Pengawal Gadis Maut

Pengawal Gadis Maut
Terbawa mimpi


__ADS_3

Tanpa fikir panjang lagi Lina nekat memanjat pagar agar dapat keluar dari sekolah dia sadar jika dia tetap di sini berlama-lama pembicaraan ini tidak ada akhirnya.


“Kemanapun kau pergi bagi ku tidak sulit menemukan mu jangan lupa dengan diri ku yang dulu” Lina menjauh darinya tanpa berbalik lagi dan tak mempedulikan apa yang di katakan pria itu.


Lina pulang dengan rasa kesal yang luar biasa sekali lagi dia mengepal kedua tangannya dia sama sekali tak menyangka jika akan bertemu dengan dirinya, setiap kali dia melihat wajah pria itu Lina teringat selalu dengan kehidupannya yang begitu kejam ini benar-benar tak adil baginya di saat dia memulai hidup baru dengan tenang ternyata masih ada duri tersembunyi yang senantiasa melukai dirinya mungkin jika orang lain yang mengalami nasib seperti ini dia sudah mengakhiri hidupnya meninggalkan segala urusan duniawi tapi Lina tak pernah berfikir seperti itu semangat hidupnya masih dia pertahankan karena dia yakin bahwa Tuhan sudah mempersiapkan masa depan cerah baginya, apa yang di alaminya di masa sekarang hanyalah sebuah latihan dan pengalaman untuk menjalani kehidupan keras nantinya dan dia dapat mengatasinya dengan baik serta tenang.


Seperti biasanya dia berjalan di lorong sunyi lampu lorong tak begitu mendukung pasalnya sudah banyak yang mati lantaran tak pernah terjangkau pengawasan petugas jalanan sedangkan separuhnya lagi masih menyala redup, hari ini dia tidak mampir ke rumah orang tuanya dia langsung pulang ke rumah pribadinya ayah angkatnya tak menelpon dia hari ini menanyakan mengapa dia tidak mampir ke rumah itu karena sebelumnya dia sudah mengirimi pesan ayahnya ketika dia berjalan menuju ke gerbang sekolah, sesampainya di rumahnya langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang sambil memejamkan matanya masih ingin bersantai tapi perutnya berteriak MAKAN...memegang perutnya “Lapar” ujarnya datar dia bangkit dan duduk sebentar di lepaskannya almater sekolah yang menempel di badannya di letakkannya begitu saja di sofa begitu pula dengan tasnya, dia bergegas ke dapur merebus mie instan berdiri di samping kompor menunggu airnya mendidih sambil sedikit mie yang belum matang itu di mangkuk dan memasukkannya ke dalam mulut dia terseyum entah apa yang membuatnya terseyum seperti itu senyum seperti orang tak waras, tak menunggu lama air mendidik segerah memasukkan mie setelah matang di angkatnya segerah dari kompor dia menambahkan bawang goreng sebagai pelengkapnya tapi tak pernah memakai bawang putih dan daun bawang sebab dia benci dengan kedua benda tersebut, membuka lemari pendingin mengambil air dingin dalam botol kemudia meletakkan mie bersama air yang di ambil dari tadi di atas meja makan, ah mie rebus malam-malam begini memang pas mengisi perut selain itu badan juga hangat di buatnya, perut sudah lumayan kenyang sehabis makan di cucinya mangkuknya yang kotor itu dan meletakkannya kembali ke tempat asalnya dia juga mengisi kembali botol tadi dengan air minum bukankah sayang bila harus membuangnya dan membeli lagi barunya? Di rapatkannya kembali tutupnya agar tidak mudah tumpah saat di letakkan dalam lemari pendingin, masih belum lengkap jika belum makan buah di raihnya sebuah appel merah tapi sebelum memakannya dia mencuci appel tersebut dengan air bersih baru kemudian di santapnya appel tadi sambil berjalan menuju ke sofa untuk mengambil almater dan tasnya yang ia tinggalkan tadi setelah itu dia lanjut ke kamar untuk bersih-bersih maksud ku mandi.


Di rasakannya kantuk yang semakin membuat kedua matanya tak bisa terbuka sempurnah sipit semakin mengecil pandangannya saat dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur, tambah kecil dan kecil akhirnya tertutup matanya dengan rapat, dia sangat kelelahan hari ini tidur lebih awal dari hari biasanya padahal baru pukul 20.48 dia sudah tertidur pulas tanpa membalut tubuhnya dengan hangatnya selimut.


