
Seharian dia memasang wajah asam, teman-temannya kebingungan mereka tentu bertanya dalam benak “Ada apa lagi dengan gadis aneh ini?” ucap Cerol.
“Lina ayo kita ke kantin aku menjadi sangat lapar setelah mendengar pelajaran barusan”. Ajak V.
“kaki ku sedang malas berjalan bagaimana kalau kau bawa kantin nya kemari”. Eh? Responnya benar-benar menyebalkan.
“Kau sedang bercanda kan?”.
Mereka benar-benar setia kawan tidak ingin meninggalkan Lina sendirian, mereka memutuskan untuk tetap berada dikelas menemani Lina yang sedang menutup mata alias sedang beristirahat walau teman kelas mereka sudah ke luar menuju ke kantin, jika mereka tidak pergi sekarang maka tidak akan sempat lagi untuk mengisi perut dengan kenyang sebab sudah hampir waktunya masuk kelas, saat keheningan sedang berlangsung tiba-tiba suara gemuruh berbunyi cukup kencang bukan gemuruh karena mau hujan tetapi suara gemuruh perut V yang tak bisa tertahankan lagi.
“Maaf aku benar-benar lapar” dia tersipu malu sambil memegang perutnya.
“Dasar kau ini” Cerol yang terlihat mulai kesal memandang V.
Walau sedang kacau tapi Lina juga masih punya hati dan simpati pada temannya sendiri dengan perlahan dia bangkit berdiri lalu melangkah cepat ke ambang pintu dan berkata.
“Cepat sedikit aku tidak akan menunggu jika kalian tertinggal”. Tanpa pikir banyak mereka segera mengikuti Lina.
Makanan ringan jadi pilihan serta minuman favorit mereka ikut serta bertata rapi di atas meja kantin, V yang kelaparan menyantapnya dengan cepat.
“Hey pelan sedikit makannya tidak ada yang akan mengambil makanan mu”. Ucap Lina.
“Maaf aku lapar sekali”. Ada sisa makanan di sudut bibir V Lina membersihkannya dengan tangannya lalu memasukkan sisa makanan tadi ke dalam mulutnya, V melompat menjauh dari Lina dengan sangat terkejut.
“Lina apa yang kau lakukan?”.
“Apa? Kenapa?”.
“Kau? Tadi kamu”. Lina memutar pandangannya pada cerol dan Yumina dengan wajah dinginnya.
“Ada apa, kalian mau ku bantu juga?”.
“Ti.Tidak, tidak perlu”. Mereka secara bersama-sama menjawab dengan panik namun Lina malah tersenyum mengejek.
__ADS_1
Sebelum pergi berlalu dari mereka bertiga Lina menyuruh mereka kembali ke kelas katanya dia tidak akan mengikuti pelajaran ketika sampai jam terakhir nanti bagaimanapun juga mereka tidak seharusnya selalu mengikutinya, mereka juga akan mendapatkan masalah jika membolos kelas.
“Ada apa dengan Lina? Seharian ini dia bertingkah sangat aneh”. Tanya V pada kedua temannya.
“Bukankah Lina selalu bersikap aneh begitu, dia selalu menolak menceritakan masalahnya pada kita”. Ucap Yumina dengan nada sedih.
“Itu karena kau membangunkannya tadi, apa kau sudah lupa dengan kejadian itu?”. Kata Cerol mengingatkan lagi kepada V.
“Be.Benar juga bagaimana aku bisa lupa”.
Waktu itu mereka baru saja naik kelas dan seperti biasa dia tertidur dikelas dengan pulas nya semuanya baik saja tapi karena kesombongan seorang gadis, suasana kelas menjadi menyeramkan sampai-sampai tak ada yang bisa lupa bagaimana Lina jika sedang marah. Gadis itu mengusiknya entah karena apa tapi dia sengaja membangunkan Lina dengan suara nyaring tapi, Lina tidak merespon tindak si gadis sementara itu murid lain memandangi si gadis dengan pandangan aneh.
“Apa dia sudah gila? Beraninya dia mengganggu Lina seperti itu”. Bisik salah satu siswi dibelakangnya tentu saja hal tersebut semakin membuat sang ketua kelas murka, dia memukul meja Lina cukup keras.
“Bangun dasar pemalas ini bukan kamar mu” Lina membuka mata perlahan ia memandang si gadis.
“Beraninya kau melihat ku begitu cari mati ya?” Lanjutnya sambil menarik kerah baju Lina sehingga wajah mereka menjadi dekat, dengan cepat dicengkeramnya kedua tangan si gadis dengan erat ia menggantungnya di atas kepala karena kesakitan ia tersungkur dihadapan Lina. Mata sang gadis berkaca-kaca, dagunya dipegang dengan kuat agar pandangan matanya hanya berfokus pada Lina.
“Kau!”.
“....”
“Tapi tenang saja aku menyukai wajah menyedihkan mu ini, kau membuat ku jadi bergairah” Sebuah senyum tak menyenangkan terukir disudut bibirnya, dia melepas cengkraman tangannya dari si gadis dan memutar badan.
“Apa yang membuat mu begitu arogan apa karena kau adalah mantan siswi kelas unggulan lalu pindah kemari menjadi ketua kelas? Dasar idiot” Berucap, Lina berlalu begitu saja meninggalkannya yang masih tertunduk.
Begitulah penggalan ceritanya .
