
Kembali ke masa lalu sedikit saat Lina masih tinggal dirumah Zoe memang dia pernah mencium Lina dengan alasan dia tidak ingin minum obat jika tidak disuapi oleh Lina tapi dengan cara yang tak biasa, Zoe dulu sangat keras kepala dia bisa melakukan apa saja jika keinginannya tidak dituruti termasuk melukai dirinya sendiri jadi terpaksa Lina melakukannya tidak disangka ada tujuan yang akan berguna dimasa mendatang.
“Apa maksud mu?”
“Tidak perlu buru-buru masih banyak waktu untuk menjelaskannya, aku hanya ingin menikmati semua ini hanya dengan mu saja” Wajah merah seperti apel milik Lina membuatnya tak bisa menahan diri lebih lama lagi hasrat penuh rasa lapar tentu sangat sulit untuk menolak sekali lagi Zoe membasahi pipi Lina dengan lidahnya lalu menancapkan kedua taring tajamnya dileher Lina suara keluhan dan kesakitan terdengar cukup keras.
Rasa khawatir telah memenuhi pikiran ku awalnya hanya mengganggap hal ini sebagai hal yang biasa dan tak ingin mempedulikannya tetapi entah mengapa hati ini tak mau tenang sedikit dia terus bergejolak ingin pulang melihat keadaan, jujur aku sudah merasa nyaman dengan lingkungan baru ku tetapi rumah tetaplah rumah tak bisa digantikan dengan apapun mendengar ada yang mengusik ingin rasanya menyusun para anjing terbaik didepan rumah agar tak ada yang berani mengganggu ketenangan. Akhirnya ku putuskan juga untuk kembali ke kastil tapi tak ada niat untuk berlama-lama hanya melihat keadaan lalu kembali begitu rencananya. Setelah sekian lama aku kembali lagi menginjakkan kaki di kastil sudah lama senjak terakhir kali melihat dan merasakan suasana sepi, gelap, dingin juga kelam rasanya agak sedikit aneh mungkin karena sudah terbiasa dengan hangatnya rumah yang penuh kegirangan dan keakraban keluarga Ray sedikit ragu melangkah masuk kaki ku terpaku mata ku terbelalak kaget melihat para penghuni setia kastil berbaris rapi disebelah kiri dan kanan ketika pintu utama terbuka dengan perlahan.
“Selamat datang kembali nona” Ucap mereka hampir bersamaan sambil membungkukkan badan, langkah pertama semenjak berbalik belakang melangkahkan langkah pertama meninggalkan kastil.
“Rupanya kalian sudah tahu aku pulang malam ini”
“Tentu saja nona kami selalu menunggu kepulangan anda”. Ucap Taein.
Ku dekati Tain yang berdiri paling awal dengan langkah perlahan dan memandangnya tanpa ekspresi wajah dingin seperti biasa, wajahnya ku elus dengan lembut tanpa adanya penolakan darinya.
“Kau terlihat semakin kurus apa selama ini kau bekerja keras kau terlalu memaksakan diri mu hingga lupa waktu untuk makan, jika begini terus bagaimana kau akan memberi ku makan dan melindungi kastil?”
“Maaf nona saya akan lebih memperhatikannya”
“Itu memang sudah seharusnya. Lapar” Dengan ekspresi yang sama ku berlalu dari mereka menuju ke ruang baca.
Seperti biasa di sana adalah tempat ku bersantai ria menunggu kedatangan mereka sambil menutup mata menyandarkan bahu ke pelukan sofa, sepertinya mereka tak bisa membuat ku menunggu lama dengan perlahan Tain menaruh gelas di atas meja.
“Mengapa kalian selalu memberi ku jus stoberi aku sudah bosan” Ucap ku datar.
__ADS_1
“Bukankah ini minuman yang anda sukai nona?” Tiba-tiba saja perasan ku tidak nyaman seperti ada sesuatu yang memberontak dengan cepat menutupi mulut dengan tangan dan segerah memalingkan wajah dari mereka, corak retina mata mulai berubah.
“Nona apa anda sudah sangat lapar hingga tak bisa lagi mengendalikan emosi anda, jika anda menahannya terus menerus mungkin akan bertambah parah” Mungkin ada benarnya juga dia bilang begitu tapi apa aku terlihat rendah akan itu.
“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Ku raih tanggannya dan mulai mencium aroma manis miliknya dibalik kulit mulusnya, dia berjalan mendekat dan jongkok untuk menyamai pandangan ku dengannya salah satu tangannya mengelus pipi ku dan berkata.
