
Jika kalian bertanya bagaimana kelanjutan dari kisah ku bersama dengan mereka di kastil maka maaf aku belum bisa menceritakannya ini terlalu sulit untuk ku jelaskan, banyak hal-hal yang belum bisa ku ungkapkan hanya dengan menyusun kalimat rapi agar dapat di mengerti bagaimana perasaan ku saat ini jadi akan ku lanjutkan saja dengan kisah Lina dan sahabatnya dahulu mungkin jika aku siap akan ku perjelas kembali kisah ku sendiri.
seperti biasa pagi ini Lina berangkat ke sekolah berjalan kaki sendirian hanya di temani bayangannya tak jarang dia berkata “Mengapa kau terus saja mengikuti ku ke manapun aku pergi apa kau tidak bosan? Dasar bayangan ku yang payah” begitu ucapnya dalam batinnya sambil menoleh melihat bayangan dirinya yang berwarna hitam gelap, lorong yang biasa dia lewati memang selalu sepi suara dengkuran kucing jalan yang menjadikan lorong ini sedikit memberikan kepastian jika masih ada makhluk yang tinggal di sini, entah mengapa seperti itu atau mungkin karena orang-orang yang tinggal di wilayah itu mempunyai kesibukan yang luar biasa padatnya jadi tak pernah terlihat satu paras tapi tak apalah bagi Lina itu sudah biasa suasana sepi seperti ini yang penting bisa sampai di sekolah dengan cepat dan aman, biasanya dia berjalan dengan cepat tapi pagi ini dia berjalan santai alasannya karena dia tahu jika berjalan seperti itu tak akan membuatnya terlambat sebab dia berangkat lebih cepat di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya oh ya bicara soal kebiasaannya berjalan dengan cepat Yumina biasa di buat sedikit risih dan kesal dia berjalan begitu cepat hingga meninggalkan Yumina di belakang sering pula tak sengaja Yumina menahan tangan Lina saat berjalan bersamanya kerena alasan itu kata Yumina “Jangan berjalan seperti itu kau tidak sedang di kejar” Lina hanya tersenyum mendengar perkataan Yumina dan mencoba menyamakan langkahnya dengan Yumina mereka berjalan dengan perlahan dan santai. Lina menikmati suasana pagi ini selalu ada sebungkus roti di sakunya sengaja di bawah dia akan memberikannya pada sesosok makhluk besar berbulu yang di beri sebutan pussy tak dapat Lina melihatnya dengan jelas sebab dia membelakangi matahari pagi jadi sosoknya gelap, suaranya kini bergema nyaring di gendang telinga tepat berada di atas kepala makhluk itu sedang menggaung manja seakan dia tahu Lina membawa sebungkus roti di sakunya, perlahan dia bangkit memperlihatkan tubuhnya yang gemuk meregangkan badan lalu melompat turun dari pinggiran tembok dia berdiri di depan Lina mereka saling menatap perlahan di dekatinya Lina tersenyum Lina melihat tingkahnya yang selalu berhasil membuat Lina merasa gemas, memang patut Lina merasa gemas padanya itu karena dia kucing yang manis warna matanya begitu memikat tak seperti kucing jalanan dia tak layak di katakan sebagai kucing jalanan malahan dia lebih pantas di sebut sebagai kucing rumahan yang pemiliknya orang kaya, bulunya bersih terawat juga badannya gemuk sehat sepertinya dia suka makan tapi jika memang dia kucing rumahan lalu mengapa dia tidur di lorong tak layak huni seperti ini? Ataukah dia adalah kucing dari seseorang tapi dia lari dari rumah majikannya dan lebih memilih tinggal dia jalan mungkin dengan begitu dia merasa bebas, em...entahlah. Tanpa basa-basi lagi di berikan nya roti itu padanya kucing itu langsung pergi meninggalkan Lina dia berlari memanjat tembok dan melompat ke tembok lainnya Lina tak tahu pasti ke mana selama ini dia pergi membawa roti yang di berikan nya, melihat kucing itu pergi Lina melanjutkan kembali langkahnya menuju sekolah.
