“Lina akhirnya kau datang juga kami sudah menunggu mu, ayo kita makan bersama sekarang ayah mu sudah merasa lapar dari tadi aku menyuruhnya untuk makan duluan tapi dia bersikeras untuk menunggu mu” Seru ibunya.

__ADS_1


“Bukan begitu Lina ayah belum lapar saja jadi ayah masih menunggu mu datang jangan dengar ibu mu dia hanya bercanda saja”


“Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama saat aku datang (akhirnya kau datang juga) dasar sial!” Katanya membatin.


“Ada apa Lina apa ada sesuatu” Tanya ayahnya.


“Emm? Ah tidak ada”.


Mereka memulai makan bersamanya diisi dengan candaan dan tawa Lina terseyum manis menutupi semua masalahnya dari mereka siapa yang menyangka kehidupan seorang putri dari seorang pejabat negara mempunyai berbagai rahasia tentang masa lalunya yang begitu kelam, jika dipandang semuanya tampak baik-baik saja berjalan lancar kehidupan yang diimpikan para gadis dimiliki oleh Lina kenikmatan hidup yang menggugah setiap gadis dalam dunia ini nampak jelas dihidup Lina, jika dia mau tak perlu repot memikirkan bagaimana mengatur keuangan tinggal mengambilnya saja di kartu tabungan yang diberikan oleh ayahnya tetapi fikiran itu sama sekali tak pernah terlintas dibenaknya menurutnya hidup akan lebih bermakna jika hidup dengan hasil keringat sendiri selain itu dia juga paham betul posisinya dia hanya seorang anak yang diambil karena rasa ibah dan sama sekali tak punya hak apa-apa dalam keluarga apa lagi mereka punya anak laki-laki anak kandung mereka, begini ceritanya mereka mengambil Lina karena sangat ingin mempunyai anak perempuan tetapi tak bisa itu sebabnya mereka mengadopsi Lina saat itu anak mereka sudah terlahir ke dunia fana hanya saja umurnya lumayan jauh dengan Lina sekitar 9 tahun dia sekarang sudah mendapatkan gelas S2, jalan yang ia pilih sangat jauh berbeda dengan jejak ayahnya dia lebih memilih menjadi seorang pengajar di sebuah university jepang alasan ia lebih memilih Negara tersebut karena banyak yang ia dapatkan di sana mengingat perkembangan teknologi berada di tangan Negara tersebut jadi sangat efektif menimbah ilmu berbagai pengalaman akan didapatkan dengan beradaptasi, hubungan Lina dan Neo sangat dia menganggap Lina sudah seperti adiknya sendiri sangat ramah dan selalu berusaha membuat Lina merasa dia berada dalam keluarganya sendiri dan berusaha membuat Lina mau mengakui dirinya sebagai kakaknya tapi Lina menjauhkan dirinya perasaan canggung tentu saja dia rasakan menurut ku semua orang akan berperilaku seperti itu jika dalam keadaan seperti itu, Lina tak pernah menyebut Neo dengan namanya apa lagi memangggilnya dengan sebutan kakak bagaimana dia mau menyebut nama seseorang namanya saja dia merasa aneh jika harus mengatakannya, Neo tahu jika perasaan benci dan dendam telah membeku dalam hati Lina jadi Neo berniat untuk mencairkan perasaannya itu karena jika terlalu lama membeku maka akan menghancurkan dirinya sendiri. Dalam waktu dekat ini rencananya dia akan pulang mumpung kampus sedang diliburkan jadi kesempatan ini tak akan dia lepas begitu saja liburan sekaligus melepas rindu pada keluarga.


Setelah makan malam bersama Lina tidak lansung pulang dia berbincang-bincang dulu dengan ibu dan ayahnya di ruang keluarga karena sudah larut malam Lina memutuskan untuk pulang ayahnya sempat menyarankan agar dia bermalam saja di sini tapi seperti biasa siapa yang bisa mengalahkan keras kepalanya itu dia tetap nekat untuk pulang malam ini padahal sekarang sudah pukul 23.11 mereka tentu khawatir Lina pulang sendirian di malam gelap seperti ini ditambah dia seorang gadis tak sepantasnya dia pulang sendirian, ayahnya ingin mengantarnya pulang namun sekali lagi dia menolak akhirnya dia pulang sendiri.


Sesampainya Lina di rumah dia langsung pergi beristirahat kantuknya sangat parah matanya sudah tidak kuat lagi menahannya jarang ia tidur selarut ini jadi maklumlah.