“Apapun yang anda butuhkan saya selalu siap”
Entah aku sudah gila atau apalah itu seperti bukan diri ku lagi aku jadi curiga jangan-jangan aku kesurupan eh? Mana ada vampire kesurupan. Jangan tanya lagi apa yang ku lakukan layaknya seperti binatang buas yang sudah kelaparan berminggu mendapat makanan yang paling lezat, semua vampire sebelum menyantap mereka memberikan rangsangan terhadap mangsanya sekaligus mencicipinya terlebih dahulu menjilat kulit putih pucatnya tepat dileher lalu menikmatinya.
“Emmm...” Suaranya terdengar kesakitan apa mungkin aku terlalu berlebihan?.
“Terakhir kali tidak sesakit ini apa karena naluri nona mulai bangkit” Ujarnya dalam benak.
“Sudah cukup! Dia bisa mati” Untung saja Nhean datang segerah menghentikan ku mulut penuh dengan noda darah yang berceceran tapi masih belum puas sedangkan Tain terkapar tak berdaya di lantai, corak mata masih berapi-api memandang Nhean.
“Lapar...” Ucap ku datar, rasa lapar membuat ku tak bisa mengontrol semuanya kesadaran ku hilang entah kemana jauh dari kata puas, tangan Nhean ku raih lalu tubuhnya ku hempaskan ke sofa dia terbaring sambil memandang ku tanpa ekspresi, seperti yang ku katakan sebelum memangsa makanan rangsangan sangat perlu agar mereka tenang dan tak menolak, leher dipembuluh darah memang sangat banyak sangat menggoda dengan aroma manis yang kental seperti dimabuk obat terlarang.
Semuanya terjadi malam itu ini kedua kalinya perasaan ku tak dapat terkendali rasa bersalah dan menyesal berkabung dihati tetapi lapar yang tak pernah berakhir mengalahkan segalanya, akal sehat tak dibutuhkan lagi sungguh kenikmatan sesaat tak dapat ditolak.
Aroma masakan tercium menggoda perut lapar ketika hidung Lina mengendus, benar! tidak ada yang lebih nikmat mencium aroma makanan dipagi hari mata terbuka lebar yang tadinya masih ngantuk lansung bersemangat menopang badan dari kasur mencari asal aroma lezat yang tak salah lagi datang dari dapur Lina sendiri, dengan langkah seribu dia menegok lapur dan benar saja semua aroma lezat itu berasal dari dapurnya, Yumina dan Cerol sedang memasak sedangkan V sibuk mempersiapkan peralatan makan sungguh teman yang baik.
“Apa yang kalian lakukan?” Dengan keadaan berantakan Lina berdiri didepan pintu sambil memandangi teman-temannya.
“Oh? Lina kau sudah bangun” Tanya Yumina.
__ADS_1
Melihat penampilan Lina saat ini tidak mungkin membuat mereka tidak tertawa.
“Ada apa dengan mu kau seperti keluar dari hutan” Ucap V sambil menahan tawa.
“Benarkah? Aku akan bersiap dulu” Dia segerah berlari kekamar mandi.
Hari ini libur sekolah, eh!? Pantas saja Lina mengajak mereka nginap dirumahnya. Lina makan dengan lahap eis sepertinya dia sangat kelaparan, mereka makan sambil ngobrol.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” V mengangkat pembicaraan dahulu.
“Bagaimana jika kita pergi ketaman mereka mengadakan sebuah perayaan, pasti sangat banyak permainan yang dapat kita mainkan, lagi pula ini hari libur ayo kita habiskan seharian penuh untuk bermain bagaimana menurut kalian?” Usul Yumina.
“Em...setuju, kalian berdua bagaimana sungguh disayangkan jika tidak pergi karna akan banyak gadis-gadis manis di sana”
“Kau ini masih sempat memikirkan hal semacam itu” Yumina memukul pelan kepala V.
“Memangnya salah? sudah saatnya untuk seorang pakar cinta beraksi”
“Pakar cinta? Memangnya kau sudah berhasil mencapai target mu” V melirik Lina yang sedang menikmati makanannya sedangkan Cerol yang duduk berhadapan dengan V agak risih melihat tatapan V pada Lina, cinta yang rumit kufikir.
“Lina bagaimana dengan mu apa kau tidak apa-apa jika pergi ketempat ramai seperti itu” Tanya Yumina.
“Biarpun aku ini agak pendiam tapi aku juga sudah biasa berbaur dengan keadaan seperti itu”
“Eh? Apanya yang agak tidak ada yang lebih pendiam dari pada dirimu” Ucap mereka bertiga dalam hati.
__ADS_1