Sekolah mulai ramai saat Lina sampai di sana tapi belum ia lihat para sahabatnya datang dia memutuskan untuk segera ke kelasnya namun langkahnya kembali terhenti ketika kejadian kemarin terlintas lagi di benaknya saat Lina berada di kelas sendirian lalu siswa itu datang dan merusak suasana hatinya Lina berfikir lagi jika dia pergi ke perpustakaan sahabatnya akan menemukan dia dengan mudah akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantin menyantap beberapa makanan ringan dan jus jeruk kesukaannya sembari menunggu bel berbunyi untuk memulai kelas, kelasnya ramai sudah banyak yang datang V Cerol dan Yumina juga sudah berada di kelas menunggu bel seperti yang di duga sebelumnya mereka pergi sibuk mencari Lina tempat mereka biasa berkumpul adalah tempat pertama yang di datanginya tapi tak di temukan nya Lina mereka juga pergi ke kelas musik tapi tak ada juga Lina di sana, selain tempat itu tidak ada lagi tempat yang mereka ketahui yang biasa Lina kunjungi lelah mencari ke mana-mana mereka bertiga kembali ke kelas memutuskan menunggu Lina di sana, waktu sebentar lagi menunjukkan bel akan segera berbunyi tapi Lina belum juga muncul dia masih menikmati asiknya di kantin Lina melirik jam dinding yang terpajang tinggi di dinding kantin segera ia bangkit meninggalkan segala aktifitasnya dan mempercepat langkahnya seperti biasa menuju ke kelas, detik-detik terakhir dia muncul saat kelas akan di mulai melihat itu mereka bertiga menghela nafas lega Lina langsung menuju ke tempat duduknya yang berada di paling pojok belakang.
Pelajaran pertama usai sudah mereka jadi punya waktu mengobrol sedikit sembari menunggu jam kedua di mulai yang tinggal beberapa menit lagi, V yang duduk di samping kanan Lina menanyakan keberadaan Lina tadi pagi saat dia hendak menjawab guru mereka Tiba-tiba masuk jadinya Lina tak sempat berucap.
Kelas akhirnya berakhir juga sekarang saatnya jam istirahat satu persatu murid kelas 3b keluar meninggalkan dudukan mereka dan pergi ke tempat yang mereka inginkan, kini tersisa mereka berempat di kelas kelihatannya V tidak merasa tenang karena belum mendapatkan jawaban Lina sehingga dia menanyakannya lagi untuk yang kedua kalinya.
“Kemana saja kau tadi pagi kami mencari mu ke tempat yang biasa kau datangi tapi kau tidak ada” Sambil melihat Lina dari dekat layaknya seperti seorang detektif yang sedang melontarkan sebuah pertanyaan pada narasumbernya.
“Lapar” Ucapnya datar sambil mengusap-usap perutnya dia melirik V dengan tatapan datar pula, Lina bangkit dari dudukannya dan dia berlalu dari pandangan mereka bertiga tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia memberikan jawaban yang salah pada V.
“Tunggu Lina!!!” Teriak V.
Cerol ikut berlalu dari V dan Yumina dia mengikuti Lina dari belakang segerah pula Yumina ikut serta mengikuti Cerol.
__ADS_1
“Astaga ada apa dengan mereka?” V sedikit kesal tapi ujungnya dia menyusul teman-temannya.
Nampak mereka sedang makan di kantin, mereka terdiam satu sama lain tak ada dari mereka yang berniat mengucapkan sepatah kata menikmati hidangan yang berada di depan mereka masing-masing hingga tersantap habis makanan mereka, Lina kembali berlalu dari mereka dengan cepat tanpa berkata apa-apa itu sudah kebiasaan Lina bergerak secara tiba-tiba yang biasa mengagetkan mereka.