Masih berada di kantin duduk diam sembari menunggu makanan tercerna dengan baik sekalian menunggu bel masuk berbunyi.
“Bagaimana dengan Lina?” Tanya Yumina.
“Untuk sementara biarkan dia sendiri pulang sekolah nanti baru pergi melihat keadaannya sekalian mengajak dia pulang, mungkin dia ketiduran lagi” Jawab Cerol.
__ADS_1
Langit senja sebentar lagi menggantikan hari panas menjadi lebih sejuk, kilauan bintang seperti berlian akan segera bertaburan yang tak terhingga di langit malam tapi, itu masih beberapa jam lagi. Sebelum benar terjadi cerol dan kedua temannya terdahulu pergi membeli cemilan di minimarket untuk Lina, mengingat senjak pagi dia belum makan apa-apa.
Di ruangan tenang dan sepi seperti ini menjadi tempat yang jarang didatangi para murid walaupun ada itu karena mereka hanya mengambil beberapa peralatan olahraga yang disimpan di samping perpustakaan lama meskipun begitu, tempat ini adalah tempat yang paling menyenangkan. Ketenangan selalu menaungi melalui hembusan angin yang mampu merasuk jiwa-jiwa resah akan segala macam masalah duniawi, walau tidak ada jenis tanaman yang spesial seperti di komik-komik pada umumnya tapi bagi Lina hembusan angin dan dahan-dahan yang bergoyang dari pohon rindang itu sudah cukup membuat hatinya tenang ditemani oleh buku-buku edisi lama.
Sepertinya Lina tertidur lelap sekali dia tidak menyadari sama sekali jika seseorang telah masuk kedalam ruang perpusatakaan, sempat ia bersuara sekedar mengecek apakah ada orang lain selain dia namun tak ada jawaban sehingga dia berfikir hanya dia seorang, tangannya diletakkan di sudut buku yang bersusun rapi di rak buku sambil berjalan perlahan seperti sedang mencari sesuatu diantara buku-buku yang penuh debu, dengan telaten dia terus mencarinya dan baru menemukan apa yang ia cari setelah beberapa saat kemudian itu pun 3 rak buku ditelusurinya baru dapat di bagian paling atas rak buku ke 4, debu hampir menutupi seluruh permukaan sampul buku dibersikannya dengan lembut menggunakan sapu tangan miliknya takut merusak sampul buku yang terlihat sudah tidak muda lagi. Itu juga yang membuat buku tersebut tidak diletakkan diperpustakaan baru alasan lainnya yaitu buku tersebut jarang sekali dibaca murid, mungkin karena isinya rumit sulit dipahami. Terlalu banyak debu berterbangan menggelitik hidung sehingga bersin-bersin tak dapat tertahankan.
“Buku ini benar-benar berdebu apakah tempat ini tidak pernah dikunjungi?” Katanya sambil mengosok-gosok hidungnya yang baru saja bersin.
Memang benar tempat itu sangat berdebu itu karena beberapa minggu ini tak ada hati untuk membersikan dan merapikan buku-buku hanya Lina dan ketiga temannya yang sering mengerjakan itu semua tapi berhubung suasana hati Lina sedang kacau semua terabaikan begitu saja bahkan dia tidak masuk kerja kemarin, siswa itu merasa tidak nyaman dengan keadaan gelap begini tak baik untuk mata apalagi saat membaca dibukanya semua ventilasi udara satu persatu sehingga cahaya mentari yang masih segar masuk dengan cepat, jendela terakhir dia membuka dengan semangat cahaya langsung mempapar wajahnya.
“Em? Woi siapa yang menginzinkan mu membuka jendela” Lina terbangun karena wajahnya disorot silauannya cahaya sambil menghalangi sorotan tadi dengan tangannya dia terduduk memandang siswa tadi dengan dingin, siswa itu berbalik dengan cepat tentu dia sangat terkejut melihat penampakan di jam 04.12 seperti ini.
“K.kau siapa?” Suaranya sedikit gemetar dengan posisi siaga.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu apa yang kau lakukan disini”
“Kau manusia?”
“Dasar idiot tentu saja aku manusia kau fikir aku hantu yang berkeliaran siang bolong”
“Tapi kenapa kau tidur ditempat seperti ini apa tidak ada tempat lain yang bisa kau tempati? lagi pula ini perpustakaan bisa-bisanya kau tertidur disini jangan-jangan kau bolos sekolah”
“Sudah bicaranya? Kau ini brisik sekali sudah mengganggu tidur ku berani berkomentar pula, apa mungkin kau sedang merencanakan sesuatu”
“Kau!? Apa yang kau bicarakan”
“Aiss sudahlah malas mengurusi mu” Lina pergi meninggalkan siswa tadi.
“Jangan menyesal jika besok kau dipanggil keruang kepala sekolah” Langkah Lina berhenti mendadak dia membalikkan badan memandang siswa itu ternyata setelah dilihat dengan teliti rupanya dia ketua akademi.
“Oh...ternyata kau, jika ingin melaporkan ku silahkan saja. Tenang aku tidak akan mencegah mu” Lina berbalik kembali berlalu darinya.
“Menarik sekali. Jika itu mau mu”
__ADS_1
Reaksinya terlalu berlebihan masalah sepeleh seperti ini harus melibatkan kepala sekolah benar-benar arogan atau mungkin dia tertarik pada Lina?.