Waktu menunjukkan pukul 00.00 kini Lina masuk dalam alam bawah sadarnya lagi-lagi dia bermimpi tentang masa lalunya ketika masih bersama teman kecilnya, dalam mimpinya itu mereka sedang bermain ayunan dengan begitu asiknya hanya mereka berdua Lina berayun sangat kencang temannya itu beberapa kali mengingatkan dia jangan terlalu cepat tapi Lina sepertinya tak menghiraukan sama sekali peringatan dari temannya, lantaran ayunan itu sudah usang dan berkarat jadi tidak menutup kemungkinan jika ayunan itu bisa kapan saja patah dan benar adanya rantai ayunan itu mulai menunjukkan tanda peringatan kepada Lina sementara Lina terus mengayun lebih cepat lagi rantai ayunan itu putus membuat Lina melayang tapi untungnya sebelum ia terhempas ke tanah temannya dengan sigap menangkapnya mereka jatuh bersama.


“Kau baik-baik saja Lina?”

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa kau sendiri bagaimana?”


“Em...tak apa, kau terluka tangan mu berdarah ini harus segerah di obati” Di bantunya Lina berdiri dan menggopong Lina masuk dalam rumah.


“Sebaiknya kita ke kamar ku ibu menyimpan kotak obat di kamar” Lanjutnya lagi.


Dalam kamar Lina duduk di pinggiran tempat tidur sambil menunggu temannya membawakan obat luka.


“Bukankah tadi sudah ku katakan pada mu hati-hati bermain ayunan itu sudah tua”


“Coba ku lihat lukanya! Tidak parah hanya luka kecil saja”


Lina tiba-tiba terbangun dari mimpinya keringat bercucuran dari keningnya dia membuka matanya lebar-lebar sambil berusaha mengatur nafasnya, jantungnya berdetak kencang membuat dia terlihat kelelahan seperti sudah lari sejauh 2km dia teregah-egah sangat lelah rasanya padahal dia tidak melakukan apa-apa selain tidur, di topangnya tubuhnya untuk segerah bangun dari tempat tidur dan mencoba menenangkan jantungnya itu mulai mengatur nafas baik lalu beranjak dari kamarnya menuju ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang kering dengan air putih, di tuangnya dengan segerah air putih dari botol yang di ambil dari lemari pendingin masuk ke kerongkongannya setelah di meminum air tadi dia kembali menghembuskan nafas panjang agar lebih terasa nikmatnya minuman dingin tadi sambil mengarahkan pandangannya ke atas, dia menghabiskan air tadi sekitar 10ml apa dia sehaus itu? Entahlah.

__ADS_1


Pukul 1.02 malam itu Lina tak bisa lagi menutup matanya dia sangat gelisah balik kanan kiri terlentang, miring semua dilakukan agar dapat menutup matanya tapi sia-sia saja matanya tetap saja terasa tak mengantuk lagi jika begini terus pastinya dia bisa bangun terlambat dan terlambat ke sekolah besok pagi, diam sejenak tak banyak bergerak lagi dengan posisi miring di tatapnya jendela kamarnya berharap matanya akan merasa mengantuk lagi dan dia dapat tidur, 30 menit berlalu matanya mulai sayup sepertinya cara ini berhasil membuat dia merasa mengantuk hingga akhirnya tertutup sempurnah kedua jendela matanya.


Ring...ring bunyi alaram membangunkan Lina dari tidurnya walau masih dengan mata sayup dia berusaha bangun dan pergi ke kamar mandi dia membasuh wajahnya 2 kali hingga 6 kali dia membasuh wajahnya tapi rasa kantuknya belum pergi juga dari matanya malah membuatnya kembali menutup jendela matanya dengan rapat, plak...tangan kanannya melayang ke pipi kanan memukul agak keras membantu Lina membuka matanya.


“A...sakit” Ucap Lina sambil membuka mata sepenuhnya.


Di ambil juga sikat gigi beserta pasta gigi lalu ia mulai menggosok giginya.


Di bukanya jendela kamarnya lebar-lebar angin pagi langsung menerobos masuk dan merasuk keseluruh tubuhnya, di hirupnya dalam-dalam udara pagi yang begitu menyegarkan itu tapi tentunya terasa sedingin es menusuk pori-pori kulit.


“Dingin” Ucapnya lagi dengan sedikit bergelombang.


Dia selalu bangun pada jam 5.30 itu membantu dirinya bersiap lebih cepat agar tidak terlambat sampai ke sekolah, tinggal sendiri, berjalan sendiri, tidur sendiri, makan sendiri semua dilakukan hanya seorang diri saja tapi dia tak pernah mengeluh ataupun berfikiran aneh-aneh dia menikmati kehidupannya yang sekarang ini tidak ada orang yang akan membuatnya merasa repot hahaha benar-benar dia memang aneh seperti diri ku.

__ADS_1


Di dapur nampak dia sedang membuat sarapan sup hangat menjadi menunya pagi ini dengan segelas kopi susu beserta air putih yang di minumnya terlebih dahulu sebelum memakan supnya lalu meminum kopi susunya dan tidak lupa dengan buah segar pula tertata indah dan lezat di meja dengan senang hati dia mulai menyantap sarapannya, biasanya orang lain akan mandi dulu baru kemudian sarapan tapi dia berbeda makan dulu barulah kemudian mandi dan bersiap-siap ke sekolah.


__ADS_2