“Sekarang dia mau ke mana lagi?” Kata V yang semakin kesal saja di buatnya.
“Apa sebaiknya kita mengikutinya?” Tanya Yumina.
“Em...” Angguk Cerol, mereka bergegas mengikuti Lina temannya yang aneh itu.
“Lina!” Ucap Yumina dengan nada sedih, Lina terdiam.
“Ada apa dengan mu kau bertingkah seolah tak mengenal kami, kami benar-benar bingung karena mu” Tanya V.
“Maaf jika kalian merasa begitu hanya saja aku perlu waktu untuk sendirian, hanya menenangkan pikiran ku”
“Apa kau sudah lupa dengan kami?” Ucap Yumina lagi, Lina dia tersenyum dan berkata.
__ADS_1
“Mana mungkin aku melupakan kalian, bagi ku kalian semua sangat berharga senjak aku bertemu kalian aku jadi tahu bagaimana rasanya mempunyai seorang teman yang selalu memperhatikan ku, khawatir pada ku dan mengganggap ku sebagai sodara nya sendiri bahkan lebih dari itu jadi aku mohon jangan berfikir seperti itu lagi itu membuat ku merasa kesal rasanya seperti ingin menggila sampai-sampai membuat ku ingin mengakhiri hidup dengan cepat”
“Lina?!” Mereka terkejut sekaligus merasa sangat sedih mereka ikut merasakan kesedihan yang menyelimutinya sekarang, Yumina memeluknya dari belakang sambil menyebut nama Lina.
“Jangan sedih bila aku menghilang anggap saja kita tak pernah bertemu sebelumnya anggap aku tak pernah ada di dunia kalian, aku juga akan ikut sedih jika kalian bersedih”
“Hentikan kami tidak ingin mendengarnya lagi, bagaimana kau bisa berfikir seperti itu sementara kami di sini selalu berharap kau tetap bersama kami bukankah kau bilang sendiri jika kami berharga bagi mu lalu mengapa sekarang kau mengatakan hal konyol seperti itu?, apa selama ini di mata mu kami tak punya arti apa-apa?. Semua yang kami lakukan apa itu tak cukup untuk membuktikan jika kami tulus berteman dengan mu?. Aku tidak mengerti” Sepertinya V terlalu terbawa emosi dia bernada agak tinggi kepada ku dia mengepal kedua tangannya.
“Kalian terlalu serius menanggapi ucapan ku jika begini terus kalian akan berada dalam bahaya”
“Kami tak peduli itu” Lina melepaskan pelukan dari Yumina dan berbalik melihat mereka bertiga.
“Bukan dari orang lain bahaya itu muncul tapi dari ku sendiri, jika kalian seperti ini terus aku tak akan membiarkan kalian lepas dari ku memaksa kalian tetap berada di sisi ku, aku kan menghancurkan kehidupan kalian dan mungkin saja tak membiarkan kalian hidup bersama orang lain, apa kalian mengerti itu aku berbahaya bagi kalian, jadi tolong aku mohon pada kalian mulai saat ini mulailah tidak peduli pada ku dan akhirnya kalian akan melupakan ku”.
“Inikah balasan dari mu?” Ujar V lagi.
“Baiklah jika itu mau kalian akan ku buat kalian membenci ku dengan cara ku sendiri lagi pula banyak hal yang kalian tidak ketahui tentang diri ku yang mempunyai hubungan dengan peristiwa penting yang pernah kalian alami dalam keluarga kalian, peristiwa yang tak akan pernah kalian lupa sampai saat ini itu akan membuka mata kalian dengan siapa kalian berteman. Andai saja aku tidak pernah bertemu kalian” Setelah mengatakan itu Lina berlalu dari mereka dia masuk ke dalam perpustakaan dan mengunci dirinya di sana.
__ADS_1