Aktifitas pagi ini dia lakukan seperti biasanya rutinitas dan kewajibannya sebisa mungkin dilakukannya, tak ada peristiwa yang menarik selama ia berada di sekolah hanya kegiatannya yang dibuat setiap hari yang sedikit menarik hanyalah temannya berniat berkunjung lagi ke rumahnya Lina menolak tapi Yumina dan V bersikeras untuk tetap pergi ke rumah Lina apa boleh buat mereka terus saja mendesak Lina sampai-sampai ketika ia pulangpun Yumina dan V membujuk Lina dengan terpaksa Lina mengiyakan permohonan mereka yang di penuhi dengan wajah polos mereka dan mata yang berbinar-binar, di rumah Lina V bersama Yumina membuat suasana tenang menjadi terguncang terpecah belah oleh suara bising mereka Lina sudah maklum melihat kehebohan mereka seperti itu sambil menopang dagunya Lina terdiam memandangi V dan Yumina yang senjak datangnya mereka terlihat sangat senang Cerol yang melihat wajah kusut Lina tidak berani untuk ikut serta dalam keributan dua temannya itu dia menyibukkan dirinya dengan menikmati minuman soda yang mereka beli dahulu sebelum ke rumah Lina sesekali ia mencuri-curi pandang tatapan Lina yang senjak tadi berfokus pada kedua temannya tersebut, akibat kunjungan teman-temannya Lina harus melewatkan tayangan kartun kesukaannya malam ini dia tidak ingin mereka tahu kebiasaan kekanak-kanakannya itu pasti akan menjadi bahan ejekan mereka tapi siapa diantara mereka yang berani mengolok-olok Lina? Aku fikir tidak ada memang benar dulu ia di jauhi oleh orang lain tetapi semenjak masuk high school dia tidak lagi diperlakukan seperti itu mungkin karena orang-orang yang berada dikalangan itu sudah memiliki fikiran dewasa bukan lagi fikiran anak-anak remaja sekarang yang tak ragu menjadikan seseorang sebagai pelampiasan dan mungkin juga orang-orang yang diterima di sini adalah anak yang punya ahlak baik selain itu latar belakang keluarga mereka adalah orang terpandang, Lina mendapatkan perlakuan spesial dari para sahabatnya, teman kelasnya dan bahkan dari siswa-siswi seangkatan dengannya dia juga sepertinya terkenal dikalangan adik kelasnya setidaknya dia tidak lagi melihat pandangan yang membuat dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri tatapan yang membangkitkan dewa kebencian di hatinya.


“Kenapa kau diam” Pertanyaan dilayangkan Lina secara tiba-tiba pada Cerol yang duduk di hadapannya Cerol terkejut dan langsung menjawab.


“Tidak apa-apa hanya saja aku tidak tahu apa yang harus ku katakan”

__ADS_1


“Kalau begitu terseyumlah untuk ku” Dia terseyum tipis lagi tapi terlihat sangat tenang dan santai senyumannya itu selalu membuat mereka bingung dengan tingkahnya itu mereka tidak tahu apa maksud dari sikap Lina seperti itu, aduh dasar aneh seperti diri ku sih.


“Apa yang kau bicarakan Lina kenapa sikap mu tiba-tiba aneh” Katanya malu-malu.


“Lupakan!” Raut wajah Lina kini berubah seketika menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


Di pandangnya kembali Yumina dan V yang tak berhenti membuat keributan perhatiannya seketika teralih pada jam dinding yang menunjukkan kepulangan mereka harus segerah terjadi untuk itu Lina mengingatkan mereka.


“Apa kalian tidak ingin pulang? Ini sudah larut sebaiknya kalian segerah kembali”


“Tapi kami masih ingin bersama mu” Seru Yumina dengan manja.


“Jangan konyol ini sudah larut malam kalian harus pulang lagi pula besok kita akan bertemu di sekolah”


“Tapi sebelum esok waktu serasa lama sekali” Dengan tatapan dingin Lina dan menyeramkan pula Yumina nampak mengerti jika Lina sedang marah jadi mau tidak mau mereka pulang dengan kekecewaan dan sedikit sedih.


Suasana di rumahnya kembali tenang sebelum ia beristirahat tak lupa ia membasuh wajahnya dan membersikan giginya barulah ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


“Aku perlu hiburan” Ucapnya berbisik.

__ADS_1


__ADS_2